Jumat, 08 Januari 2010

Di Bandara Dulles, Seluruh Badan Nadia Digeledah

Jumat, 08/01/2010 17:24 WIB Cetak | Kirim

Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.

Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.

Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.

Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.

Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.

Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.

Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)

Di Bandara Dulles, Seluruh Badan Nadia Digeledah

Jumat, 08/01/2010 17:24 WIB Cetak | Kirim

Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.

Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.

Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.

Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.

Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.

Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.

Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)

Rabu, 06 Januari 2010

Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.

Posted by Bustamam Ismail on August 1, 2008

Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi atau yang biasa dikenal dengan al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di kota Farab, Propinsi Transoxiana, Turkestan, sekitar tahun 890. Dia berasal dari keluarga bangsawan-militer Turki.Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di kota yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’iyah inilah al-Farabi menerima pendidikan dasarnya. Dia digambarkan “sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari.” Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.Setelah menyelesaikan studi dasarnya,

al-Farabi pindah ke Bukhara untuk menempuh studi lanjut fiqh dan ilmu-ilmu lanjut lainnya. Pada saat itu, Bukhara merupakan ibu kota dan pusat intelektual serta religius dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia. Pada saat al-Farabi di Bukhara, Dinasti Samaniyah di bawah pemerintahan Nashr ibn Ahmad (874-892). Munculnya Dinasti ini menandai munculnya budaya Persia dalam Islam. Pada masa inilah al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Juga di Bukhara inilah al-Farabi pertama kali belajar tentang musik. Kepakaran al-Farabi di bidang musik dibuktikan dengan karyanya yang berjudul Kitab al-Musiqa al-Kabir atas permintaan Abu Ja’far Muhammad ibn al-Qasim, Wazir Khalifah al-Radhi tahun 936.Sebelum dia tenggelam dalam karir filsafatnya, terlebih dahulu dia menjadi seorang qadhi. Setelah melepaskan jabatan qadhinya, al-Farabi kemudian berangkat ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian dan filsafat. Guru utama al-Farabi adalah Yuhanna ibn Hailan. Di bawah bimbingannya, al-Farabi membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya di bawah bimbingan guru khusus. Dari fakta ini diyakini bahwa al-Farabi telah menguasai bahasa Siria dan Yunani ketika belajar kitab-kitab Aristoteles tersebut karena kitab tersebut baru diterjemah ke dalam bahasa Arab pada tahun-tahun setelah al-Farabi mempelajarinya dalam bahsa aslinya.

Setelah dari Merv, bersama gurunya ia berangkat ke Bagdad sekitar tahun 900. Pada masa kekhalifahan al-Muqtadir (908-932), bersama gurunya ia berangkat ke Konstantinopel untuk lebih memperdalam filsafat. Tapi, sebelumnya ia sempat singgah beberapa waktu lamanya di Harran. Pada rentang tahun 910-920 ia kembali ke Bagdad dan di sana ia menemui Matta ibn Yunus, seorang filosof Nestorian, telah memiki reputasi yang tinggi dalam bidang filsafat dan mampu menarik minat banyak orang dalam kuliah-kuliah umumnya tentang logika Aristotelian. Segera ia bergabung menjadi murid Matta. Akan tetapi, kecemerlangan al-Farabi dengan singkat mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika.

Pada akhir tahun 942, ia pindah ke Damaskus karena situasi politik Bagdad yang memburuk. Dia sempat tinggal di sana selama dua tahun dimana waktunya siang hari digunakan untuk bekerja sebagai penjaga kebun dan malam hari dihabiskan untuk membaca dan menulis karya-karya filsafat. Dengan alasan yang sama, ia pindah ke Mesir untuk pada akhirnya kembali lagi ke Damaskus pada tahun 949. Selama masa tinggal di Damaskus yang kedua ini al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Siria, Saif al-Daulah (w. 967). Dalam perjumpaan pertamanya, Saif al-Daulah sangat terkesan dengan al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaannya atas berbagai bahasa. Kehidupan sufi asketik yang dijalaninya membuatnya ia tetap berkehidupan sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Akhirnya, pada bulan Desember 950, ia meninggal dunia di tempat ini (Damaskus) pada usia delapan puluh tahun.

Manusia menurut Farabi memiliki potensi untuk menerima bentuk-bentuk pengetahuan yang terpahami (ma’qulat) atau universal-universal. Potensi ini akan menjadi aktual jika ia disinari oleh Intelek Aktif. Pencerahan oleh Intelek Aktif memungkinkan transformasi serempak intelek potensial dan obyek potensial ke dalam aktualitasnya. Al-Farabi menganalogkan hubungan antara akal potensial dengan Akal Aktif seperti mata dengan matahari. Mata hanyalah kemampuan potensial untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri.

Di samping itu, intelek manusia sendiri memiliki apa yang disebut dengan pengetahuan primer. Pengetahuan primer ada dengan sendirinya dalam intelek manusia dan kebenarannya tidak lagi membutuhkan penalaran sebelumnya. Pengetahuan ini misalnya bahwa tiga adalah angka ganjil atau bahwa keseluruhan lebih besar dari bagiannya.

Intelek potensial yang sudah disinari akan berubah menjadi bentuk yang sama dengan pengetahuan primer yang diterimanya sebagai bentuk tersebut. Untuk menggambarkan proses ini, al-Farabi menganalogkan dengan sepotong benda yang masuk ke dalam lilin cair, benda terseut tidak hanya tercetak pada lilin, tapi ia juga merubah lilin cair tersebut menjadi sebuah citra utuh benda itu sendiri sehingga ia menjadi satu. Atau, bisa juga dianalogkan dengan sepotong kain yang masuk ke dalam zat pewarna. Perolehan aktualitas oleh akal potensial menjadi sempurna jika proses ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan primer, tapi juga dengan pengetahuan yang diupayakannya. Pada tahap ini, intelek aktual merefleksikan dirinya sendiri. Kandungan intelek aktual adalah pengetahuan murni. Intelek aktual dapat mengetahui dirinya sendiri karena ia merupakan intelek sekaligus pengetahuan itu sendiri. Ketika intelek aktual sudah sampai pada tahap ini, ia menjadi apa yang disebut al-Farabi dengan intelek perolehan atau al-aql al-mustafad atau acquired intelect.

Dengan demikian, intelek perolehan merujuk pada intelek aktual ketika mencapai tahap mampu memposisikan diri sebagai pengetahuan (self-intelligible) dan bisa melakukan proses pemahaman tanpa bantuan kekuatan lain (self-inttellective). Intelek perolehan adalah bentuk intelek manusia paling tinggi. Intelek perolehan adalah yang paling mirip dengan dengan Intelek Aktif karena keduanya memiliki kandungan yang sama. Di samping itu, akal perolehan juga tidak membutuhkan raga bagi kehidupannya dan tidak membutuhkan kekuatan fisik badani untuk aktifitas berpikirnya.

(Source: Sekilas sejarah pemikiran filosof di atas dinukil dari buku Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, diterbitkan oleh LKiS, dikarang oleh Zainul Hamdi -warga Averroes)

Written by ave · Filed Under Pemikiran
Tagged: Abu Nashr, ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi, Muhammad ibn Muhammad

This entry was posted on August 1, 2008 at 10:26 am and is filed under tokoh dunia. Tagged: al farabi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
17 Responses to “Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.”

1.
khumaira said
September 21, 2008 at 7:42 am

wow!!!funtastik!aq rz trnag z…,aq kagum bgt ma yg namanya bapak al-farabi coz…apa z…

Minggu, 03 Januari 2010

Natal Bersama dan Misi Kristen

Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu jelas sebagai suatu bentuk Proklamasi agama Kristen dan realisasi konsep Misi Kristen di Indonesia.

Pesan utama yang ingin disampaikan melalui acara tersebut sangat jelas bahwa Jesus, Putra Tuhan, sang Juru Selamat sudah tiba untuk menebus dosa manusia. Berbagai lagu dan sendratari yang ditampilkan membawa pesan tersebut. Disamping lagu dan tari, ada pesan Natal dan juga Doa Syafaat dibawakan oleh pejabat KWI (Katolik) dan PGI (Protestan).

Menarik jika kita amati wajah Pak SBY dan pejabat muslim lainnya yang hadir acara itu. Kita juga mencoba menebak-nebak, apa kira-kira perasaan Pak SBY dan orang Muslim di situ, ketika mendengar lagu-lagu dan seruan tentang kedatangan Jesus sebagai anak Allah dan Juru Selamat. Kita berprasangka baik, dan menduga-duga, hati Pak SBY yang Muslim itu pasti berkata: “Ini tidakbenar! Sebab, saya Muslim. Saya yakin benar, bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Saya yakin, Nabi Isa adalah utusan Allah, rasul Allah; bukan Tuhan atau anak Tuhan.”

Pak SBY yang punya sebuah Majlis Zikir tentu sudah pernah mendengar ayat Al-Quran: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (Terjemah QS as-Shaff: 6).

Ada juga ayat Al-Quran yang menyatakan: “Dan mereka mengatakan, (Allah) Yang Maha Pemurah itu punya anak. Sungguh (kalian yang menyatakan bahwa Allah punya anak), telah melakukan tindakan yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah gara-gara ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah punya anak.” (Terjemah QS Maryam: 88-91).

Sebagai Muslim, Pak SBY tentu paham benar ayat-ayat Al-Quran tersebut. Dalam Perayaan Natal Bersama itu, orang-orang Muslim “dipaksa” mendengar cerita-cerita tentang Jesus yang bertentangan dengan keimanan mereka. Kata beberapa orang, praktik-praktik pencampuran Perayaan Hari Raya Agama seperti itu perlu dilakukan demi tujuan mulia, yaitu untuk membina Kerukunan Umat Beragama. Malah, ada yang berpendapat, agar MUI mencabut fatwa tentang Haram-nya seorang Muslim merayakan Natal Bersama. Sebagai Muslim, dan juga sebagai Presiden, Pak SBY ketika itu “harus” duduk mendengarkan semua cerita tentang Jesus, yang sudah pasti tidak diyakininya. Pada kondisi seperti itulah, Pak SBY juga terpaksa tidak menyatakan secara terbuka, bahwa dia mempunyai kepercayaan dan keimanan yang berbeda dengan kaum Nasrani.

Sebenarnya, jika kita berpikir jernih, praktik-praktik semacam ini seharusnya dihentikan. Membangun kerukunan umat beragama tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang dapat menyuburkan kemunafikan seperti itu. Rasulullah saw, para sahabat, dan para ulama Islam – yang sejati – tidak pernah mengajarkan tindakan seperti itu. Untuk membangun kerukunan umat beragama, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sebenarnya, jika kaum Nasrani merayakan hari raya mereka, di kalangan mereka sendiri, itu juga tidak ada masalah dan tidak perlu mengundang kontroversi.

Berita tentang ke-Tuhanan Jesus tentu tidak mudah ditelan begitu saja oleh kaum Muslim. Sebab, Islam memiliki kitab suci Al-Quran yang dengan sangat gamblang menjelaskan kesalahan kepercayaan kaum Kristen tersebut. Al-Quran menyatakan, bahwa berita tentang penyaliban Jesus (Nabi Isa) adalah bohong belaka. Penyaliban Jesus, dalam pandangan Islam, tidak memiliki dasar yang kuat. “Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Terjemah QS al-Kahfi: 4-5).

Ayat-ayat dalam kitab suci yang secara tegas membantah klaim-klaim kaum Kristen tentang ketuhanan Jesus seperti ini hanya dijumpai dalam Al-Quran. Ayat semacam itu tidak kita dijumpai pada Kitab Veda (Hindu), Tripitaka (Budha), atau Su Si (Konghucu). Karena itu, wajar, selama seorang mengaku dan meyakini keimanan Islam-nya, hatinya akan dengan tegas menolak semua pernyataan yang tidak benar tentang Nabi Isa. Kaum Ahlul Kitab yang hatinya ikhlas dalam menerima kebenaran pasti akan mengakui kenabian Muhammad saw dan kebenaran Al-Quran (QS 3:199).

Keyakinan kaum Muslim tentang Nabi Isa seperti itu seharusnya dihormati oleh kaum Kristen. Sehingga, tidaklah etis jika “memaksa” seorang Muslim yang berpegang kepada iman Islam-nya untuk duduk mendengar cerita tentang Yesus dalam versi Kristen yang sama sekali berbeda versinya dengan cerita tentang Nabi Isa dalam versi Islam. Inilah sebenarnya hakekat saling hormat-menghormati antar pemeluk agama. Mereka bisa bekerjasama satu sama lain, dalam berbagai hal. Tetapi, bukan membiasakan diri bersikap “pura-pura” dalam soal keimanan. Sikap saling menghormati bisa ditumbuhkan dengan tetap berpegang kepada keimanan masing-masing.

Islam juga menghormati sikap pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, ketika menyatakan, bahwa Islam, bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan: “Islam is not a religion of redemption.” Paus juga menyatakan, dalam Islam tidak ada ruang bagi Salib dan Kebangkitah Yesus. Yesus memang disebutkan, tetapi, kata Paus, dia hanya sekedar seorang Nabi, yang menyiapkan kedatangan Nabi terakhir, yaitu Muhammad. Karena itulah, Paus berkesimpulan: “For this reason, not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity.” Jadi,menurut Paus, secara teologis dan antropologis, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dan Kristen. (Lihat, John Cornwell, The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul II’s Papacy, (London: Penguin Books Ltd., 2005).

Ada lagi yang sering tidak dipahami oleh pemeluk agama selain Islam atau bahkan kalangan Muslim sendiri. Yaitu, bahwasanya Islam adalah agama wahyu yang memiliki uswah hasanah (contoh teladan). Sebagai agama wahyu (agama langit), Islam mendasarkan keyakinan dan semua praktik ritualnya berdasarkan wahyu dan contoh dari Nabi Muhammad saw. Karena itu, hanya orang Muslim yang kini memiliki bentuk ibadah yang satu. Orang Muslim membaca al-Fatihah yang sama dalam shalat; ruku’ dengan cara yang sana; sujud dengan cara yang sama, dan salam dengan cara yang sama pula. Semua itu ada contoh dari Nabi Muhammad saw.

Bahkan, kaum Muslim berdebat tentang hal-hal yang “kecil” dalam ibadah shalat, seperti apakah dalam tahiyat, jari telunjuk digerakkan atau tidak. Sebab, memang ada riwayat yang berbeda dari Rasulullah saw tentang hal itu. Yang jelas, semua Muslim ingin mencontoh Sang Nabi sampai hal-hal yang “kecil” seperti itu diperdebatkan. Tapi, semua orang Muslim, saat melaksanakan tahiyat dalam shalat, pasti mengeluarkan jari telunjuk, bukan jari jempol atau jari kelingking.

Karena kuatnya berpegang pada keteladanan Nabi Muhammad saw dalam ibadah itulah, maka –misalnya -- orang Islam tidak mudah untuk diajak mengganti salam Islam dengan salam lainnya. Karena salam resmi orang Islam, sesuai ajaran Nabi saw adalah: Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.” Ucapan salam seperti ini berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad, bukan berasal dari budaya atau hasil Kongres umat Islam pada saat tertentu. Di mana pun, kapan pun, umat Islam akan mengucapkan salam seperti itu. Apa pun suku dan bangsanya. Upaya untuk “pribumisasi” salam Islam dan menggantinya dengan “Selamat pagi” dan sejenisnya, telah gagal dilakukan. Dulu, semasa menjabat sebagai Menteri P&K (1978-1982), Dr. Daoed Joesoef menolak mengucapkan salam Islam, dengan alasan, ia bukan hanya menterinya orang Islam.

Sekarang, cara berpikir Daoed Joesoef itu sudah out of date, sudah ketinggalan zaman. Kini, Presiden SBY pun sangat fasih dalam mengucapkan salam. Bahkan, biasanya ia mendahului dengan ucapan basmalah. Sekarang sudah banyak tokoh non-Muslim yang dengan lancar mengucapkan salam Islam. Saya pernah bertanya kepada seorang tokoh non-Muslim, apakah dia boleh mengucapkan salam Islam, seperti yang baru saja dia ucapkan. Dia menjawab: Boleh!

Kondisi seperti itu berbeda dengan umat Islam. Untuk urusan salam saja, Rasulullah saw memberikan contoh dan panduan yang sangat rinci. Bagaimana seharusnya seorang Muslim memberikan salam kepada sesama Muslim, bagaimana menjawab salam dari non-Muslim, dan sebagainya. Umat Islam secara ikhlas berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw tersebut. Sifat dan posisi ajaran Islam seperti ini seyogyanya dipahami. Termasuk dalam soal perayaan Hari Besar Agama. Panduan dalam soal ini juga sangat jelas. Karena itu, jika umat Islam menolak untuk mengikuti Perayaan Hari Besar agama lain, itu pun harusnya dipahami dan tidak dicap sebagai bentuk rasa permusuhan dengan agama lain. Pemahaman akan sifat dan karakter masing-masing agama itu perlu dipahami oleh masing-masing tokoh agama, agar tidak memaksakan pemahamannya kepada orang lain.

Budaya dan Misi

Aspek lain yang menonjol dalam Peraayaan Natal Bersama 27 Desember 2009 adalah upaya kaum Kristen untuk menampilkan citra adanya penyatuan Kristen dengan budaya Indonesia. Para penari mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Citra penyatuan Kristen dengan adat istiadat di Indonesia sudah lama diusahakan oleh para misionaris di Indonesia. Strategi budaya dijalankan agar misi Kristen lebih mudah diterima oleh rakyat Indonesia, dan agar citra Kristen sebagai agama penjajah dapat hilang di mata rakyat.

Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya. Misi Kristen ingin menggusur atau memisahkan citra penyatuan Islam dengan Jawa. Tokoh misionaris Katolik, misalnya, telah lama berusaha menggusur dominasi bahasa Melayu dan menggantinya dengan bahasa Jawa. Di sekolah Katolik di Muntilan, misalnya, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.

J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).

Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan, bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa kemajuan.

Upaya untuk menggusur bahasa Melayu dari kehidupan berbangsa di Indonesia, sebagaimana dipromosikan van Lith tidak berhasil dilakukan. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku bangsa justru mendeklarasikan: “Kami berbahasa satu, bahasa Indonesia.” Demi persatuan bangsa, para pemuda dari Jawa juga merelakan bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa nasional Indonesia.

Van Lith, yang datang ke Indonesia pada 1896, menulis dalam sebuah suratnya:

“Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka harus menemukan titik-awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”


Dalam salah satu artikelnya yang ditemukan sesudah kematiannya, van Lith juga menyemangati teman-teman misionaris agar menempatkan diri sesama warga dengan orang Jawa:

“Kalau kita, orang Belanda, ingin tetap tinggal di Jawa dan hidup dalam damai dan menikmati keindahan serta kekayaan pulau tercinta ini, maka ada satu tuntutan, yaitu bahwa kita harus selalu belajar memperlakukan orang Jawa sebagai saudara kita. Di tengah-tengah orang Jawa, kita tidak bisa berlagak seperti penguasa, atau sebagai majikan, atau sebagai komandan, tetapi seharusnya sebagai sesama warga. Kita harus belajar menyesuaikan diri, belajar menguasai bahasa orang-orang ini dan adat kebiasaan mereka; hanya dengan berlaku demikian kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka ini.”


Demi pendekatan budaya, van Lith sampai bisa menerima orang Katolik Jawa melakukan sunat. Padahal, dalam suratnya, Paulus menyatakan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”. (Gal. 5,2). Van Lith menerima sunat bagi orang Katolik Jawa, tetapi menolak tambahan doa Arab (Islam). Ia juga menentang sunat sebagai bentuk pertobatan menjadi Muslim.

Para misionaris, seperti van Lith, berkeinginan memisahkan orang Jawa dengan Islam. Sebab, orang Jawa memang sangat kokoh memegang identitasnya sebagai Muslim, meskipun mereka belum mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:

“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina, karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”


Demikianlah semangat misi Kristen untuk mengubah agama orang Jawa, dari Islam menjadi Kristen. Berbagai cara telah dan terus digunakan untuk menjalankan misi tersebut. Kaum Muslim memahami semangat kaum Kristen tersebut. Tapi, tentunya, tidak mudah bagi kaum Muslim untuk menerima begitu saja usaha kaum misionaris tersebut. Sebab, bagi orang Muslim, keimanan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan mereka. [Depok, 14 Muharram 1431 H/1 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

Kamis, 31 Desember 2009

Mengenai Masalah Perdagangan Bebas Karl Marx (1848)

Pidato umum yang diucapkan oleh Karl Marx di depan Asosiasi Demokratik kota Brussel, 9 Januari 1848
HTML by: Edi Cahyono, 2002

Tuan-tuan,
Pencabutan Undang-undang Gandum di Inggris merupakan kemenangan terbesar dari perdagangan bebas di abad ke sembilan-belas. Di setiap negeri di mana kaum manufaktur berbicara tentang perdagangan bebas, yang terutama ada dalam pikiran mereka ialah perdagangan bebas gandum dan bahan-bahan mentah pada umumnya. Mengenakan bea-bea masuk yang bersifat protektif atas gandum asing adalah sangat tak-terpuji, itu berarti berspekulasi atas kelaparan rakyat banyak.
Makanan murah, upah-upah yang tinggi, inilah tujuan tunggal yang untuknya para pedagang-bebas Inggris telah menghabiskan berjuta-juta, dan antusiasme mereka sudah menyebar pada saudara-saudara mereka di wilayah Kontinen. Berbicara secara umum, mereka yang berpihak pada perdagangan bebas menghasratkan itu untuk meningkatkan kondisi klas pekerja.
Namun, sungguh aneh, rakyat banyak yang dengan segala cara diusahakan mendapatkan makanan murah adalah sangat tidak berterima-kasih. Makanan murah sama dipandang hina di Inggris seperti halnya pemerintah murah di Perancis. Rakyat melihat pada tuan-tuan yang mengorbankan-diri ini, pada Bowring, Bright & Co., musuh-musuh mereka yang terburuk dan kaum munafik yang paling tidak tahu malu.
Setiap orang mengetahui bahwa di Inggris pergulatan antara kaum Liberal dan kaum Demokrat berlangsung atas nama perjuangan antara kaum Pedagang-bebas dan kaum Chartis.
Mari kita melihat bagaimana para pedagang-bebas Inggris telah membuktikan pada rakyat semua niat baik yang mendorong mereka.
Inilah yang mereka katakan pada kaum buruh pabrik:
"Bea masuk yang dikenakan atas gandum adalah suatu pajak atas upah-upah; pajak ini anda bayarkan pada para tuan-tanah, kaum aristokrat zaman pertengahan itu; jika posisi anda adalah posisi yang sangat terpuruk, itu disebabkan oleh mahalnya kebutuhan-kebutuhan kehidupan yang paling langsung."
Kaum buruh, pada gilirannya, bertanya pada kaum manufaktur itu:
"Bagaimana terjadinya, bahwa dalam proses tiga-puluh tahun terakhir, selagi industri kita mengalami perkembangan terbesar, upah-upah kami telah jatuh jauh lebih cepat, dalam proporsinya, ketimbang harga gandum yang naik itu?
"Pajak yang menurut kalian kami bayarkan pada kaum tuan-tanah adalah kurang-lebih tiga pence seminggu per pekerja. Namun begitu upah-upah kaum perajut tangan telah jatuh, antara 1815 dan 1843, dari 28 shilling per minggu menjadi 5 shilling, dan upah-upah para perajut dengan alat mesin, antara l1823 dan 1843, telah jatuh dari 20 shilling seminggu menjadi 8 shilling.
"Dalam selama seluruh periode ini, porsi pajak yang kami bayar pada tuan-tanah tidak pernah melampaui tiga pence. Dan, kemudian, di tahun 1843, ketika roti sangat murah harganya dan bisnis berjalan dengan sangat baiknya, apakah yang kalian katakan pada kami? Kalian mengatakan, Jika kalian tidak mujur, itu adalah karena kalian mempunyai terlalu banyak anak, dan perkawinan-perkawinan kalian adalah lebih produktif daripada kerja kalian!
"Inilah kata-kata kalian yang diucapkan pada kami, dan kalian mulai membuat Undang-undang Kemiskinan baru, dan membangun pabrik-pabrik, (benteng-benteng) Bastille kaum proletariat itu."
Menjawab ini kaum manufaktur mengatakan:
"Kalian benar, kaum pekerja yang terhormat; tidak hanya harga gandum saja, tetapi persaingan di antara para pekerja sendiri juga, yang menentukan upah-upah.
Tetapi renungkanlah satu hal, yaitu, bahwa tanah kita terdiri hanya atas batu karang dan medan-medan pasir. Tentunya kalian tidak membayangkan bahwa gandum dapat tumbuh dalam pot-pot kembang. Maka itu, jika gantinya memesta-riakan modal kita dan kerja kita atas tanah yang sepenuhnya steril, kita harus melepaskan agrikultur, dan mengabdikan diri kita secara khusus pada industri, maka seluruh Eropa akan meninggalkan pabrik-pabriknya, dan Inggris akan membentuk suatu kota pabrik raksasa, dengan seluruh sisa Eropa sebagai pedesaannya."
Sementara secara demikian itu mengusik para pekerjanya sendiri, sang manufaktur diinterogasi oleh sang pedagang kecil, yang berkata:
"Jika kita mencabut Undang-undang Gandum, kita memang akan menghancurkan agrikultur; tetapi walaupun begitu, kita tidak akan memaksa bangsa-bangsa lain agar mereka melepaskan pabrik-pabrik mereka sendiri dan membeli dari pabrik-pabrik kita.
Apakah dan bagaimanakah akan konsekuensinya? Saya akan kehilangan pelanggan-pelanggan yang kupunyai sekarang di pedesaan, dan perdagangan rumahan akan kehilangan pasarnya."
Si Manufaktur, sambil membalikkan badan dan membelakangi kaum pekerja, menjawab sang pemilik toko:
"Oh, mengenai hal itu, serahkan saja hal itu pada kami! Begitu bea masuk atas gandum itu hapus, kita akan mengimpor gandum yang lebih murah dari luar negeri. Kemudian akan kita turunkan upah-upah pada saat bertepatan upah-upah itu naik di negeri-negeri dari mana kita mendapatkan gandum kita.
"Dengan demikian, sabagai tambahan keuntungan yang sudah kita nikmati, kita juga akan mendapatkannya dari upah-upah yang lebih rendah dan, dengan semua keuntungan ini, kita akan dengan mudah memaksa Daratan (Eropa) untuk membeli dari kita."
Tetapi kini para pengusaha pertanian dan kaum pekerja agrikultur bergabung di dalam diskusi itu.
"Dan, mohon diterangkan, apakah yang akan jadinya kita-kita ini?
"Akankah kita menjatuhkan suatu hukuman mati pada agrikultur, dari mana kita mendapat nafkah kita? Mestikah kita memperkenankan tanah direnggut dari bawah kaki kita?"
Sebagai keseluruhan jawabannya, Lembaga Undang-undang Anti-Gandum telah mencukupkan diri dengan menawarkan hadiah-hadiah bagi tiga essai terbaik mengenai pengaruh sehat pencabutan Undang-undang Gandum itu atas agrikultur Inggris.
Hadiah-hadiah ini telah digondol oleh Tuan-tuan Hope, Morse dan Greg, yang esai-essainya didistribusikan dalam jumlah ribuan copy di seluruh pedesaan.
Yang pertama dari para pemenang hadiah itu mencurahkan dirinya pada pembuktian bahwa petani pesewa tanah maupun pekerja agrikultur tidak akan kehilangan apa-apa dengan pengimporan gandum luar negeri secara bebas, dan bahwa yang rugi itu hanyalah si tuan-tanah. "Petani pesewa-tanah Inggris," demikian ia berkata,
"tidak perlu takut pada pencabutan Undang-undang Gandum, karena tidak ada negeri lain yang dapat mrmproduksi gandum yang sebagus dan semurah Inggris.
"Demikianlah, bahkan apabila harga gandum jatuh, itu tidak akan merugikan anda, karena kejauhan harga ini hanya akan mempengaruhi sewa, yang akan turun, dan sama sekali bukanlah laba industrial dan upah-upah, yang akan tetap tidak berubah."
Pemenang-hadiah kedua, tuan Morse, sebaliknya mempertahankan, bahwa harga gandum akan naik sebagai akibat dari pencabutan Undang-undang Gandum itu. Ia berusaha dengan susah-payah untuk membuktikan bahwa bea-bea masuk yang bersifat protektif tidak pernah mampu menjamin suatu harga yang menguntungkan bagi gandum.
Dan menunjang pernyataannya ia mengutip kenyataan bahwa, pabila gandum asing telah diimpor, harga gandum di Inggris naik secara sangat berarti, dan apabila cuma sedikit gandum yang diimpor, maka harga gandum sangat jatuh. Sang pemenang hadiah ini lupa bahwa pengimporan bukanlah sebab dari harga yang tinggi itu, tetapi bahwa harga yang tinggi itulah sebab dari pengimporan.
Dan dalam pertentangan langsung dengan sesama pemenang-hadiah itu, ia menyatakan bahwa setiap kenaikan harga gandum adalah menguntungkan bagi petani pesewa tanah maupun pekerja pertanian, tetapi tidak menguntungkan bagi tuan-tanah.
Pemenang-hadiah yang ketiga, Tuan Greg, yang adalah seorang manufaktur besar dan yang pekerjaannya tertuju pada petani-petani pesewa tanah besar, tidak tahan terhadap ketololan-ketololan seperti itu. Bahasanya lebih ilmiah.
Ia mengakui bahwa Undang-undang Gandum dapat menaikkan sewa hanya dengan menaikkan harga gandum, dan bahwa mereka dapat menaikkan harga gandum hanyalah dengan memaksa penerapan modal pada tanah yang kualitasnya rendah, dan ini dapat dijelaskan dengan sederhana sekali.
Dalam proporsi pertambahan penduduk, jika gandum luar negeri tidak dapat diimpor, maka tanah yang kurang subur mesti dipakai, yang pembudi-dayaannya menyangkut biaya lebih besar dan produk tanah ini karenanya menjadi lebih mahal.
Karena terdapat penjualan gandum secara paksa, maka harganya dengan sendirinya akan ditentukan oleh harga produk dari tanah yang paling mahal. Beda antara harga ini dan biaya produksi di tanah yang berkualitas lebih baik membentuk sewa itu.
Jika, oleh karenanya, sebagai hasil pencabutan Undang-undang Gandum, harga gandum dan sebagai konsekuensinya sewa itu jatuh, itu adalah karena tanah yang kualitasnya rendah tidak akan dibudi-dayakan lagi. Demikianlah, reduksi sewa mau-tidak-mau mesti menghancurkan sebagian kaum petani pesewa tanah.
Catatan-catatan ini diperlukan agar supaya menjadikan bahasa tuan Greg itu dapat dimengerti.
"Para pengusaha pertanian kecil," demikian tuan Greg berkata,
"yang tidak dapat menghidupi diri dengan agrikultur akan mendapatkan suatu sumber dari industri. Sedang bagi para pengusaha pertanian pesewa tanah, mereka itu tidak akan gagal mendapatkan laba. Sebab, para tuan-tanah akan terpaksa menjual tanah kepada mereka dengan harga sangat murah, atau menyewakannya pada mereka untuk jangka-waktu sangat panjang. Ini akan memungkinan para petani pesewa tanah itu menanamkan jumlah-jumlah besar modal atas tanah itu, untuk menggunakan mesin-mesin pertanian dalam skala lebih besar, dan menghemat kerja manual yang akan, lagi pula, menjadi lebih murah, disebabkan oleh kejatuhan umum dari upah-upah, yaitu akibat langsung dari pencabutan Undang-undang Gandum itu."
Dr. Bowring memberkati semua argumentasi ini dengan persucian agama, dengan berseru pada suatu rapat umum, "Jesus Kristus adalah Perdagangan Bebas, dan Perdagangan Bebas adalah Jesus Kristus."
Orang dapat mengerti bahwa semua kemunafikan ini tidak diperhitungkan untuk menjadikan roti murah menarik bagi kaum buruh.
Kecuali itu, bagaimana kaum pekerja dapat memahami filantropi tiba-tiba dari kaum manufaktur itu, orang-orang yang justru masih sibuk bertempur melawan Undang-undang Sepuluh Jam Kerja, yang adalah untuk mengurangi hari kerja kaum pekerja pabrik dari duabelas jam menjadi sepuluh jam?
Sebagai gambaran akan ide filantropi kaum manufaktur ini, tuan-tuan, saya ingin mengingatkan kalian, pada peraturan-peraturan pabrik yang berlaku di semua pabrik (penggilingan).
Setiap pengusaha manufaktur bagi kepentingannya sendiri menggunakan suatu kode pidana tertentu di mana denda-denda ditetapkan untuk setiap pelanggaran dengan sengaja atau yang tidak di sengaja. Misalnya, pekerja membayar sekian jika ia terkena sial dan duduk di atas sebuah kursi; jika ia berbisik, atau berbicara, atau ketawa; jika ia tiba di pabrik beberapa menit terlambat; jika suatu bagian dari mesin rusak, atau jika ia tidak menghasilkan pekerjaan dari kualitas yang diminta, dsb., dsb. Denda-denda itu selalu lebih besar daripada kerusakan yang sesunggunya dibuat oleh pekerja itu. Dan untuk memberikan setiap kesempatan pada pekerja itu untuk dikenai denda, jam pabrik disetel lebih dini, dan pada pekerja diberikan bahan mentah yang buruk untuk diolah menjadi barang-barang jadi yang baik. Seorang mandor bisa dipecat karena tidak cukup trampil dalam memperbanyak kasus-kasus pelanggaran peraturan.
Anda lihatlah, tuan-tuan, perundang-undangan swasta ini diberlakukan dengan tujuan istimewa untuk menciptakan pelanggaran-pelanggaran seperti itu, dan pelanggaran-pelanggaran itu dibuat dengan maksud menciptakan uang. Demikianlah kaum manufaktur itu menggunakan segala cara untuk mengurangi upah nominal, dan bahkan menarik keuntungan dari kecelakaan-kecelakaan yang berada di luar kendali kaum buruh.
Para pengusaha manufaktur ini adalah para filantropis; yang telah berusaha membuat kaum buruh percaya bahwa mereka mampu mengikhtiarkan segalanya demi untuk meningkatkan nasib mereka. Demikian, di satu pihak, mereka menggerogoti upah-upah kaum buruh dengan cara-cara yang licik, dengan mengadali peraturan-peraturan pabrik dan, di lain pihak, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan besar untuk menaikkan upah-upah itu dengan jalan Lembaga Anti Undang-undang Gandum.
Mereka membangun istana-istana besar dengan mengeluarkan biaya-biaya luar-biasa besarnya, dan Lembaga itu dengan cara-cara tertentu menjadikan istana-istana itu tempat huniannya; mereka mengirimkan sepasukan misionaris ke segala penjuru Inggris untuk mengkhotbahkan perdagangan bebas; mereka telah mencetak dan menyebarkan secara Cuma-Cuma ribuan pamflet untuk mencerahkan kaum buruh akan kepentingan-kepentingannya sendiri, mereka menghabiskan jumlah-jumlah dana luar-biasa besarnya untuk membikin pers menguntungkan kepentingan mereka; mereka mengorganisasi sebuah sistem yang luar-biasa luasnya untuk melaksanakan gerakan perdagangan bebas itu, dan mereka memperagakan seluruh kekayaan kefasihan mereka di rapat-rapat umum. Adalah pada salah satu rapat-rapat itu seorang pekerja meneriakkan:
"Andaikata para tuan-tanah menjual tulang-tulang kami, adalah kalian: kaum pengusaha manufaktur akan yang paling pertama menjadi pembelinya untuk memasukkannya dalam penggilingan-uap dan menjadikan tulang-tulang itu tepung."
Kaum buruh telah sangat memahami arti-penting perjuangan antara para tuang-tanah dan kaum kapitalis industrial. Mereka sangat mengetahui bahwa harga roti mesti diturunkan agar upah-upah diturunkan, dan bahwa laba industrial akan naik setaraf dengan jatuhnya sewa.
Ricardo, murid para pedagang-bebas Inggris, ahli ekonomi paling terkemuka negeri kita, sepenuhnya setuju dengan kaum buruh dalam satu hal ini. Dalam bukunya yang termashur mengenai ekonomi politik, ia mengatakan:
"Apabila sebagai gantinya kita menanam gandum kita sendiri…… kita menemukan suatu pasaran baru dari mana kita dapat mensuplai diri kita…. dengan harga yang lebih murah, maka upah-upah akan turun dan laba akan naik. Jatuhnya harga produksi agrikultur menurunkan upah-upah, tidak saja dari buruh yang dipekerjakan dalam pembudi-dayaan tanah, tetapi juga dari semua yang dipekerjakan dalam perdagangan atau manufaktur."
Dan janganlah percaya, tuan-tuan, bahwa adalah soal ketak-acuhan kaum buruh apakah ia hanya menerima empat franc karena harga gandum lebih murah, sedangkan sebelumnya ia menerima lima franc.
Tidakkah upah-upah telah selalu jatuh jika dibandingkan dengan laba, dan tidakkah jelas bahwa kedudukan sosialnya telah menjadi semakin buruk jika dibandingkan dengan kedudukan si kapitalis? Dan kecuali itu, ia sesungguhnya kehilangan jauh lebih banyak lagi.
Selama harga gandum lebih tinggi dan upah-upah juga lebih tinggi, suatu penghematan dalam konsumsi roti cukuplah untuk memberikan padanya kesenangan-kesenangan lainnya. Tetapi seketika roti itu sangat murah, dan upah-upah karenanya sangat murah, ia nyaris bisa tidak menghemat apapun atas roti ini untuk membeli barang-barang lain.
Kaum buruh Inggris telah membuat kaum pedagang-bebas Inggris menyadari bahwa mereka bukan korban dari ilusi-ilusi atau kebohongan-kebohongan mereka; dan apabila, sekalipun demikian, kaum buruh berjuang bersama mereka terhadap kaum tuan-tanah, itu adalah dengan maksud menghancurkan sisa-sisa terakhir feodalisme dan agar tersisa satu musuh saja untuk dihadapi. Kaum buruh tidak salah-perhitungan, karena kaum tuan-tanah, demi membalas-dendam terhadap para pengusaha manufaktur itu, telah berjuang bersama dengan kaum buruh untuk menggoalkan Undang-undang Sepuluh (Jam Kerja), yang oleh yang tersebut belakangan ini telah gagal dituntut selama tigapuluh tahun, dan yang disahkan seketika sesudah pencabutan Undang-undang Gandum.
Ketika Dr. Bowring pada Kongres Para Ahli Ekonomi, mengeluarkan sebuah daftar panjang dari sakunya untuk menunjukkan betapa banyak ternak, berapa banyak ham, daging, unggas dsb. telah diimpor oleh Inggris, untuk dikonsumsi-sebagaimana ia tegaskan-oleh kaum buruh, sungguh malang sekali ia lupa mengatakan bahwa pada waktu itu kaum buruh Manchester dan kota-kota industri lainnya sedang mendapatkan diri mereka terlempar ke atas jalanan-jalanan oleh krisis yang sedang mulai.
Sebagai hal azasi dalam ekonomi politik, angka-angka satu tahun saja tidak pernah dipakai sebagai dasar untuk merumuskan hukum-hukum umum. Orang mesti senantiasa mengambil kurun-waktu rata-rata dari enam hingga tujuh tahun-suatu kurun waktu yang dilalui industri modern untuk berbagai tahapan kemakmuran, kelebihan-produksi, stagnasi, krisis, dan lengkap menjalani daurnya yang tidak dapat dihindari.
Jelaslah, apabila harga dari semua barang-dagangan jatuh-dan ini adalah akibat yang tidak terhindari dari perdagangan bebas-saya dapat membeli jauh lebih banyak untuk satu franc daripada sebelumnya. Dan uang franc-nya seorang buruh adalah sama baiknya seperti orang lain yang manapun. Karenanya, perdagangan bebas akan sangat menguntungkan bagi pekerja itu. Dalam hal ini hanya ada suatu perbedaan kecil, yaitu, bahwa si pekerja, sebelum menukarkan uang franc-nya dengan barang-barang dagangan lainnya, ia lebih dulu menukarkan kerjanya dengan si kapitalis. Jika dalam pertukaran ini ia selalu menerima franc tersebut untuk kerja yang sama dan harga dari semua barang-dagangan jatuh, maka ia selalu menjadi yang diuntungkan oleh pertukaran seperti itu. Kesulitannya tidaklah terletak pada pembuktian bahwa, jika harga dari semua barang-dagangan jatuh, akan didapatkan lebih banyak barang-dagangan untuk (jumlah) uang yang sama itu.
Para ahli ekonomi selalu berpegang pada harga kerja pada saat itu dipertukarkan dengan barang-barang dagangan lain. Mereka sama sekali mengabaikan saat di mana kerja melaksanakan pertukarannya sendiri dengan modal.
Manakala lebih sedikit pengeluaran (pembiayaan) diperlukan untuk menggerakkan mesin yang memproduksi barang-barang dagangan, maka hal-hal yang diperlukan bagi pemeliharaan mesin ini, yang disebut buruh itu, akan juga lebih kecil ongkosnya. Jika semua barang-dagangan lebih murah, maka kerja, yang adalah juga barang-dagangan, akan jatuh pula harganya, dan, sebagaimana kemudian akan kita lihat, barang-dagangan ini, kerja, akan jatuh secara proporsional jauh lebih rendah daripada barang-barang dagangan lainnya. Jika si buruh masih memancangkan kepercayaannya pada argumen-argumen para ahli ekonomi, ia akan mendapatkan bahwa (uang) franc itu telah lumer dalam sakunya, dan bahwa yang tersisa cuma lima sous.
Mengenai hal itu para ahli ekonomi akan mengatakan:
"Baiklah, kami mengakui bahwa persaingan di antara kaum buruh, yang jelas tidak surut dengan adanya perdagangan bebas, akan segera menyerasikan upah-upah dengan rendahnya harga-harga barang-barang dagangan. Tetapi, di lain pihak, rendahnya harga-harga barang-barang dagangan akan meningkatkan konsumsi, dan semakin besarnya konsumsi akan memerlukan peningkatan produksi, yang akan disusul dengan lebih besarnya permintaan akan tenaga, dan lebih besarnya permintaan akan tenaga kerja akan disusul oleh suatu kenaikan upah-upah."
Seluruh jalannya argumentasi berarti yang berikut ini: Perdagangan bebas meningkatkan tenaga-tenaga produktif. Jika industri terus bertumbuh, jika kekayaan, jika kekuatan produktif, jika-singkatnya-modal produktif meningkat, permintaan akan tenaga kerja, harga tenaga kerja, dan sebagai konsekuensinya tingkat upah-upah, naik juga.
Kondisi paling menguntungkan bagi kaum buruh adalah pertumbuhan modal. Ini mesti diakui. Jika modal tetap saja (tidak bergerak/stasioner), maka industri tidak hanya tetap saja (tidak bergerak) tetapi akan merosot, dan dalam kasus ini si buruh akan yang pertama menjadi korban. Ia akan menghadapi dinding sebelum si kapitalis. Dan dalam hal modal terus bertumbuh, dalam keadaan-keadaan yang kita katakan yang terbaik bagi si buruh, apakah yang menjadi nasibnya? Ia akan tetap menubruk dinding itu juga. Pertumbuhan modal produktif berarti akumulasi dan konsentrasi modal. Sentralisasi modal melibatkan suatu pembagian kerja yang lebih besar dan penggunaan mesin secara lebih luas. Lebih besarnya pembagian kerja terutama menghancurkan ketrampilan si pekerja; dan dengan menggantikan pekerjaan trampil ini dengan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh siapapun, maka akan ditingkatkanlah persaingan di antara kaum buruh.
Persaingan ini menjadi semakin sengit karena pembagian kerja memungkinkan seorang pekerja tunggal melakukan pekerjaan tiga orang. Mesin menghasilkan hal serupa dalam skala jauh lebih besar. Pertumbuhan modal produktif yang memaksa kaum kapitalis industri bekerja dengan alat-alat yang terus-menerus meningkat, menghancurkan para industrialis kecil dan menghempaskan mereka menjadi proletariat. Kemudian, jatuhnya tingkat bunga dalam proporsi berakumulasinya modal, para rentenir kecil yang tidak dapat lagi hidup dari dividen-dividen mereka, terpaksa memasuki industri dan dengan demikian membengkakkan jumlah kaum proletar.
Demikianlah dengan bertumbuhnya modal produktif, persaingan di antara kaum buruh bertumbuh dalam proporsi yang jauh lebih besar. Anugrah kerja berkurang untuk semua pihak dan beban kerja meningkat bagi sementara pihak.
Pada tahun 1829 terdapat 1.088 pemintal kapas yang bekerja di 36 pabrik di Manchester. Pada tahun 1844 terdapat lebih dari 448 pabrik dan mereka mengerjakan 53.353 kumparan (buluh/gelondong) lebih banyak daripada yang dikerjakan 1.088 pemintal di tahun 1829. Jika pekerja manual telah meningkat dalam proporsi yang sama seperti tenaga produktif itu, maka jumlah pemintal mestinya telah mencapai angka 1.848 orang; kemajuan permesinan telah-oleh karenanya-merampas 1.100 pekerja dari pekerjaan.
Kita mengetahui sebelumnya jawaban para ahli ekonomi. Orang-orang yang dengan demikian terampas pekerjaan, demikian mereka berkata, akan mendapatkan jenis-jenis pekerjaan lainnya. Dr. Bowring mereproduksi argumen ini pada Kongres Para Ahli Ekonomi, tetapi ia juga mengemukakan penolakannya sendiri.
Pada tahun 1835 Dr. Bowring berpidato di Parlemen mengenai 50.000 penenun tangan kota London yang untuk waktu yang lama sekali menderita kelaparan karena tidak mendapatkan pekerjaan jenis baru yang diiming-imingkan para pedagang-bebas dari kejauhan.
Akan kita berikan di sini bagian-bagian pidato Dr. Bowring yang paling mencolok:
"Kecemasan para penenun ini ... adalah suatu kondisi yang tidak terelakkan dari jenis pekerjaan yang dapat dengan mudah dikuasai-dan terus-menerus diselangi dan digantikan oleh cara-cara produksi yang lebih murah. Suatu penghentian permintaan yang singkat, ketika persaingan akan pekerjaan itu begitu besarnya…. mengakibatkan suatu krisis. Para penenun tangan berada di pinggir keadaan di mana kehidupan manusia nyaris tidak dapat bertahan, dan suatu persoalan remeh-temeh saja menghempaskan mereka ke wilayah kelaparan ...
P"erbaikan-perbaikan permesinan,... dengan semakin digantikannya kerja manusia, tanpa bisa dicegah lagi membawa dengannya dalam peralihan itu banyak sekali penderitaan temporer.... Kebaikan nasional tidak dapat diperoleh kecuali dengan penyertaan keburukan individual. Tiada kemajuan pernah diciptakan di dalam manufaktur kecuali dengan biaya tertentu bagi mereka yang berada di urutan belakang; dan dari semua penemuan, mesin tenun adalah yang secara paling langsung membebani kondisi para penenun tangan. Ia sudah tergusur dari wilayah itu dalam banyak hal; ia secara tidak terelakkan akan dipaksa menyerah di banyak wilayah lainnya."
Lebih lanjut dikatakannya:
"Dalam tangan saya ada surat-menyurat yang berlangsung antara Gubernur Jendral India dan East-India Company, mengenai masalah para penenun tangan Dacca… Beberapa tahun berselang East -India Company per tahunnya menerima produk alat tenun India sebanyak 6 juta hingga 8 juta potong barang katun. Permintaan secara berangsur-angsur turun hingga 1 juta dan kini nyaris berhenti sama sekali. Pada tahun 1800, Amerika Serikat mengambil hyampir 800.000 potong katun dari India; dalam tahun 1830, tidak sampai 4.000. Dalanm tahun 1800, 1 juta potong dikapalkan ke Portugal; dalam tahun 1830, hanya 20.000. Sungguh mengerikan adalah laporan-laporan mengenai penderitaan para penenun miskin India, yang terpuruk hingga kelaparan total. Dan apakah yang menjadi sebabnya? Kehadiran manufaktur Inggris yang lebih murah… Jumlah besar dari mereka mati karena kelaparan, yang selebihnya, untuk sebagian besar, dipindahkan ke pekerjaan-pekerjaan lainnya, terutama ke agrikultural. Tidak berganti pekerjaan mereka berarti kelaparan yang pasti. Dan pada saat ini, ketika distrik Dacca disuplai dengan benang dan kain katun dari mesin-mesin tenun Inggris…. Kain muslin Dacca, yang termashur di seluruh dunia karena keindahan dan kehalusannya, juga dihancurkan karena sebab serupa. Dan penderitaan sekarang, bagi banyak klas di India, nyaris tidak terbandingi dalam sejarah perdagangan."
Pidato Dr. Bowring semakin besar artinya karena fakta yang disebutkannya itu adalah sangat eksak, dan kalimat-kalimat yang dipakainya untuk melunakkan (fakta itu) sepenuhnya dikarakterisasi oleh kemunafikan yang bersifat umum pada semua kutbah perdagangan bebas. Ia mengemukakan kaum buruh sebagai alat produksi yang mesti digantikan oleh alat-alat produksi yang lebih murah. Ia berlagak melihat dalam kerja yang dibicarakan itu suatu jenis kerja yang sepenuhnya merupakan pengecualian, dan dalam mesin yang telah menggusur para penenun itu sebuah mesin yang sama luar-biasanya. Ia lupa bahwa tidak ada jenis kerja manual yang pada setiap saat dapat mengalami nasib yang sama dari para penenun tangan.
"Sesungguhnya, menjadi tujuan dan kecenderungan yang terus-menerus setiap perbaikan dalam permesinan untuk sama sekali menggantikan kerja manusia, atau untuk mengurangi ongkosnya dengan menggantikan kerja kaum laki-laki dengan kerja kaum perempuan dan anak-anak; atau dari para tukang terlatih dengan kerja pekerja biasa. Di kebanyakan pabrik katun tenaga air atau penganyam, pemintalan seluruhnya dikerjakan oleh kaum perempuan dari usia enambelas tahun ke atas. Akibat penggantian keledai biasa dengan keledai yang bergerak-sendiri adalah untuk melepaskan bagian besar pemintal laki-laki dan untuk mempertahankan remaja dan anak-anak."
Kata-kata dari pedagang-bebas yang paling bersemangat, Dr. Ure ini, adalah untuk melengkapi pengakuan-pengakuan Dr. Bowring. Dr. Bowring berbicara tentang kebatilan-kebatilan individual tertentu, dan, bersamaan dengan itu, mengatakan bahwa kejahatan-kejahatan individual ini menghancurkan klas-klas secara menyeluruh; ia berbicara tentang penderitaan temporer selama periode peralihan, dan justru pada saat berbicara mengenai itui, ia tidak mengingkari bahwa kejahatan-kejahatan temporer ini bagi mayoritas berarti peralihan dari kehidupan pada kematian, dan bagi selebihnya orang berarti suatu peralihan dari keadaan yang lebih baik pada keadaan yang paling buruk. Jika ia menyatakan, selanjutnya, bahwa penderitaan kaum buruh ini tidak terpisahkan dari kemajuan industri, dan memang perlu bagi kemakmuran nasion, maka ia dengan seenaknya saja mengatakan bahwa kemakmuran klas borjuis mempersyaratkan penderitaan klas pekerja.
Segala hiburan yang ditawarkan Dr. Bowring pada kaum buruh yang mendapat celaka, dan sesungguhnyalah, seluruh doktrin mengenai kompensasi yang dikemukakan oleh para pedagang-bebas, adalah sebagai berikut:
Kalian, beribu-ribu kaum buruh yang sedang mendapat celaka, janganlah berputus-asa! Kalian dapat meninggal dengan hati-nurani yang bersih. Klas kalian tidak akan mendapat celaka. Ia akan selalu berjumlah cukup banyak bagi klas kapitalis untuk mencincang-cincangnya tanpa kemungkinan membasminya sampai habis. Kecuali itu, bagaimana modal dapat diterapkan secara menghasilkan jika ia tidak selalu menjaga pemeliharaan bahan yang dapat dieksploitasinya itu, yaitu kaum buruh, untuk mengeksploitasinya berulang kali?
Tetapi, kecuali itu, mengapa mengedepankan sebagai masalah yang masih harus dipecahkan: Pengaruh apakah yang dihadapi penerimaan perdagangan bebas itu atas kondisi kelas pekerja? Semua undang-undang yang dirumuskan oleh para ahli ekonomi politik dari Quesnay hingga Ricardo telah didasarkan atas hipostesis bahwa belenggu-belenggu yang masih mengganggu kebebasan perdagangan telah menghilang. Undang-undang ini telah dikonfirmasi secara proporsional dengan penerimaan perdagangan bebas. Yang pertama dari undang-undang ini ialah bahwa persaingan menurunkan harga setiap barang-dagangan ke ongkos produksi minimum.Dengan demikian maka upah-upah minimum adalah harga wajar dari kerja. Dan apakah upah-upah minimum itu? Ialah sebesar yang diperlukan bagi produksi barang-barang yang tidak bisa tidak ada bagi pemeliharaan kaum buruh, demi menempatkannya dalam suatu posisi untuk mempertahankan dirinya sendiri, betapapun buruknya, dan untuk mengembang-biakkan dirinya, betapapun terbatasnya.
Tetapi jangan membayangkan bahwa pekerja itu hanya menerima upah minimum ini, dan lebih-lebih lagi, bahwa ia selalu menerimanya.
Tidak, menurut hukum ini, klas pekerja kadang-kadang akan lebih mujur. Ia kadang-kala akan menerima sedikit di atas minimum itu, tetapi surplus ini hanya sekedar menutup defisit yang diterimanya di bawah minimum itu pada masa kemacetan industrial. Ini berarti, bahwa selama suatu waktu tertentu yang berlangsung secara berkala, di dalam daur yang dilalui industri sambil mengalami perubahan-perubahan dalam kesejahteraan, kelebihan produksi, stagnasi dan krisis, dengan memperhitungkan segala yang telah didapatkan oleh kelas pekjerja di atas dan di bawah kebutuhan-kebutuhan, kita akan melihat bahwa, dalam keseluruhannya ia tidak akan menerima lebih atau kurang daripada yang minimum itu: yaitu, klas pekerja bertahan diri sebagai suatu klas setelah menderitakan berapa saja kesengsaraan dan kemalangan, dan setelah meninggalkan banyak mayat di atas medan perang industrial. Lalu apa? Klas itu masih tetap eksis; bahkan lebih dari itu: ia telah meningkat jumlahnya.
Tetapi ini belum semuanya. Kemajuan industri menciptakan keperluan-keperluan hidup yang lebih murah. Demikianlah minuman-minuman keras telah menggantikan bir, katun menggantikan wol dan lenan, dan kentang menggantikan roti.
Demikianlah, dengan terus menerus ditemukannya cara-cara untuk memelihara kerja dengan makanan yang lebih murah dan menyedihkan, minimumnya upah-upah terus menerus berkurang. Jika upah-upah ini dimulai dengan membuat manusia bekerja untuk hidup, itu berakhir dengan membuatnya menjalani kehidupan sebuah mesin. Keberadaannya tidak mempunyai nilai telah daripada nilai sebuah tenaga produksi yang sederhana, dan si kapitalis memperlakukannya bersesuaian dengan itu.
Hukum kerja barang-dagangan ini, hukum upah-upah minimum, akan terus diperkuat dalam proporsi sebagaimana perkiraan kaum ahli ekonomi, perdagangan bebas, menjadi suatu kenyataan aktual. Demikianlah, dari dua hal itu: atau kita mesti menolak semua ekonomi politik yang didasarkan atas asumsi perdagangan bebas, atau kita mesti mengakui bahwa di bawah perdagangan bebas ini, seluruh keparahan hukum-hukum ekonomi akan jatuh ke atas bahu kaum pekerja.
Sebagai kesimpulan, apakah perdagangan bebas itu di bawah kondisi-kondisi masyarakat sekarang? Ia adalah kebebasan modal. Manakala penghalang-penghalang nasional yang masih membatasi kemajuan modal itu telah ditumbangkan, maka itu cuma berarti telah diberikan kebebasan penuh untuk beraksi. Selama hubungan kerja upahan dan modal dibiarkan eksis, tidaklah penting mengenai betapa menguntungkan kondisi-kondisi pertukaran barang-barang dagangan berlangsung, selalu akan ada suatu klas yang akan mengeksploitasi dan suatu klas yang akan dieksploitasi. Sungguh sulit dimengerti klaim para pedagang-bebas yang membayangkan bahwa semakin menguntungkannya penerapan modal akan menghapuskan antagonisme di antara para kapitalis industrial dan buruh upahan. Sebaliknya, satu-satunya hasil ialah bahwa antagonisme dari kedua klas ini akan menonjol dengan semakin jelasnya.
Marilah kita untuk sesaat lamanya berasumsi bahwa tidak ada lagi Undang-undang Gandum atau bea-bea masuk lokal atau nasional; kenyataannya bahwa semua keadaan aksidental yang dewasa ini dipandang oleh kaum buruh sebagai penyebab keadaannya yang menyedihkan itu telah sepenuhnya lenyap, dan anda akan menyingkirkan begitu banyak tirai yang telah menyembunyikan musuh-sesungguhnya dari penglihatan anda.
Ia akan melihat bahwa menjadi bebasnya modal tidak akan lebih mengurangi kenyataan dirinya sebagai budak ketimbang dari modal yang diganggu habis oleh bea-bea masuk.
Tuan-tuan! Jangan biarkan diri kalian dikecohkan oleh kata abstrak kebebasan itu. Kebebasan siapa? Itu bukan kebebasan dari seorang individu dalam hubungannya dengan individu lainnya, tetapi adalah kebebasan modal untuk menggencet kaum buruh.
Buat apa menghasratkan diperkenankannya persaingan bebas dengan ide kebebasan ini, ketika kebebasan hanyalah produk dari suatu keadaan yang didasarkan pada persaingan bebas?
Kita telah menunjukkan jenis apakah yang telah diperoleh persaudaraan perdagangan bebas di antrara berbagai klas dari nasion yang satu dan sama itu. Persaudaraan yang akan ditegakkan oleh perdagangan bebas antara bangsa-bangsa di atas bumi ini akan nyaris lebih bersaudara. Menyebutkan eksploitasi kosmopolitan sebagai persaudaraan universal adalah suatu gagasan yang hanya mungkin dilahirkan dalam benak klas burjuasi. Semua gejala destruktif yang ditimbulkan oleh persaingan tanpa batas di suatu negeri telah direproduksi dalam proporsi-proporsi yang lebih meraksasa di pasar dunia. Kita tidak perlu membahas lebih lanjut mengenai sofisme perdagangan bebas perihal ini, yang nilainya cuma sederajat argumen-argumen para pemenang-hadiah kita: tuan-tuan Hope, Morse dan Greg.
Misalnya, kita diberitahu bahwa perdagangan bebas akan menciptakan suatu pembagian kerja internasional, dan dengan begitu memberikan produksi pada setiap negeri yang paling selaras dengan kelebihan-kelebihan alamnya
Mungkin kalian percaya, tuan-tuan, bahwa produksi kopi dan gula adalah takdir alami dari Hindia Barat.
Dua abad yang lalu, alam yang tidak merepotkan dirinya dengan perdagangan, tidak menanamkan tebu ataupun pohon-pohon kopi di sana.
Dan mungkin saja bahwa dalam waktu kurang dari setengah abad anda tidak akan menemui di sana kopi maupun gula, karena Hindia Timur, dengan cara produksi yang lebih murah, telah berhasil melawan yang dianggap takdir alami dari Hindia Barat. Dan Hindia Barat dengan kekayaan alamnya, sudah menrupakan suatu beban berat bagi Inggris seperti para penenum Dacca, yang juga ditakdirkan sejak awal zaman bertenun dengan tangan.
Satu hal yang jangan sampai dilupakan, yaitu, bahwa dengan menjadinya segala sesuatu suatu monopoli, dewasa ini terdapat juga beberapa cabang industri yang mendominasi semua industri lainnya, dan menjamin pada bangsa yang paling berhasil membudidayakannya, kekuasaan atas pasar dunia. Demikianlah dalam perdagangan internasional hanya kapas yang memiliki arti penting komersial yang jauh lebih besar daripada semua bahan mentah lainnya yang digunakan dalam manufaktur pakaian. Sungguh ganjil melihat para pedagang-bebas memberi penekanan pada beberapa pengistimewaan di setiap cabang industri, melemparkan itu ke dalam perimbangan terhadap produk-produk yang dipakai dalam konsumsi sehari-hari dan yang diproduksi secara paling murah di negeri-negeri di mana manufaktur telah berkembang paling maju.
Jika kaum pedagang-bebas tidak dapat mengerti bagaimana satu nasion dapat bertumbuh kaya sekali dengan merugikan nasion lain, kita tidak perlu heran, karena tuan-tuan yang sama ini pula yang juga menolak untuk memahami bagaimana di dalam satu negeri satu klas dapat memperkaya dirinya sendiri dengan merugikan klas lainnya.
Jangan berkhayal, tuan-tuan, bahwa dalam mengkritik perdagangan bebas kita sekurang-kurangnya beriktikad untuk membela sistem perlindungan/proteksi.
Orang boleh-boleh saja menyatakan dirinya sebagai musuh rejim konstitusional tanpa menyatakan dirinya seorang sahabat dari rejim lama.
Lagi pula, sistem proteksionis tidak lain dan tidak bukan hanyalah satu cara untuk menegakkan industri skala besar di suatu negeri tertentu, yaitu, membuatnya bergantung pada pasar dunia, dan dari saat ditegakkannya ketergantungan pada pasar dunia itu, sudah ada kurang-lebih suatu ketergantungan pada perdagangan bebas. Di samping itu, sistem proteksionis membantu pengembangan persaingan bebas di dalam suatu negeri. Karena itu kita melihat bahwa di negeri-negeri di mana kaum burjuasi mulai membuat dirinya dirasakan sebagai suatu klas, di Jerman misalnya, ia nelakukan usaha-usaha kuat untuk memperoleh bea-bea masuk protektif. Ini dipakai oleh burjuasi sebagai senjata-senjata melawan feodalisme dan pemerintahan absolut, sebagai alat untuk mengonsentrasikan kekuatan-kekuatannya sendiri dan bagi realisasi perdangan bebas di dalam negeri itu pula.
Tetapi, pada umumnya, sistem protekstif zaman sekarang adalah bersifat konservatif, sedangkan sistem perdagangan bebas adalah destruktif. Ia membongkar nasionalitas-nasionalitas lama dan mendorong antagonisme dari proletariat dan burjuasi pada titik paling ekstrem. Singkat kata, sistem perdagangan bebas mempercepat revolusi sosial.
Adalah dalam pengertian revolusioner ini saja, tuan-tuan, saya menyatakan persetujuan saya mengenai perdagangan bebas.
Berlin, 1859, hal.61-64
Teori mengenai waktu kerja sebagai suatu satuan uang seketika untuk pertama kali dikembangkan secara sistematikal oleh John Gray.[1]
Ia membuat sebuah Bank Sentral nasional –melalui cabang-cabangnya– menetapkan dengan resmi waktu kerja yang dicurahkan dalam produksi berbagai barang-dagangan. Sebagai gantinya (pertukaran) barangdagangan itu, produser menerima suatu sertifikat resmi nilai tsb., yaitu suatu tanda-terima untuk sekian banyak waktu kerja yang dikandung barang-dagangannya,[2] dan kertas-kertas uang dari seminggu kerja, sehari kerja, sejam kerja dsb. sekaligus berlaku sebagai suatu klaim atas ekuivalen (kesetaraan) dalam semua barang-dagangan yang tersimpan dalam gudang-gudang bank itu.[3] Ini adalah azas dasar yang digarap secara penuh keberhati-hatian secara terinci dan sepenuhnya diadaptasikan pada lembaga-lembaga Inggreis yang ada. Dengan sistem ini, demikian Gray berkata, “menjual untuk uang dapat dianggap –di segala waktu– presis sama mudahnya sekarang ini untuk membeli dengan uang; produksi akan menjadi sumber permintaan yang seragam dan tidak pernah gagal.”[4] Logam-logam berharga akan kehilangan “privilese”-nya atas barang-barang dagangan lainnya dan akan “mengambil tempatnya yang selayaknya di pasar di samping mentega dan telur, dan kain dan kaliko, dan kemudian nilai logam-logam berharga akan kurang merepotkan kita seperti nilai batu intan.”[5] “Akankah kita mempertahankan standar nilai kita yang fiktif itu, emas, dan dengan begitu menahan sumber-sumber produktif negeri dalam kungkungan? atau akankah kita beralih pada standar nilai yang alamiah, yaitu kerja, dan dengan demikian membebaskan sumber-sumber produktif kita?”[6]
Karena waktu kerja merupakan ukuran nilai secara tetap (immanen), mengapa mesti ada ukuran eksternal lain di sampingnya? Mengapa nilai tukar berkembang menjadi harga? Mengapa semua barang-dagangan mendapatkan nilainya diperkirakan dalam satu barang-dagangan eksklusif, yang dengan demikian ditransformasi menjadi keberadaan selayaknya dari nilai tukar, yaitu menjadi uang? Inilah permasalahan yang mesti dipecahkan oleh Gray.
Gantinya memecahkannya, ia membayangkan bahwa barang-barang dagangan dapat mempunyai suatu hubungan langsung/seketika satu sama lain sebagai produk-produk kerja sosial. Namun, mereka dapat hanya mempunyai satu hubungan satu sama lainnya sebagai apa adanya mereka itu. Barang-barang dagangan adalah –secara seketika/langsung– produk-produk satuan-satuan kerja terisolasi, bebas, perseorangan yang mesti dikukuhkan sebagai kerja sosial umum oleh alienasinya dalam proses pertukaran perseorangan, atau kerja atas dasar produksi barang-dagangan khanya menjadi kerja sosial oleh alienasi menyeluruh dari satuan-satuan kerja individual. Tetapi apabila Gray menggantikan waktu kerja yang terkandung dalam barang-barang dagangan sebagai “langsung/seketika sosial,” maka ia menggantikan itu sebagai kerja sosial atau waktu kerja dari individu-individu yang secara langsung/seketika berasosiasi. Dengan demikian, sesungguhnya, suatu barang-dagangan khusus, seperti emas atau perak, tidak akan dapat dikontraskan dengan barang-barang dagangan lainnya sebagai inkarnasi kerja umum, nilai tukar tidak akan menjadi harga, begitu pula nilai pakai tidak menjadi nilai tukar, produk itu tidak akan menjadi suatu barang-dagangan dan dengan begitu landasan produksi burjuis akan lenyap bersamanya. Tetapi ini sama sekali bukan pendapat Gray. “Produk-produk mesti diproduksi sebagai barang-barang dagangan, tetapi tidak dipertukarkan sebagai barang-barang dagangan.”
Gray menyerahkan kepada sebuah Bank nasional pengeksekusian keinginan/harapan saleh ini. Di sdatu pihak, masyarakat dalam bentuk bank itu memnjadikan individu-individu bebas atas kondisi pertukaran perseorangan, dan, di lain pihak, masyarakat membuat mereka terus memproduksi atas dasar pertukaran perseorangan. Sementara itu, logika intern mendorong Gray menolak suatu kondisi produksi burjuis demi kondisi produksi burjuis lainnya, sekalipun ia hanya bermaksud “mereform” uang yang timbul dari pertukaran barang-dagangan.
Demikianlah ia mengubah modal menjadi modal nasional,[7] pemilikan tanah menjadi pemilikan nasional,[8] dan jika banknya diperiksa dengan cermat, maka akan didapatkan bahwa itu tidak sekedar menerima barang-barang dagangan dengan tangan sebelah dan dengan tangan lainnya mengeluarkan sertifikat-sertifikat kerja yang disuplai, melainkan bahwa itu meregulasi produksi itu sendiri. Dalam karya terakhirnya, Lectures on Money, di dalam mana Gray dengan cemas berusaha merepresentasikan uang kerja-nya sebagai suatu reform burjuis semurninya, ia menjerumuskan dirinya dalam omong kosong yang tidak ketolongan lagi.
Setiap barang-dagangan seketika ada uang. Inilah teori Gray, yang disimpulkkan dari analisis mengenai barang-barang dagangan yang tidak lengkap dan karenanya palsu. Konstruksi “organik” dari “uang kerja” dan “bank nasional” dan “gudang-gudang barang-dagangan” hanya sebuah gambaran impian, di dalam mana dogma disuapkan sebagai suatu hukum universal. Dogma bahwa suatu barang-dagangan seketika adalah uang, atau bahwa kerja tertentu dari individual perseorangan yang dikandung di dalamnya adalah kerja sosial seketika/langsung, dengan tidak dengan sendirinya benar oleh bank yang mempercayai hal itu dan yang beroperasi sesuai dengan kepercayaan itu. Dalam kasus seperti itu, sangat besar kemungkinannya kebangkrutan akan mengganti kritisisme praktis. Yang tersembunyi pada Gray dan memang tetap sebuah rahasia bahkan bagi dirinya sendiri, yaitu, bahwa uang kerja adalah suatu ungkapan/ frase yang kedengaran-ekonomik bagi keinginan saleh untuk melepaskan diri dari uang, dan dengan uang mengenyahkan nilai tukar, dan dengan nilai tukar mengenyahkan barang-barang dagangan, dan dengan barangbarang dagangan mengenyahkan sistem produksi burjuis, ini diucapkan secara blak-blakan oleh sementara Sosialis Inggris yang sebagian telah menulis sebelum dan sebagian lagi setelah Gray.[9] Tetapi dicadangkan bagi Proudhon dan ajarannya untuk dengan serius mengkhotbahkan tentang degradasi uang dan naiknya ke surga “barang-barang dagangan” sebagai inti sosialisme dan dengan begitu menguraikan sosialisme menjadi suatu kesalahfahaman mengenai keharusan hubungan antara barang-barang dagangan dan uang.[10]


[1] John Gray: The Social System, etc. A Treatise on the Principle of Exchange, Edinburgh 1831. Bandingkan Lectures on the Nature and Use of Money, Edinburgh 1848, oleh penulis yang sama. Setelah Revolusi Februari, Gray mengirimkan sebuah memorandum pada Pemerintah Sementara Perancis, di dalam surat itu ia menyatakan bahwa Perancis tidak memerlukan sebuah organisasi kerja, tetapi memerlukan sebuah organisasi pertukaran, yang rencananya, jika disusun selengkapnya, terkandung di dalam sistem uang yang telah dibuat penemuannya. John yang baik itu tidak menyadari bahwa enam-belas tahun sesudah permunculan The Social System, sebuah paten untuk penemuan yang sama akan diklaim oleh Proudhon yang banyak akal itu.
[2] Gray, The Social System, dst. hal.63. “Uang mestinya cuma sekedar tanda-terima, sebuah bukti bahwa pemegangnya telah menyumbang ksuatu nilai tertentu pada persaediaan kekayaan nasional, atau bahwa ia telah memperoleh hak atas nilai tersebut dari seseorang yang mempunyai sumbangan pada nilai tersebut.”
[3] “Suatu nilai perkiraan yang sebelumnya telah diberikan pada produk, biarlah itu disimpan di sebuah bank, dan ditarik lagi kapan itu diperlukan; yang sekedar menentukan, berdasarkan kesepakatan umum, bahwa siapapun yang menyimpan suatu jenis kepemilikan pada Bank nasional yang dimaksud itu, dapat mengeluarkan darinya suatu nilai yang sama dari (berapapun) yang dikandungnya, tanpa diharuskan untuk mengeluarkan barang yang telah disimpankan (di Bank) tsb.” Loc.cit. hal. 68.
[4] Loc.cit. hal. 16
[5] Gray, Lectures on Money, etc. hal.182-183.
[6] Loc.cit. hal. 169.
[7] “Bisnis setiap bangsa akan dilakukan atas dasar suatu modal nasional.” (John Gray: The Social System, dst. hal.171.) '
[8] “Tanah itu mesti dikonversi menjadi milik nasional.” ( Loc.cit., hal. 208.)
[9] Lihat misalnya: W. Thompson: An Inquiry into the Distribution of Wealth, etc. London 1824; Bray: Labour’s Wrongs and Labour’s Remedy, Leeds 1839.
[10] Dapat dianggap sebagai sebuah kompendum dramatikal dari teori tentang uang adalah: Alfred Darimont: De la reforme des banques, Paris 1856.

Surat Marx pada J.B. Schweitzer London, 24 Januari 1865

Dengan hormat,
Kemarin saya menerima surat di mana anda minta dari saya suatu penilaian terinci tentang Proudhon. Kekurangan akan waktu menghalangi saya untuk memenuhi keinginan anda. Ditambah pula kenyataan bahwa saya tidak memiliki satupun dari karya-karyanya. Namun begitu, agar meyakinkan anda akan iktikad baik saya, dengan ini saya dengan buru-buru menyampaikan beberapa catatan singkat. Anda dapat melengkapinya, menambahkan atau memotongnya – singkat kata, boleh melakukan apa saja sesuai keinginan anda.[51]
Saya tidak ingat lagi akan usaha-usaha paling dini dari Proudhon. Karya sekolahnya mengenai Langue Universelle [Bahasa Universal] membuktikan betapa tanpa keengganan sedikitpun ia menyerang masalah-masalah yang mengenai pemecahannya ia bahkan tidak memiliki unsur-unsur pengetahuan paling utama mengenainya.
Karya pertamanya, Qu’est ce que la propriete? [ Apakah Hak Pemilikan itu?], “jelas-jelas karyanya yang terbaik.” Karya itu jmembuat sejarah. Kalaupun bukan karena isinya yang baru, setidak-tidaknya karena caranya yang baru dan berani dalam memaparkan segala sesuatu. Sudah tentu “hak milik” tidak saja telah dikritik dengan berbagai cara, tetapi juga “telah dibereskan” secara utopian oleh kaum Sosialis dan Komunis Perancis yang karya-karyanya telah dikenalnya. Dalam buku itu hubungan Proudhon dengan Saint-Simon dan Fourier adalah kurang lebih sama dengan hubungan Feuerbach dengan Hegel. Dibandingkan dengan Hegel, Feuerbach itu sangat-sangatlah miskinnya. Namun begitu ia tetap membuat-sejarah “setelah” Hegel karena ia memberi “tekanan” pada hal-hal tertentu yang tidak sesuai dengan kesadaran Kristiani, tetapi penting bagi kemajuan kritisisme, dan yang telah ditinggalkan dalam kekaburan-mistikal oleh Hegel.
Gaya Proudhon yang masih kuat berotot, kalau boleh saya memakai ungkapan ini, berdominasi dalam buku ini. Dan gayanya itu menurut pendapat saya adalah kelebihannya yang utama.
Bahkan di mana ia cuma mereproduksi bahan lama, orang dapat menyaksikan bahwa Proudhon telah menemukannya sendiri bagi dirinya, bahwa apa yang dikatakan itu adalah baru baginya dan berperingkat sebagai sesuatu yang baru. Penolakannya yang provokatif, menyinggung pada “kekeramatan” ekonomi yang “paling keramat,” paradoks cemerlang yang membuat tertawaan kelaziman pikiran borjuis, kritisisme yang meluluhkan, ironi penuh kegetiran, dan, terangkat di sana sini di balik semua itu, suatu perasaan kemarahan yang mendalam dan sejati terhadap kenistaan tatanan yang berkuasa, suatu kesungguh-sungguhan revolusioner – semua ini mencekam para pembaca Apakah Hak Milik itu? Dan menimbulkan suatu kehebohan besar pada permunculannya yang pertama kali. Dalam sejarah mengenai ekonomi politik yang sepenuh-penuhnya ilmiah, buku itu nyaris tak patut disebut-sebut. Tetapi karya-karya sensasional jenis ini memainkan peranannya di dalam ilmuilmu pengetahuan tepat sebagaimana dalam sejarah novel. Ambil saja, misalnya, buku Malthus tentang “Kependudukan.” Pada edisi pertamanya itu tidak lain dan tidak bukan hanya sebuah
“pamflet sensasional” dan “plagiarisme” dari awal hingga akhirnya. Namun begitu, betapa telah ditimbulkan suatu “stimulus” oleh “fitnah terhadap bangsa manusia” ini!
Seandainya ada buku Proudhon di hadapan saya, dengan mudah saya dapat memberikan beberapa contoh untuk menggambarkan gaya awalnya itu. Dalam pasase-pasase yang ia sendiri pandang sebagai yang paling penting ia menirukan cara Kant memperlakukan “antinomy-antinomi” – Kant, yang karya-karyanya telah Proudhon baca dalam terjemahan-terjemahan, pada waktu itu satu-satunya filsuf Jerman yang dikenalnya – dan ia memberikan kesan yang kuat bahwa bagi dirinya – seperti bagi Kant – penyelesaian antinomi-antinmomi itu adalah sesuatu “yang berada di luar” pemahaman manusia, yaitu, sesuatu yang tentanya pengertiannya sendiri sepenuhnya berada dalam kegelapan.
Tetapi walaupun segala ikonoklasme (penghancuran patung ‘kesucian’) nya itu, dalam Apakah Hak Milik itu? Orang sudah dapat menjumpai kontrtadiksi bahwa Proudhon –di satu pihak– sedang mengritik masyarakat dari sudut pandang dan dengan mata seorang petani kecil Perancis (kemudian burjuis kecil) dan, di lain pihak, dengan standar-standar yang diambil dari warisannya dari kaum Sosialis.
Kekurangan buku itu ditandakan oleh judulnya sendiri.
Pertanyaannya telah dirumuskan sedemikian sesatnya sehingga ia tidak dapat dijawab secara tepat. “Hubungan-hubungan pemilikan kuno” telah diserap-habis oleh hubungan-hubungan pemilikan “feodal” dan ini oleh hubungan-hubungan kepemilikan “borjuis.” Demikianlah sejarah sendiri telah mempraktekkan kritiknya terhadap “hubungan-hubungan pemilikan” yang lalu. Yang sesungguhnya dihadapi oleh Proudhon adalah “hak milik/pemilikan burjuis modern” sebagaimana itu adanya sekarang. Pertanyaan mengenai apakah ini hanya dapat dijawab dengan suatu analisis kritikal mengenai “ekonomi politik,” yang meliputi “hubungan-hubungan pemilikan” ini sebagai suatu keseluruhan, tidak dalam ungkapan legalnya nyera sebagai “hubungan-hubungan volunter” tetapi dalam bentuk mereka yang sebenarnya, yuaitu, sebagai “hubungan-hubungan produksi.” Tetapi karena ia telah meruwetkan keseluruhan hubungan-hubungan ekonomi ini dalam konsep umum juristik mengenai “hak milik/pemilikan,” Proudhon telah meruwetkan dirinya sendiri dalam segala macam fantasi, yang bahkan kabur bagi dirinya sendiri, tentang “hak milik/pemilikan borjuis yang sesungguhnya.”
Selama saya tinggal di Paris pada tahun 1844 saya berkontrak pribadi dengan Proudhon. Saya menyebutkan hal ini karena hingga batas tertentu saya juga mesti menanggung kesalahan atas “sofistikasi/kecanggihan”- nya, sebagaimana orang Inggris menyebutkan pendewaan barang-barang komersial itu. Dalam berlangsungnya perdebatan-perdebatan yang berkepanjangan, yang kadang-kadang berlangsung sepanjang malam, saya telah menginfeksi Proudhon –demi kejangkitannya yang parah– dengan Hegelianisme, yang, karena kekurangannya akan bahasa Jerman, ia tidak dapat mempelajarinya dengan selayaknya. Setelah pengusiran diri saya dari Paris, Herr Karl Grun melanjutkan yang telah saya mulai itu. Sebagai seorang guru filsafat Jerman ia juga mempunyai kelebihan atas diri saya karena ia sendiri sama sekali tidak memahaminya.
Tidak lama sebelum munculnya karya penting Proudhon yang kedua, Phiklosophie de la Misere (Filsafat Kemiskinan), dsb, ia mengumumkannya sendiri pada saya dalam sepucuk surat yang sangat rinci, di dalam manyha ia antara lain mengatakan: “Saya menantikan lecutan kritik anda.” Dan ini segera dialaminya lewat tulisan saya Miserede la Philosophie (Kemiskinan Filsafat), dsb., Paris 1847, dengan cara yang mengakhiri persahabatan (antara) kita untuk selama-lamanya.
Dari yang sudah saya kemukakan dapatlah anda melihat bahwa karya Proudhon Philosophie de la Misere ou Systeme des Contradictions economiques pertama-tama sesungguhnya memuat jawabannya atas pertanyaan Apakah Hak Milik itu? Sebenarnya baru setelah beredarnya karyanya ini M. Proudhon memulai studi-studinya tentang perekonomian; ia telah menemukan bahwa pertanyaan yang dikemukakannya itu tidak dapat dijawab dengan “caci-maki” ( invective), melainkan hanya dengan sebuah “analisis” tentang “ekonomi politik.” Bersamaan dengan itu ia berusaha menyajikan sistem kategori-kategori ekonomi secara dialektikal. Gantinya “antinomi-antinomi” Kant yang tidak terpecahkan, “kontradiksi” Hegelian mesti diintroduksikan sebagai cara/alat perkembangan.
Bagi suatu penilaian atas bukunya, yang ditulis dalam dua jilid tebal, saya mesti merujukkan pada anda, karya yang telah saya tulis sebagai sebuah jawaban. Di situ saya menunjukkan, antara lain, betapa dangkal M. Proudhon telah menyusupi rahasa dialektika ilmiah dan betapa, sebaliknya, ia seia-sekata dalam ilusi-ilusi filsafgat spekuklatif dalam memperlakukan “kategori-kategori ekonomi”; bagaimana gantinya memahami itu sebagai “ungkapan teoritis dari hubungan-hubungan historis dalam produksi , yang bersesuaian pada suatu tahap perkembangan tertentu dalam produksi material,” ia mengubahnya – dengan berkeceknya– menjadi “ide-ide abadi” yang sudah ada sejak awal, dan dengan cara berputar ini sekali lagi kembali pada pendirian ekonomi burjuis.*
Selanjutnya telah juga saya tunjukkan betapa sangat kurang dan kadang-kadang bahkan kekanak-kanakan pengetahuannya mengenai “ekonomi politik” yang hendak dikritiknya, dan bagaimana ia dan kaum utopian memburu apa yang dinamakannya “ilmu” yang dengannya suatu formula bagi “pemecahan masalah sosial” itu akan dipikirkan secara a priori, gantinya mendapatkan ilmu mereka dari suatu pengetahuan kritikal mengenai gerakan historis, suatu gerakan yang sendirinya menciptakan “kondisi-kondisi material dari emansipasi.” Tetapi secara khusus telah saya tunjukkan betapa bingung, salah dan dangkal Proudhon mengenai “nilai tukar,” dasar dari seluruh persoalan, dan bagaimana ia bahkan mencoba menggunakan interpretasi utopian dari teori Ricardo mengenai nilai sebagai landasan suatu ilmu baru. Mengenai titik-pandang umumnya ini saya telah membuat penilaian komprehensif berikut ini:
Setiap hubungan ekonomi memiliki suatu sisi baik dan satu sisi buruk; ini adalah suatu hal yang cukup jelas bagi M. Proudhon. Ia melihat sisi baiknya diuraikan oleh para ahli ekonomi; sisi buruknya ia ketahui ditolak oleh kaum Sosialis. Dari para ahli ekonomi ia meminjam keharusan akan hubungan-hubungan abadi; dari kaum Sosialis ia meminjam ilusi untuk melihat dalam kemiskinan sebagai kemiskinan semata-mata (dan tidak melihat padanya aspek subversif revolusioner yang akan menumbangkan masyarakat lama). Ia berkesepakatan dengan kedua-duanya dalam hal bersandar kembali pada otoritas ilmu. Ilmu baginya menyusutkan diri pada proporsi-proporsi ramping dari sebuah formula ilmiah; ia adalah orang yang dalam pencarian akan formula-formula. Demikianlah M. Proudhon telah mengelu-elukan dirinya sendiri telah membverikan suatu kritik atas ekonomi politik maupun komunisme: ia berada di bawah kedua-duanya. Di bawah kaum akonomis, karena sebagai seorang filsuf yang disikunya memiliki sebuah formula ajaib, ia mengira dirinya dapat melepaskan diri dari keharusan memberikan rincian-rincian yang sepenuhnya ekonomik; di bawah kaum Sosialis, karena ia tidak memiliki kcukup keberanian maupun cukup wawasan untuk naik, biarpun Cuma sekedar spekulatif, di atas kaki-langit burjuis ...
Ia ingin meluncur sebagai orang ilmu di atas kaum borjuis dan kaum proletar; ia Cuma sekedar si borjuis kecil, yang terus-menerus dilempar ke sana ke mari di antara modal dan kerja, ekonomi politik dan komunisme.[52]
Betapapun kerasnya penilaian di atas ini, sekarang ini saya masih tetap membenarkan setiap kata. Bersamaan dengan itu, namun, mestilah diingat bahwa pada waktu saya menyatakan bukunya adalah sandi borjuis kecil mengenai sosialisme dan telah membuktikan hal ini secara teoritis, Proudhon masih dicap sebagai seorang datuk-revolusioner ekstrem oleh para ahli ekonomi politik dan oleh kaum Sosialis. Itulah sebabnya mengapa bahkan kemudian pun saya tidak pernah bergabung dalam pengecaman mengenai “pengkhianatan”-nya (M. Proudhon) terhadap revolusi. Bukanlah kesalahannyta bahwa, sejak awal-mula disalah mengerti oleh orang-orang lain maupun oleh dirinya sendiri, ia telah gagal memenuhi harapan-harapan yang tidak pada tempatnya.
Di dalam Philosophy of Poverty (Filsafat Kemiskinan) semua kekurangan metode penyajian Proudhon menonjol dengan sangat tidak menguntungkan jika dibandingkan dengan What is Property? (Apakah Hak Milik itu?). Gayanya seringkali dalah yang disebut orang Perancis ampoule [bombastik]. Jargon spekulatif yang berkoar-koar, ;yang dianggap sebagai filosofikal-Jerman, secara teratur muncul ketika ketajaman pengertian Gallik-nya meninggalkan dirinya. Suatu nada pengiklanan-diri, menyombongkan-diri, membesar-besarkan diri dan teristimewa ocehannya mengenai ilmu serta pemeragaan bohong, yang senantiasa begitu merendahkan, secara terus-menerus diteriakkan ke telinga orang. Gantinya kehangatan sejati yang memancar dari usaha pertama kalinya, di sini pasase-pasase tertentu secara sistematikal dipacu menjadi suatu kepanasan sesaat lewat retorika. Tambahkan pada hal itu erudisi yang canggung menjijikkan dari orang yang belajar sendiri, yang kebanggaan primitifnya atas keorijinalan pikirannya sendiri telah dipatahkan dan yang kini sebagai seorang parvenu ilmu, merasa perlu mengelembungkan diri sendiri dengan apa yang bukan dirinya dan yang tidak dimilikinya. Maka mentalitas borjuis kecil yang dengan cara brutal dan tak-senonoh –dan, yang secara tidak kena, secara tidak bersungguh-sungguh, bahkan secara tidak tepat– menyerang seseorang seperti Cabet, untuk dihormati akan sikap praktikalnya terhadap proletariat, sementara ia memuji-muji seseorang seperti Dunoyer (seorang Penasehat Negara, memang benar). Padahal seluruh arti-penting Dunoyer ini terletak pada kefanatikan menertawakan dengan mana, diseluruh tidak jilid tebal dan luar-biasa menjemukan, ia mengkhotbahkan ketegaran yang dikarakterisasikan oleh Helvetius sebagai On veut queles malheureux soient parfaits (menuntrut agar yang tidak mujur/beruntung sempurna adanya).
Revolusi Februari jelas tiba pada suatu saat yang sangat tidak tepat bagi Proudhon, yang beberapa minggu sebelumnya secara tidak terbantahkan membuktikan bahwa “era revolusi-revolusi” telah berlalu untuk selamanya. Tampilnya dirinya dalam Majelis Nasional, betapapun gersang akan wawasan yang ditunjukkkannya akan kondisi-kondisi yang ada, patut mendapatkan pujian. Setelah pemberontakan bulan Juni itu adalah suatu tindakan keberanian. Sebagai tambahan itu berakibat kemujuran bahwa M. Thiers, dengan pidatonya yang menentang saran-saran Proudhon, yang ketika itu dikemukakan sebagai suatu publikasi istimewa, membuktikan bagi seluruh Eropa , di atas alas kateketik anak-anak yang bagaimana pilar intelektuan borjuasi Perancis itu diletakkan. Sesungguhnya, dibandingkan dengan M. Thiers, Proudhon telah memuai hingga ke ukuran suatu kolosus ante-diluvian.
“Penemuan Proudhon tentang Credit gratuit [kredit cuma-cuma]” dan “ banque du peuple [bank rakyat]” yang berlandaskan itu, adalah “tindak-tindak” ekonominya yang terakhir. Dalam buku saya A Contribution tothe Critique of Political Economy, Bagian I, Berlin 1859 (hal.59-64), dapat dijumpai bukti bahwa landasan teoritis dari idenya timbul dari suatu kesalah-fahaman mengenai uncur-unsur pertama dari “ekonomi politik” burjuis, yaitu hubungan antara “barang-barang dagangan” dan “uang”; sedangkan bangunan-atas (superstructure) praktikalnya adalah Cuma suatu reproduksi dari skema-skema lebih tua dan yang berkembang jauh lebih baik
Bahwa dalam kondisi-kondisi ekonomi dan politik tertentu, sistem perkreditan dapat berguna untuk mempercepat emansipasi kelas pekerja, presis seperti, misalnya, di awal abad ke delapan-belas dan kemudian pada awal abad ke sembilan- belas di Inggris, ia berguna bagi transfer/pemindahan/peralihan kekayaan kelas yang satu ke kelas yang lainnya, sungguh hal yang tidak usah dipersoalkan, adalah terbukti sendiri. Tetapi untuk menganggap “modal penghasil-bunga sebagai bentuk utama dari modal” sambil mencoba suatu bentuk kredit khusus, peranggapan mengenai penghapusan bunga, sebagai landasan bagi suatu transformasi masyarakat adalah sepenuhnya suatu fantasi “borjuis kecil.” Oleh karenanya fantasia ini, jika dikembangkan lebih lanjut, sudah dapat dijumpai di kalangan “juru bicara ekonomi kaum burjuis kecil Inggris di abad ke tujuh-belas.” Polemik Proudhon dengan Bastiat (1850) tentang modal penghasil-bunga berada di tingkat yang jauh lebih rendah daripada Philosophy of Poverty. Ia berhasil membuat dirinya sendiri diganyang bahkan oleh Bastiat dan berantakan menjadi kegagapan menertawakan ketika lawannya melancarkan gempuran-gempuran dengan mengena sekali.
Beberapa tahun berselang Proudhon –saya kira dihasut oleh pemerintah Lausanne– menulis sebuah esai berhadiah mengenai “Perpajakan.” Disini kerlip kejeniusan terakhir telah dipadamkan. Tiada yang tersisa kecuali keborjuisan-kecil belaka.
Sejauh yang mengenai tulisan-tulisan politik dan filosofinya, kesemuanya menunjukkan watak mendua, kontradiktif yang sama seperti karya-karya ekonominya. Lebih dari itu, nilainya cuma terbatas di Perancis saja. Betapapun serangan-serangannya terhadap agama, gereja dsb. Sangat besar jasanya di negerinya sendiri pada masa kaum Sosialis Perancis beranggapan lebih menguntungkan untuk menunjukkan dengan religiositas mereka betapa lebih unggulnya mereka itu dibanding dengan Voltairianisme burjuis abad ke delapan-belas dan ketidak-berTuhanan Jerman abad ke sembilan-belas. Jika Peter Agung mengalahkan barbarisme Russia dengan Berbaritas, Proudhon berbuat sebisa-bisanya untuk mengalahkan silat-lidah Perancis dengan frase-frase. Karyanya mengenai Coup d”etat, di mana ia bergenit-genitan dengan Louis Bonaparte dan, sesungguhnya, berusaha keras menjadikannya diterima oleh kaum pekerja Perancis, dan karya terakhirnya, yang ditulis terhadap Polandia, di mana demi kemuliaan lebih besar bagi Tsar ia menyatakan sinisisme seorang kerdil, mesti dikarakterisasi sebagai tidak hanya buruk, tetapi sebagai produksi-produksi yang hina; dengan suatu kehinaan yang bersesuaian, namun, dengan titik-pandang borjuis kecil.
Proudhon telah seringkali dibandingkan dengan Rousseau. Tidak ada yang lebih salah daripada ini. Ia adalah lebih seperti Nicolas Linguet, yang karyanya: Theorie des lois civiles, –ini secara sambil lalu–, adalah sebuah buku yang sangat bagus.
Proudhon memiliki suatu kecondongan alamiah akan dialektika. Tetapi, karena ia tidak pernah menangkap dialektika yang benar-benar ilmiah, ia tidak pernah melewati sekedar sofistri. Sesungguhnya ini berkaitan erat dengan titik-pandangan borjuis kecilnya. Seperti ahli sejarah Raumer, sang borjuis kecil terdiri atas “Di Satu Pihak” dan “Di Lain Pihak.” Memang demikianlah dalam kepentingan-kepentingan ekonominya dan “karena itu” dalam politiknya, dalam pandangan-pandangan ilmiah, religius dan artistiknya. Demikian jmuga dalam moralnya, dalam segala hal. Ia suatu kontradiksi yang hidup. Jika, seperti Proudhon, ia kseorang berbakat pula, aka ia akan segera belajar bermain dengan kontradiksi-kontradiksinya sendiri dan mengembangkannya sesuai keadaan menjadi paradoks-pradoks yang mencolok, bermegah-megah, sebentar menghebohkan atau sesaat kemudian cemerlang. Charlatantisme dalam ilmu dan akomodasi dalam politik tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya dari sudut pandangan seperti itu. Yang tinggal hanyalah satu motif yang berkjuasa, “kekenesan” sang subjek, dan satu-satunya persoalan baginya, seperti bagi semua orang kenes, adalah keberhasilan sesaat itu, perhatian sesaat itu. Demikianlah kesadaran moral sederhana, yang senantiasa membuat seorang Rousseau misalnya, jauh dari bahkan yang mendekati kompromi dengan kekuasaan yang bercokol, harus dipadamkan.
Barangkali generasi-generasi masa depan akan menyimpulkan tahap terakhir dari perkembangan Perancis dengan mengatrakan bahwa Louis Bonaparte adalah Napoleon-nya dan Proudhon adalah Rousseau-Voltaire-nya.
Dan kini mesti anda ambil tanggung-jawab atas pundak anda sendiri setelah menimpahkan pada saya peranan menjadi hakim Proudhon, begitu cepat sesudah wafatnya.

Dengan hormat saya,
Karl Marx

[51] Dimuat dalam Sozialdemokrat 1, 3 dan 5 Januari 1865. “Kami menimbang yang terbaik untuk memuat tulisan itu tanpa diubah,” demikian dinyatakan dalam sebuah catatan redaksi. Lihat edisi sekarang, hal.177.
[52] Marx, Kemiskinan Filsafat, “bab. II.” Lihat penerbitan ini hal. 120 .
* “Manakala para ahli ekonomi mengatakan, bahwa hubungan-hubungan dewasa ini –hubungan-hubungan produksi borjuis– adalah alamiah mereka mengartikan bahwa inilah hubungan-hubungan yang menciptakan kekayaan dan tenaga-tenaga produktif dikembangkan bersesuaian dengan hukum-hukum alam. Karenanya hubungan-hubungan ini sendiri adalah hukum-hukum abadi yang mesti selalu memerintah masyarakat. Demikianlah telah ada sejarah, tetapi kini itu tiada lagi” (hal.113 dari karya saya. [Catatan Marx] [Lihat penerbitan ini, hal. 113 – Ed.