Selasa, 09 November 2010 00:01 WIB
Oleh Halmar Halide, Guru Besar Hidrometeorologi, Jurusan Fisika FMIPA Unhas
Tamu yang tak diharapkan ini kembali lagi berkunjung ke Tanah Air kita. Namun, berbeda halnya ketika ia mampir di Aceh pada pagi hari bulan Desember tahun 2004 atau saat ia berkunjung di Pangandaran pada sore hari bulan Juli 2006, kali ini ia datang pada malam hari bulan Oktober di Mentawai. Hal ini tentu saja menyulitkan kita menemukan saksi mata/rekaman video yang melaporkan kapan tepatnya tsunami itu melanda agar kita dapat menilai apakah suatu tindakan pencabutan peringatan/warning yang kontroversial itu sudah tepat atau masih keliru. Mungkin sudah tiba saatnya bangsa kita memiliki pakar forensik tsunami-–seperti Dr Mun’im Idris untuk forensik manusia-–dalam hal ini ia bertugas untuk menentukan saat tsunami memulai aksinya. Namun, kapan pun dan di mana pun tamu istimewa ini berkunjung, jejaknya amatlah fantastis. Keperkasaan energi yang diserapnya dari gangguan gempa di tengah laut akan ditunjukkannya pada daerah pantai. Hal ini terekam dengan begitu banyaknya kehancuran plus sedikit keajaiban yang mengiringi kepergiannya. Ini seyogyanya menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjinakkannya. Mampukah kita menjawab tantangan ini?