Setelah Membaca Opini dari Berbagai Madzhab Pemikiran dalam Blog Ini Saya Harap wawasan anda bertambah jika memang otak anda tidak bisa tercuci
Jumat, 23 April 2010
Kamis, 22 April 2010
Politik Kabur Air
Investasi Rp 10.000 Triliun dan Mencintai dan Memuliakan Bumi
Jumat, 23 April 2010 | 03:51 WIB
Investasi Rp 10.000 Triliun
Bukanlah angka kecil, dan sudah pasti diperlukan kerja ekstra keras dengan program yang jelas, untuk mendapatkan dana investasi Rp 10.000 triliun.
Keperluan dana untuk lima tahun ke depan itu, menurut pemerintah, untuk menopang pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 7-7,7 persen pada tahun 2014.
Kita apresiasi target pemerintah yang boleh dikata ambisius itu. Ambisi positif perlu karena dapat memacu adrenalin kita menciptakan lompatan besar apabila disertai juga dengan kerja keras, ulet, dan cerdas.
Investasi Rp 10.000 Triliun
Keperluan dana untuk lima tahun ke depan itu, menurut pemerintah, untuk menopang pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 7-7,7 persen pada tahun 2014.
Kita apresiasi target pemerintah yang boleh dikata ambisius itu. Ambisi positif perlu karena dapat memacu adrenalin kita menciptakan lompatan besar apabila disertai juga dengan kerja keras, ulet, dan cerdas.
Selasa, 13 April 2010
Potret Gemilang Islam di Era Abbasiyah
Rabu, 07 April 2010, 22:35 WIB
ilustrasi
Tak hanya terobosan dalam tata pemerintahan, pada masa Abbasiyah, tradisi keilmuan berkembang pula. Salah satu yang terlihat jelas adalah metode penulisan sejarah. Philip K Hitti dalam History of the Arabs menyatakan, pada masa Abbasiyah, metode penulisan sejarah telah matang untuk melahirkan karya sejarah formal.
Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.
Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian.
Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.
Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi.
Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.
Metode yang Al Mas’udi gunakan tidak seperti metode yang digunakan sejarawan ternama, Al Thabari, yang dalam menyusun karya sejarah berdasarkan tahun kejadian. Dalam menulis, ia mengelompokkan berbagai peristiwa sejarah berdasarkan dinasti, raja, serta masyarakatnya.
Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar. Pada dekade terakhir kehidupannya, Al Mas’udi berada di Suriah dan Mesir untuk menulis 30 jilid buku yang berjudul Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Ini karya geografis bergaya ensiklopedia.
Pada bagian awal karyanya, Al Mas’udi mengatakan daerah-daerah yang tandus pada mulanya adalah lautan dan daerah yang sekarang lautan pada mulanya adalah daerah tandus. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena kekuatan alam. Sedangkan dalam karyanya yang berjudul Al Tanbih wa Al Isyraf, Al Mas’udi mengungkapkan pemikirannya tentang filsafat sejarah dan alam. Ia juga mengutip sejumlah pendapat ahli filsafat pada masa itu.
Pada masa sebelumnya, penulisan sejarah dilakukan berdasarkan legenda dan anekdot pada masa pra-Islam. Pun, didasarkan pada tradisi keagamaan yang berkisar pada nama dan kehidupan Nabi. Namun, saat Dinasti Abbasiyah berkuasa, penulisan sejarah mengalami kemajuan. Penulisan dilekatkan pada legenda, tradisi, biografi, geneologi, dan narasi.
Sejarah juga diriwayatkan melalui penuturan para saksi atau orang yang sezaman dengan penulis. Ini dilakukan melalui sejumlah mata rantai para saksi sejarah. Metode ini dinilai telah menjamin keakuratan data bahkan hingga penanggalan kejadian, meliputi bulan dan hari kejadian.
Sejarawan formal pertama pada masa itu adalah Ibn Qutaybah yang bernama lengkap Muhammad ibn Muslim Al Dinawari. Ibn Qutaybah meninggal dunia di Baghdad pada 889 Masehi setelah menuntaskan penulisan bukunya, Kitab Al Maarif atau Buku Pengetahuan.
Sejarawan ternama lainnya yang sezaman dengannya adalah Abu Hanifah Ahmad ibn Dawud Al Dinawari. Ia tinggal di Isfahan. Karya utama Al Dinawari adalah Al Akhbar Al Thiwal (Cerita Panjang), yang merupakan sejarah dunia dari sudut pandang Persia. Di kemudian hari, muncul nama Abu Al Hasan Ali Al Mas’udi.
Di kalangan sejarawan Muslim, ia mendapat julukan Herodotus bangsa Arab. Sebab, Al Mas’udi dianggap sekelas dengan sejarawan Yunani, Herodotus yang hidup pada abad ke-5 Masehi. Al Mas’udi oleh para pemikir dianggap telah memprakarsai metode tematis dalam penulisan karya-karya sejarah.
Metode yang Al Mas’udi gunakan tidak seperti metode yang digunakan sejarawan ternama, Al Thabari, yang dalam menyusun karya sejarah berdasarkan tahun kejadian. Dalam menulis, ia mengelompokkan berbagai peristiwa sejarah berdasarkan dinasti, raja, serta masyarakatnya.
Metode tersebut kemudian diikuti oleh para ahli sejarah lain, seperti Ibn Khaldun. Al Mas’udi juga merupakan orang yang pertama kali menggunakan anekdot-anekdot sejarah. Ia berkelana mencari ilmu hingga ke Baghdad, Asia, dan Zanzibar. Pada dekade terakhir kehidupannya, Al Mas’udi berada di Suriah dan Mesir untuk menulis 30 jilid buku yang berjudul Muruj al Dzahab wa Ma’adin al Jawhar (Padang Emas dan Tambang Batu Mulia). Ini karya geografis bergaya ensiklopedia.
Pada bagian awal karyanya, Al Mas’udi mengatakan daerah-daerah yang tandus pada mulanya adalah lautan dan daerah yang sekarang lautan pada mulanya adalah daerah tandus. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena kekuatan alam. Sedangkan dalam karyanya yang berjudul Al Tanbih wa Al Isyraf, Al Mas’udi mengungkapkan pemikirannya tentang filsafat sejarah dan alam. Ia juga mengutip sejumlah pendapat ahli filsafat pada masa itu.
Mengenal Warisan Islam di Kota Madrid
Jumat, 09 April 2010, 22:54 WIB
Semula, Madrid bernama Madjrit. Nama ini disematkan oleh umat Islam pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah. Merujuk pada Oliver Asin, seorang sejarawan, Madjrit ini pada mulanya adalah sebuah kota kecil di perbatasan yang didirikan oleh Dinasti Umayyah pada abad ke-9.
Dalam bibliografi karya Ibnu Hayyan, disebutkan kebanyakan yang menjadi gubernur Kota Madrid pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah adalah anggota keluarga Bani Salim dari Berber. Al-Himrayi mengatakan, pada saat itu Madrid juga memiliki sebuah benteng. Ia mengatakan, benteng ini dibangun oleh Amir Umayyah dari Cordoba bernama Muhammad I yang berkuasa antara tahun 852 hingga 886 Masehi.
Benteng itu sangat kuat dan tak mudah ditembus musuh. Saat itu, Madrid hanya sebuah kota kecil, namun memiliki kegiatan ekonomi yang cukup bagus. Misalnya, ada industri pembuatan sepatu bersol gabus, yang semula dikembangkan oleh orang-orang Romawi. Juga industri kayu ek.
Di bawah pemerintahan Islam, teknik pembuatan sepatu bersol gabus diintensifkan dan didiversifikasi sehingga sepatu bersol gabus menjadi hal umum di Spanyol. Bahkan pada masa itu, sepatu bersol gabus merupakan komoditas pokok ekspor.
Warisan lain umat Islam di Kota Madrid adalah penggunaan qanat, yaitu terowongan bawah tanah yang digunakan untuk tujuan irigasi. Di sana, juga dibangun sistem penyedia an air untuk seluruh wilayah kota tersebut.
Meski pernah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tak banyak lagi karya-karya ilmu pengetahuan karena banyak yang hancur akibat peperangan. Saat Philip II pada abad ke-16 mendirikan perpustakaan Escorial, ia tak banyak menemukan buku berbahasa Arab. Di Escorial, yang kemudian menjadi perpustakaan terbesar di Spanyol pada abad ke-17, hanya 4.000 judul buku Islam yang masih selamat dari penghancuran buku terburuk dalam sejarah Spanyol.
Red: irfDalam bibliografi karya Ibnu Hayyan, disebutkan kebanyakan yang menjadi gubernur Kota Madrid pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah adalah anggota keluarga Bani Salim dari Berber. Al-Himrayi mengatakan, pada saat itu Madrid juga memiliki sebuah benteng. Ia mengatakan, benteng ini dibangun oleh Amir Umayyah dari Cordoba bernama Muhammad I yang berkuasa antara tahun 852 hingga 886 Masehi.
Benteng itu sangat kuat dan tak mudah ditembus musuh. Saat itu, Madrid hanya sebuah kota kecil, namun memiliki kegiatan ekonomi yang cukup bagus. Misalnya, ada industri pembuatan sepatu bersol gabus, yang semula dikembangkan oleh orang-orang Romawi. Juga industri kayu ek.
Di bawah pemerintahan Islam, teknik pembuatan sepatu bersol gabus diintensifkan dan didiversifikasi sehingga sepatu bersol gabus menjadi hal umum di Spanyol. Bahkan pada masa itu, sepatu bersol gabus merupakan komoditas pokok ekspor.
Warisan lain umat Islam di Kota Madrid adalah penggunaan qanat, yaitu terowongan bawah tanah yang digunakan untuk tujuan irigasi. Di sana, juga dibangun sistem penyedia an air untuk seluruh wilayah kota tersebut.
Meski pernah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tak banyak lagi karya-karya ilmu pengetahuan karena banyak yang hancur akibat peperangan. Saat Philip II pada abad ke-16 mendirikan perpustakaan Escorial, ia tak banyak menemukan buku berbahasa Arab. Di Escorial, yang kemudian menjadi perpustakaan terbesar di Spanyol pada abad ke-17, hanya 4.000 judul buku Islam yang masih selamat dari penghancuran buku terburuk dalam sejarah Spanyol.
Rep: dyah ratna meta novi Link
Senin, 12 April 2010
Belajar dari Hakim Plana
Jum'at, 09 April 2010
Oleh Hermanto Rohman
PADA 1982, Presiden Nigeria Shehu Shagari, sebelum digulingkan oleh kudeta militer, pernah menyampaikan keluhannya, ''Hal yang paling merisaukan saya lebih dari apa pun adalah kemerosotan akhlak negeri kami, yaitu masalah suap, korupsi, kurangnya ketaatan akan tugas, ketidakjujuran, dan segala cacat semacam itu".
Apa yang disampaikan presiden Nigeria itu, tampaknya, menjadi fenomena yang telah terjadi di negeri ini. Meskipun sang presiden kita belum pernah mengeluhkan itu, publik sudah pasti akan mengeluhkan.
Belum tuntas satu persoalan drama Century, publik sudah dihadapkan lagi dengan persoalan korupsi yang dimulai dari unek-unek Susno Duadji. Kesaksian Susno itu kemudian mengagetkan publik dengan menyeret nama pegawai Direktorat Jenderal Pajak PNS Golongan IIIA bernama Gayus Tambunan. Tidak tanggung-tanggung, pengembangan kasus itu menyeret tiga institusi sekaligus yang menjadi objek sasaran kemarahan publik, yaitu kepolisian, kejaksaan, dan tentunya Direktorat Jenderal Pajak.
***
Berbicara tentang kasus korupsi dalam sistem perpajakan, mungkin kita perlu belajar bagaimana kasus tersebut pernah terjadi juga di negara lain seperti di Filipina pada 1975. Meskipun saat itu Filipina dipimpin oleh rezim yang korup (rezim Marcos), Marcos mampu menarik simpati publik dengan melakukan pembenahan atas kasus korupsi di Beureu Internal Revenue (BIR) atau Departemen Keuangannya Filipina. Salah satu gebrakan yang muncul adalah pengangkatan Hakim Efren Plana untuk memimpin sekaligus memerangi korupsi di tubuh BIR.
Perang terhadap korupsi di BIR yang pertama-tama dilakukan Plana adalah mengidentifikasi atau mengurai bentuk praktik-praktik korupsi yang ada. Plana kemudian menyimpulkan bahwa korupsi di BIR dibagi dua kelompok besar.
Pertama, korupsi eksternal. Dalam kelompok itu, dikenal bentuk korupsi seperti praktik lagay (uang pelicin), yakni pembayaran oleh wajib pajak karena merasa diberi kemudahan. Padahal, seharusnya kemudahan itu diberikan secara gratis. Praktik pemerasan, yakni si penilai (petugas pajak) mengancam wajib pajak dengan angka yang lebih tinggi. Di sini terjadi praktik arreglo, yakni petugas pajak dan wajib pajak berkolusi untuk menurunkan kewajiban pajaknya.
Kedua, korupsi internal. Dalam kelompok ini, bentuk korupsinya seperti penggelapan, penipuan, menunda setoran, dan korupsi penyidikan-penyidikan internal. Dalam hal itu, pegawai pajak melakukan praktik dengan mengambangkan jumlah pajak WP (wajib pajak) yang seharusnya dibayar. Ini dilakukan demi kepentingan si petugas pajak dan juga untuk WP.
Setelah mengidentifikasi bentuk praktik korupsi di BIR, Plana menerapkan strategi kebijakan untuk perbaikan. Yaitu, pertama, memprofesionalkan kinerja BIR. Salah satu di antaranya, hanya mengangkat lulusan terbaik untuk akuntan publik atau sarjana hukum yang layak untuk menjadi juru taksir pajak. Selain itu, merasionalisasi kenaikan pangkat dan mutasi pegawai.
Kedua, mengidentifikasi pembayar pajak yang diduga korup. Dalam hal ini, dirancang dan dilembagakan ''program audit mutu terpilih'' di dalam BIR. Plana juga menerapkan kebijakan bahwa Komisi Filipina (semacam BPK) diperbolehkan mengaudit atau mengawasi penyetoran hasil pajak.
Ketiga, memperketat sistem kontrol berkenaan dengan segala prosedur administrasi perpajakan. Untuk mendukung hal ini, salah satu di antaranya adalah membenahi undang-undang perpajakan, terutama antisipasi terhadap celah untuk melakukan praktik arreglos dan penghindaran pajak. Selain itu, Plana menerapkan penggiliran kepada pegawai pajak di lapangan dengan maksud untuk menghindari praktik hubungan pribadi yang tidak terpuji dengan wajib pajak.
Itulah bentuk gebarakan kebijakan yang dilakukan Plana. Selain itu, Plana mencontohkan kepribadiannya sebagai figur yang jujur. Dia menolak hadiah-hadiah yang sekecil apa pun dari pihak luar. Gebrakan Plana itu mampu mengurangi praktik lagay dan areglo serta menjadikan pegawai BIR yang profesional.
Keberhasilan gebrakan Plana tersebut bisa menyeret oknum-oknum perpajakan, seperti Cruz, pegawai pajak kaya raya yang dikenal dengan gaya hidupnya yang mewah. Dari data yang didapat, Cruz ternyata sering melakukan praktik perampingan kepada para wajib pajak. Dari pajak 12 peso, dia hanya menyerahkan 9 peso kepada pemerintah.
Kemudian, Louro yang seorang pemuda petugas pajak di Provinsi Luzon menyerahkan bukti-bukti penerimaan pajak palsu kepada BIR. Demikian juga, Reyes dan Santos, pengawas pajak pada BIR, melakukan penelitian yang kemudian menemukan bukti kurang bayar pajak atas wajib pajak, tapi kedua pemuda itu tidak melaporkan kepada BIR dengan imbalan tutup mulut 1 juta peso.
***
Belajar dari perang terhadap korupsi pajak di negeri Filipina yang dilakukan seorang hakim Plana tentunya diharapkan bisa diterapkan di Indonesia. Namun, yang berbeda dari Phlipina adalah oknum-oknum pajak bisa disingkap setelah gebrakan Plana. ****** Sedangkan di Indonesia, justru dari pihak lain di luar institusi pajak itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian, apakah Sri Mulyani yang diharapkan sebagai ''sosok Plana'' di Indonesia memang sudah menerapakan sebagian apa yang sudah dilakukan Plana di Philipina? Apakah gebrakan Sri Mulyani yang dulu dikenal dengan program reformasi birokrasi perpajakannya bisa membersihkan Direktorat Jenderal Pajak dari oknum-oknum pajak atau ''Gayus-Gayus'' lain yang tidak mustahil masih ada? Tentunya publik saat ini berharap besar dan masih menunggu hasilnya. (*)
*). Hermanto Rohman, dosen FISIP Universitas Jember
Langganan:
Postingan (Atom)