Minggu, 07 November 2010

SUARA MAHASISWA, Tanggap Bencana dan Antisipasi Risiko

Sunday, 07 November 2010
POSISI geografis Indonesia menyebabkan berbagai bencana membayangi kehidupan kita setiap waktu. Mulai dari gempa bumi, banjir, tsunami, tanah longsor hingga letusan gunung berapi.

Menunggu 20 tahun

TAJUK RENCANA
Senin, 8 November 2010 | 03:36 WIB

Antisipasi Setelah Bencana 

Belum diketahui kapan semburan awan panas, lava, dan material vulkanik lain Gunung Merapi akan berakhir. Masih perlu kewaspadaan tinggi.

Obama-SBY Versus Globalisasi

Senin, 8 November 2010 | 03:44 WIB

Christianto Wibisono

Tulisan R William Liddle di Kompas tiga hari lalu mengungkap dengan jelas apa yang terjadi di balik layar diplomasi global kunjungan Obama ke Indonesia.

Perencanaan Cerdas Mewujudkan Kota Hijau

Senin, 8 November 2010 | 03:38 WIB

Nirwono Joga

Perayaan Hari Tata Ruang 2010, bertepatan dengan World Town Planning Day yang diselenggarakan saban 8 November, terasa sangat aktual dengan peristiwa bencana banjir bandang di Wasior, meletusnya Gunung Merapi, serta gempa dan tsunami di Mentawai.

Kota Hijau

Senin, 8 November 2010 | 03:37 WIB

Eko Budihardjo

”Insist on the rights of humanity and nature to coexist in a healthy, supportive, diverse and sustainable cities” (The Hannover Principles, 1992).

Gerakan menciptakan kota hijau yang gegap gempita, sampai-sampai ada yang berani menyebutkannya sebagai Revolusi Kota Hijau (Yudelson, 2007), sesungguhnya sudah berawal semenjak empat dasawarsa yang silam.

Sabtu, 06 November 2010

Pasca Bencana

PostDateIconSenin, 25 Oktober 2010 00:00 | PostAuthorIconDitulis oleh Mukti Hartono

Sebuah kota tak berpenghuni. Dihiasi oleh bangkai-bangkai mobil, rumah-rumah kosong, dan toko-toko korban penjarahan. Entah kapan terjadi. Mungkin bertahun-tahun silam. Agak jauh terlihat reruntuhan gedung pencakar langit. Seperti sebuah dokumentasi bisu keangkuhan para manusia pada masa itu. Masa-masa puncak peradaban masa lalu. Semua hancur dalam sekejap oleh sebuah bencana.

Lenggang

PostDateIconSenin, 25 Oktober 2010 00:00 | PostAuthorIconDitulis oleh Irzen Hawer |

Dari cara dia bicara, terlihat apa yang dibicarakannya seolah-olah amat penting. Sangat serius. Wajahnya dimajukan ke depan - ke arah lawan bicaranya. Padahal yang dibicarakannya sering soal remeh-temeh. Kalau hal-hal yang besar, dia jarang dibawa-bawa orang. Dia kebagian selalu masalah-masalah yang kecil.