Rabu, 05 Januari 2011

Sifat Tamak Dan Ekonomi Islam

Sifat Tamak Dan Ekonomi Islam

Prof Dr. H. Imam SuprayogoBerbicara tentang ekonomi Islam adalah sangat tidak relevan manakala masih memberi peluang bagi orang-orang tamak. Sebab salah satu misi Islam adalah membangun kebersamaan, memperhatikan antara sesama dan juga tolong menolong. Ekonomi Islam menjadikan bagi siapapun dalam upaya memenuhi kebutuhannya tidak merugikan orang lain. Demikian sebaliknya, orang tamak selalu mementingkan diri sendiri, sekalipun orang lain menderita oleh karena ketamakannya.

Ekonomi Islam berbeda secara paradigmatic dengan ekonomi lainnya. Ekonomi Islam memandang bahwa sebenarnya kebutuhan manusia itu adalah terbatas, sedangkan sumber-sumber ekonomi adalah tidak terbatas. Pandangan ini berbalik dengan paradigm ekonomi pada umumnya. Sementara ini paradigma ekonomi pada umumnya mengatakan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan ketersediaan pemenuhan kebutuhan selalu terbatas.

Mempercayai pandangan ekonomi pada umumnya menjadikan orang kapan saja dan di mana saja selalu berebut harta, khawatir tidak berhasil memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan dimaksud biasanya tidak terbatas jumlahnya. Padahal harta yang dikumpulkan dengan jumlah yang tidak terbatas itu belum tentu dimanfaatkan bagi hidupnya. Kita melihat fenomena misalnya, terdapat orang berhasil mengumpulkan triliyunan dolar, sementara dalam jumlah sekian banyak orang tidak memiliki kekayaan dan bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Berbeda dengan hal tersebut adalah paradigma ekonomi Islam yang dianut, maka seseorang tidak akan menumpuk harta sebanyak-banyaknya, oleh karena diyakini bahwa kebutuhannya terbatas, sedangkan ketersediaan bahan untuk mencukupi itu selalu tidak terbatas. Orang akan berpikir untuk apa mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, sebab tanpa menyimpan dan mengumpulkannya, ----hingga berakibat kebutuhan sesamanya terganggu, tidak akan mengalami kekurangan.

Selama ini, di antara sebab-sebab yang menjadikan munculnya persoalan ekonomi hingga melahirkan kemiskinan adalah terdapatnya orang-orang yang bersifat rakus dan tamak. Hal itu dengan mudah kita lihat gambarannya di kota-kota besar, seperti Jakarta dan lainnya. Kita akan segera menyaksikan bentuk bangunan rumah yang tidak seimbang. Sebagian orang memiliki rumah yang sedemikian besar, luas, tetapi juga banyak jumlahnya. Sedangkan sebagian besar lainnya, tidak memiliki sama sekali. Kelompok yang disebutkan terakhir berteduh di tempat-tempat seadanya. Atau mereka membuat gubug-gubug yang tidak pantas dihuni oleh orang.

Apa yang tampak di kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya itu, sebenarnya adalah oleh karena terdapat orang-orang yang rakus, menumpuk-numpuk harta oleh karena terlalu mencintainya. Perilaku orang tamak ini mengakibatkan orang lain tidak kebagian, sekaluipun sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Oleh karena itu, ketidak-cukupan ekonomi bukan karena keterbatasan sumber-sumber ekonomi, melainkan justru disebabkan oleh banyaknya orang tamak itu. Sebagai anak keturunan dari sifat orang tamak, adalah terjadi kesenjangan, penghisapan, dan bahkan juga perilaku korup di mana-mana yang tidak mudah dihentikan.
Ekonomi Islam sebagaimana ditunjukkan dalam al-Qur'an, bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan ekonomi manusia, sehingga jika dipahami secara mendalam menghindarkan bagi siapapun perperilaku tamak. Maka sebenarnya bukan sumber-sumber ekonomi yang terbatas, hingga menyebabkan kekurangan, melainkan kemampuan manusia dalam mengeksploitasi sumber-sumber ekonomi itu yang masih terbatas dan sifat ketamakan itu. Andaikan saja, paradigm Qur'ani dikembangkan dalam membangun ekonomi Islam, maka tidak akan terjadi perebutan sebagaimana terjadi pada saat ini. Melalui paradigma itu, maka orang berhasil menghindar dari sifat tamak yang sangat membahayakan bagi banyak kalangan.

Oleh karena itu, berbicara ekonomi Islam, namun sehari-hari pandangannya masih sama dengan pandangan ekonomi konvensioonal, sehingga sifat tamak masih belum bisa dicegah, maka perbincangamn ekonomi Islam tidak relevan. Memang bisa jadi riba berhasil dihindari, jual beli dilakukan secara Islami, usaha ekonomi dilakukan dengan bagi hasil, dan seterusnya. Akan tetapi jika orang-orangnya masih berperilaku tamak, menumpuk harta dengan melupakan pihak lainnya yang kekurangan, ketakutan tidak tercukupi kebutuhannya sendiri, maka hal itu kontra produktif dengan ekonomi Islam. Ekonomi Islam mencegah siapapun bersifat tamak, menumpuk harta yang tidak diperlukan sehingga mengakibatkan kebutuhan orang lain tidak tercukupi dan menderita. Wallahu a'lam.

Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/2228-sifat-tamak-dan-ekonomi-islam.html

Sabtu, 18 Desember 2010

Kisruh Badan Kehormatan

TAJUK RENCANA
Kamis, 2 Desember 2010 | 02:55 WIB


Kisruh Badan Kehormatan
Berita kurang enak masih datang dari lembaga perwakilan kita. Kini, kekisruhan terjadi di dalam tubuh Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat.
Perseteruan internal dalam tubuh BK DPR itu mencuat menyusul keberangkatan delapan anggota—dari sebelas anggota—BK DPR ke Yunani. Mereka studi banding ke Yunani untuk belajar etika di negara tersebut. Dalam perjalanan pulang, mereka mampir ke Turki.
Pro-kontra terjadi di dalam DPR maupun di internal BK DPR. Silang pendapat di antara anggota BK DPR terjadi dan memuncak dengan adanya pengaduan kelompok masyarakat soal kunjungan sejumlah anggota BK DPR ke Yunani.
Studi banding DPR ke luar negeri memang bukan hanya dilakukan anggota BK DPR. Sejumlah anggota DPR juga studi banding ke luar negeri, seperti studi banding UU Kepramukaan ke Afrika Selatan. Ada juga yang studi banding ke London, China, dan sejumlah negara lain.
Kita angkat kekisruhan di BK DPR yang terjadi setahun terakhir ini karena kekisruhan itu merugikan masyarakat. Berbagai pengaduan masyarakat terhadap perilaku anggota DPR tidak bisa ditindaklanjuti oleh BK DPR.
Rapat pimpinan DPR telah berupaya berembuk untuk menyelesaikan kekisruhan tersebut. Kita menaruh harapan DPR mampu menyelesaikan kekisruhan internal dalam tubuh DPR. Kita mendukung solusi kompromi pimpinan DPR untuk mengganti semua anggota BK DPR meskipun pergantian setiap anggota BK DPR merupakan wewenang dan tanggung jawab fraksi.
Politik adalah seni mencari berbagai kemungkinan, tidak semata-mata soal menang dan kalah. Karena itu, kita menghargai langkah fraksi-fraksi yang telah menunjukkan komitmen dalam rapat pimpinan DPR untuk mengganti anggotanya yang duduk di BK DPR. BK DPR perlu segera bisa bekerja untuk menangani pengaduan masyarakat yang mengeluhkan perilaku anggota DPR.
Kisruh berkepanjangan di dalam tubuh DPR jelas tidak menguntungkan citra DPR secara keseluruhan yang sedang terpuruk. Terlebih, BK DPR ditempatkan publik dalam posisi terhormat, yang bertugas mengawasi penegakan kode etik anggota DPR. Sebagai sebuah lembaga terhormat, seyogianya mereka segera mengakhiri kekisruhan internal itu.
Kita juga mencatat kebiasaan DPR melakukan studi banding ke luar negeri selalu menimbulkan kritik masyarakat. DPR sering kali dinilai kurang peka terhadap aspirasi masyarakat dan tidak mempunyai skala prioritas dalam melaksanakan tugas fungsinya.
Kritik masyarakat terhadap DPR yang melakukan studi banding itu bisa dimengerti karena selama ini masyarakat juga tidak mengetahui apa hasil studi banding mereka. Padahal, pimpinan DPR sudah memutuskan agar anggota DPR yang melakukan studi banding untuk melaporkan hasil kunjungannya kepada masyarakat.


***
WikiLeaks dan Diplomasi
Pembocoran informasi rahasia oleh situs WikiLeaks telah membuat wajah Amerika Serikat merah padam.
Kita tak habis pikir, kok bisa dokumen berklasifikasi rahasia jatuh ke tangan pihak yang tidak punya kewenangan. Kalau saja dokumen tersebut milik negara yang tidak canggih dalam penanganan informasi, hal itu mudah dimengerti. Namun, bukankah yang mengalami kebocoran informasi adalah negara maju dalam teknologi informasi?
Dari kawat diplomatik antara kedutaan AS di sejumlah negara dan Washington, dunia mengerti apa penilaian diplomat AS tentang pemimpin dunia, yang banyak di antaranya merupakan sahabat AS. Ada komentar tentang kanselir Jerman, presiden Perancis, dan mantan pemimpin Inggris. Kalau hanya komentar tentang pemimpin, di negara demokrasi itu hal umum. Yang menghebohkan adalah pengungkapan bahwa pemimpin negara Arab mengimbau AS untuk menyerang Iran guna menghentikan program nuklirnya.
Kita bisa melihat, dalam soal menilai pemimpin, yang jadi kikuk adalah AS, sedangkan untuk soal Iran, tak disangsikan lagi yang terbongkar sikap politiknya adalah negara-negara Arab. Negara Arab sahabat AS memilih tidak mengomentari isi informasi yang dibocorkan ini. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan, ia percaya hubungan diplomatik AS dengan negara yang disebut bisa menahan keguncangan yang terjadi.
Di luar reaksi yang muncul, baik dari negara yang pemimpinnya disebut-sebut dalam kawat maupun dari AS sendiri, pengamat diplomasi bisa melihat dan membandingkan, apa yang disampaikan dalam diplomasi, dan apa yang sebenarnya menjadi isi hati.
Untuk negara Arab, ternyata apa yang diungkapkan di belakang layar berlainan dengan apa yang disampaikan di forum. Seperti dikutip International Herald Tribune, mana berani negara-negara Arab menyampaikan imbauan kepada AS untuk menyerang Iran.
Hal lain yang dapat kita simak dari pembocoran oleh WikiLeaks ini adalah kuatnya visi Julian Assange, pendiri dan pemimpin redaksi situs yang amat masyhur di dunia ini. Kita bisa mengatakan, sungguh berani dia, padahal AS sudah memperingatkan sebelum pembocoran dilakukan.
Kita catat juga misi WikiLeaks, membocorkan informasi rahasia dilakukan untuk memerangi korupsi pemerintah dan korporasi. Itulah keterbukaan yang berani. Kita juga bisa mencatat, ternyata di balik berbagai informasi yang kita tahu, sebenarnya masih ada banyak lagi informasi yang kita tidak tahu, dan boleh jadi maknanya bertolak belakang dari yang kita dengar di ruang publik.
Dalam kaitan ini, kearifan yang bisa kita tangkap adalah di era informasi yang penuh liku dan jebakan, kita tak bisa begitu saja larut dalam kelimpahan informasi. Rupanya tetap—atau bahkan semakin—dibutuhkan kewaspadaan tersendiri. Selain itu, rupanya diperlukan juga komunikasi lebih jujur dan tulus, bahkan di antara pihak yang tergolong sahabat sekalipun.
http://cetak.kompas.com/read/2010/12/02/02551391/tajuk.rencana

Penyelenggara Pemilu

Penyelenggara Pemilu
Kamis, 2 Desember 2010 | 02:59 WIB

 Refly Harun
Meski sudah satu tahun dipersiapkan, rancangan perubahan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu belum juga rampung.

Menyelamatkan Ibu Kota Negara

Menyelamatkan Ibu Kota Negara
Kamis, 2 Desember 2010 | 02:57 WIB

Emil Salim
Untuk menyelamatkan ibu kota negara dari macet lalu lintas, banjir, dan lain-lain, Presiden mengajak masyarakat membahas tiga alternatif pilihan kelayakan ibu kota negara.

Memberantas Mafia Peradilan

Memberantas Mafia Peradilan
Kamis, 2 Desember 2010 | 02:56 WIB

J Danang Widoyoko
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya memilih Basrief Arief sebagai Jaksa Agung pada hari yang sama saat DPR memilih Busyro Muqoddas sebagai Ketua KPK.

Amnesia Sejarah

Amnesia Sejarah
Kamis, 2 Desember 2010 | 02:56 WIB

INDRA TRANGGONO
Mendadak demokrasi prosedural hendak ”menceraikan” Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Republik Indonesia.

Ketenangan DIY Terganggu

TAJUK RENCANA
Rabu, 1 Desember 2010 | 02:44 WIB

Ketenangan DIY Terganggu
Ketenangan Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya terganggu oleh bencana Merapi, tetapi juga oleh silang pendapat soal status keistimewaannya.