Setelah Membaca Opini dari Berbagai Madzhab Pemikiran dalam Blog Ini Saya Harap wawasan anda bertambah jika memang otak anda tidak bisa tercuci
Sabtu, 06 Februari 2010
Hakekat Pengetahuan umum
Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wayhu (al-Quran dan Al-Hadits) yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sesitematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.(Ziaudian Sardar, Dimensi Ilmiah al-‘ilm”, dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 25) Dua komponen ini menunjukkan, bahwa al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat disbanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justeru berasak kangsung dari yang Maha Berilmu, Tuhan. Yang secara ideologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya. (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105)
KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tedak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istemewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu dating memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penakaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
Hakikat Ilmu Pengetahuan (EPISTEMOLOGI ISLAM DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PADA UNIVERSITAS ISLAM: Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum.Dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan hari Jum’at, tanggal 30 Januari 2009, di Kampus Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palembang oleh Professor Dr. Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard, DrPH(Harvard) Professor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang).)
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan ghalabat al dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen, dan haqq al yaqeen. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat al haqiqat. Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tedak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istemewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu dating memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penakaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
Hakikat Ilmu Pengetahuan (EPISTEMOLOGI ISLAM DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PADA UNIVERSITAS ISLAM: Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum.Dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan hari Jum’at, tanggal 30 Januari 2009, di Kampus Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palembang oleh Professor Dr. Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard, DrPH(Harvard) Professor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang).)
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan ghalabat al dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen, dan haqq al yaqeen. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat al haqiqat. Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
Tujuan Pendidikan
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islam yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat berpengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya.
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menciptakan para “mujtahid” baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu.
FORMULASI TUJUAN PNDIDIKAN ISLAM
Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari idealitas penyusunnya, baik institusional maupun individual. Oleh karena itu, nilai-nilai apakah yang dicita-citakan oleh penyusun dari tujuan itu akan mewarnai corak kepribadian manusia hasil proses kependidikan.
Dari berbagai Negara atau lembaga, kita dapat memperoleh tujuan yang berbeda-beda substansi nilainya. Sebagai contoh dapat kita ketengahkan sebagai berikut :
Indonesia sebagai Negara yang berfalsafah Pancasila menetapkan tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yamg dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dalam rumusan tersebut nampak jelas bahwa nilai-nilai yang hendak dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik adalah nilai-nilai kultural bangsa Indonesia yang bercorak sosiolistis-religious, yaitu semangat kegotong-royongan yang dijiwai oleh nilai keagamaan. Dalam hal ini tidak mengkhususkan nilai agama tertentu. Sedangkan faktor-faktor kognitif, efektif dan psikomotorik yang dilandasi dengan moralitas yang tinggi menjadi potensi fundamental bagi perkembangannya dalam hidup bernegara dan berbangsa yang bertanggung jawab.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islam yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat berpengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya.
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menciptakan para “mujtahid” baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu.
FORMULASI TUJUAN PNDIDIKAN ISLAM
Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari idealitas penyusunnya, baik institusional maupun individual. Oleh karena itu, nilai-nilai apakah yang dicita-citakan oleh penyusun dari tujuan itu akan mewarnai corak kepribadian manusia hasil proses kependidikan.
Dari berbagai Negara atau lembaga, kita dapat memperoleh tujuan yang berbeda-beda substansi nilainya. Sebagai contoh dapat kita ketengahkan sebagai berikut :
Indonesia sebagai Negara yang berfalsafah Pancasila menetapkan tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yamg dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dalam rumusan tersebut nampak jelas bahwa nilai-nilai yang hendak dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik adalah nilai-nilai kultural bangsa Indonesia yang bercorak sosiolistis-religious, yaitu semangat kegotong-royongan yang dijiwai oleh nilai keagamaan. Dalam hal ini tidak mengkhususkan nilai agama tertentu. Sedangkan faktor-faktor kognitif, efektif dan psikomotorik yang dilandasi dengan moralitas yang tinggi menjadi potensi fundamental bagi perkembangannya dalam hidup bernegara dan berbangsa yang bertanggung jawab.
Hakekat Pengetahuan
MAKALAH
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Disusun Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin :
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa islam lewat Al-quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan,dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya seiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal.
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.
SUMBER ILMU
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: Instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tnda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat alkawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bhwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang. Kemudian, secara teknis nilai-nilai itu dapat di uraikan dalam lima nilai utama, yaitu:
Pertama, nilai rahmah (kerahmatan), yakni ilmu itu hendaknya ditujukan kepada kepentingan dan kemashlahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. (Qs Al-Anbiya: 107).
Kedua, nilai amanah, yaitu ilmu itu adalah amanat Allah bagi manusia, karena pemilik hakiki khazanah ilmu adalah Allah. Untuk itu penerapan dan pengembangannya harus dilakukan dengan niat, cara dan tujuan sebagaiman yang dikehendaki oleh Allah. (QS Al-Ahzab: 72).
Ketiga, nilai dakwah, yakni penerapan dan pengembangan ilmu merupakan wujud dialog dakwah dalam menyampaikan kebenaran. (QS Fushilat: 33)
Keempat, nilai tabsyir, yakni penerapan dan pengembangan ilmu harus memberikan harapan baik bagi umay manusia tentang masa depan merekatermasuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangannya. (QS Al-Baqaah: 119).
Kelima, nilai ibadah, bagi manusia, penerapan dan pengembangan ilmu merupakan ibadah dan harus ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Adz-Dzariyat: 56, dan Ali ‘Imran 190-191).
SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta paa sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham).
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Disusun Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin :
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa islam lewat Al-quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan,dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya seiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal.
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.
SUMBER ILMU
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: Instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tnda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat alkawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bhwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang. Kemudian, secara teknis nilai-nilai itu dapat di uraikan dalam lima nilai utama, yaitu:
Pertama, nilai rahmah (kerahmatan), yakni ilmu itu hendaknya ditujukan kepada kepentingan dan kemashlahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. (Qs Al-Anbiya: 107).
Kedua, nilai amanah, yaitu ilmu itu adalah amanat Allah bagi manusia, karena pemilik hakiki khazanah ilmu adalah Allah. Untuk itu penerapan dan pengembangannya harus dilakukan dengan niat, cara dan tujuan sebagaiman yang dikehendaki oleh Allah. (QS Al-Ahzab: 72).
Ketiga, nilai dakwah, yakni penerapan dan pengembangan ilmu merupakan wujud dialog dakwah dalam menyampaikan kebenaran. (QS Fushilat: 33)
Keempat, nilai tabsyir, yakni penerapan dan pengembangan ilmu harus memberikan harapan baik bagi umay manusia tentang masa depan merekatermasuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangannya. (QS Al-Baqaah: 119).
Kelima, nilai ibadah, bagi manusia, penerapan dan pengembangan ilmu merupakan ibadah dan harus ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Adz-Dzariyat: 56, dan Ali ‘Imran 190-191).
SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta paa sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham).
Jumat, 08 Januari 2010
Di Bandara Dulles, Seluruh Badan Nadia Digeledah
Jumat, 08/01/2010 17:24 WIB Cetak | Kirim
Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.
Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.
Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.
Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.
Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.
Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.
Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)
Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.
Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.
Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.
Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.
Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.
Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.
Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)
Di Bandara Dulles, Seluruh Badan Nadia Digeledah
Jumat, 08/01/2010 17:24 WIB Cetak | Kirim
Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.
Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.
Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.
Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.
Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.
Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.
Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)
Seorang muslimah jadi korban Islamofobia AS lagi. Nadia Hassan mengeluhkan tindakan aparat Bandara Dulles Intenational Airport, Washington yang memerintakan pemeriksaan seluruh tubuh hanya karena Nadia mengenakan jilbab.
Insiden itu terjadi hari Selasa (5/1) ketika Nadia akan naik pesawat dari Washington menuju Los Angeles. Nadia menolak melepas jilbabnya untuk kepentingan pemeriksaan itu. "Peristiwa itu sangat memalukan dan membuat saya tidak nyaman," kata Nadia pada Detroit News.
Menurut Nadia, aparat bandara sudah memeriksa koper, pakaian, laptop dan telepon genggamnya dengan alat pendeteksi bahan peledak. "Saya cuma diam karena tidak mau menimbulkan masalah. Tapi saya orang Amerika, bukan warga negara asing. Mengapa negara saya memperlakukan saya seperti ini," ujar Nadia.
Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR) menilai aparat bandara sudah melakukan diskriminasi. "Banyak perempuan yang mengenakan pakaian longgar dan gaun panjang, tapi mereka tidak diperiksa sedemikan rupa, seperti yang dialami Nadia. Satu-satunya alasan untuk kasus ini karena Nadia seorang Muslim," ujar Awad.
Ia sudah menulis surat pada Direktur Transportation Security Administration (TSA), Gale Rossides dan mempertanyakan apakah para muslimah yang berjilbab akan dipisahkan secara khusus di bandara untuk menjalani pemeriksaan tambahan. Dalam suratnya, Awad menyatakan, kalau kebijakan yang mengganggu ini benar diterapkan, makan kebijakan merupakan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan berlatar belakang agama dalam bentuk yang mengerikan. "Jika kebijakan itu memang benar diterapkan, apakah berlaku buat semua yang mengenakan simbol agama, seperti penganut sikh yang mengenakan penutup kepalanya yang khas, biarawati dan kaum perempuan Yahudi ortodoks, atau hanya diterapkan pada Muslim saja," tanya Awad dalam suratnya.
Awad menegaskan akan menindaklanjuti kasus ini karena pihak TSA belum memberikan jawaban atas suratnya. Menyusul insiden yang terjadi di pesawat Northwest Arlines di Detroit sepekan yang lalu, TSA mengumumkan akan memeriksa secara khusus orang-orang yang datang atau melalui 14 negara dalam penerbangan ke AS. 14 negara itu semuanya negara Muslim, kecuali Kuba.
Dalam kasus Nadia, aparat TSA di bandara Dulles mengatakan pada Nadia bahwa berdasarkan aturan baru itu, penumpang yang mengenakan pakaian longgar dan panjang, termasuk yang mengenakan jilbab harus menjalani pemeriksaan tambahan. (ln/iol)
Rabu, 06 Januari 2010
Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.
Posted by Bustamam Ismail on August 1, 2008
Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi atau yang biasa dikenal dengan al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di kota Farab, Propinsi Transoxiana, Turkestan, sekitar tahun 890. Dia berasal dari keluarga bangsawan-militer Turki.Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di kota yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’iyah inilah al-Farabi menerima pendidikan dasarnya. Dia digambarkan “sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari.” Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.Setelah menyelesaikan studi dasarnya,
al-Farabi pindah ke Bukhara untuk menempuh studi lanjut fiqh dan ilmu-ilmu lanjut lainnya. Pada saat itu, Bukhara merupakan ibu kota dan pusat intelektual serta religius dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia. Pada saat al-Farabi di Bukhara, Dinasti Samaniyah di bawah pemerintahan Nashr ibn Ahmad (874-892). Munculnya Dinasti ini menandai munculnya budaya Persia dalam Islam. Pada masa inilah al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Juga di Bukhara inilah al-Farabi pertama kali belajar tentang musik. Kepakaran al-Farabi di bidang musik dibuktikan dengan karyanya yang berjudul Kitab al-Musiqa al-Kabir atas permintaan Abu Ja’far Muhammad ibn al-Qasim, Wazir Khalifah al-Radhi tahun 936.Sebelum dia tenggelam dalam karir filsafatnya, terlebih dahulu dia menjadi seorang qadhi. Setelah melepaskan jabatan qadhinya, al-Farabi kemudian berangkat ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian dan filsafat. Guru utama al-Farabi adalah Yuhanna ibn Hailan. Di bawah bimbingannya, al-Farabi membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya di bawah bimbingan guru khusus. Dari fakta ini diyakini bahwa al-Farabi telah menguasai bahasa Siria dan Yunani ketika belajar kitab-kitab Aristoteles tersebut karena kitab tersebut baru diterjemah ke dalam bahasa Arab pada tahun-tahun setelah al-Farabi mempelajarinya dalam bahsa aslinya.
Setelah dari Merv, bersama gurunya ia berangkat ke Bagdad sekitar tahun 900. Pada masa kekhalifahan al-Muqtadir (908-932), bersama gurunya ia berangkat ke Konstantinopel untuk lebih memperdalam filsafat. Tapi, sebelumnya ia sempat singgah beberapa waktu lamanya di Harran. Pada rentang tahun 910-920 ia kembali ke Bagdad dan di sana ia menemui Matta ibn Yunus, seorang filosof Nestorian, telah memiki reputasi yang tinggi dalam bidang filsafat dan mampu menarik minat banyak orang dalam kuliah-kuliah umumnya tentang logika Aristotelian. Segera ia bergabung menjadi murid Matta. Akan tetapi, kecemerlangan al-Farabi dengan singkat mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika.
Pada akhir tahun 942, ia pindah ke Damaskus karena situasi politik Bagdad yang memburuk. Dia sempat tinggal di sana selama dua tahun dimana waktunya siang hari digunakan untuk bekerja sebagai penjaga kebun dan malam hari dihabiskan untuk membaca dan menulis karya-karya filsafat. Dengan alasan yang sama, ia pindah ke Mesir untuk pada akhirnya kembali lagi ke Damaskus pada tahun 949. Selama masa tinggal di Damaskus yang kedua ini al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Siria, Saif al-Daulah (w. 967). Dalam perjumpaan pertamanya, Saif al-Daulah sangat terkesan dengan al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaannya atas berbagai bahasa. Kehidupan sufi asketik yang dijalaninya membuatnya ia tetap berkehidupan sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Akhirnya, pada bulan Desember 950, ia meninggal dunia di tempat ini (Damaskus) pada usia delapan puluh tahun.
Manusia menurut Farabi memiliki potensi untuk menerima bentuk-bentuk pengetahuan yang terpahami (ma’qulat) atau universal-universal. Potensi ini akan menjadi aktual jika ia disinari oleh Intelek Aktif. Pencerahan oleh Intelek Aktif memungkinkan transformasi serempak intelek potensial dan obyek potensial ke dalam aktualitasnya. Al-Farabi menganalogkan hubungan antara akal potensial dengan Akal Aktif seperti mata dengan matahari. Mata hanyalah kemampuan potensial untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri.
Di samping itu, intelek manusia sendiri memiliki apa yang disebut dengan pengetahuan primer. Pengetahuan primer ada dengan sendirinya dalam intelek manusia dan kebenarannya tidak lagi membutuhkan penalaran sebelumnya. Pengetahuan ini misalnya bahwa tiga adalah angka ganjil atau bahwa keseluruhan lebih besar dari bagiannya.
Intelek potensial yang sudah disinari akan berubah menjadi bentuk yang sama dengan pengetahuan primer yang diterimanya sebagai bentuk tersebut. Untuk menggambarkan proses ini, al-Farabi menganalogkan dengan sepotong benda yang masuk ke dalam lilin cair, benda terseut tidak hanya tercetak pada lilin, tapi ia juga merubah lilin cair tersebut menjadi sebuah citra utuh benda itu sendiri sehingga ia menjadi satu. Atau, bisa juga dianalogkan dengan sepotong kain yang masuk ke dalam zat pewarna. Perolehan aktualitas oleh akal potensial menjadi sempurna jika proses ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan primer, tapi juga dengan pengetahuan yang diupayakannya. Pada tahap ini, intelek aktual merefleksikan dirinya sendiri. Kandungan intelek aktual adalah pengetahuan murni. Intelek aktual dapat mengetahui dirinya sendiri karena ia merupakan intelek sekaligus pengetahuan itu sendiri. Ketika intelek aktual sudah sampai pada tahap ini, ia menjadi apa yang disebut al-Farabi dengan intelek perolehan atau al-aql al-mustafad atau acquired intelect.
Dengan demikian, intelek perolehan merujuk pada intelek aktual ketika mencapai tahap mampu memposisikan diri sebagai pengetahuan (self-intelligible) dan bisa melakukan proses pemahaman tanpa bantuan kekuatan lain (self-inttellective). Intelek perolehan adalah bentuk intelek manusia paling tinggi. Intelek perolehan adalah yang paling mirip dengan dengan Intelek Aktif karena keduanya memiliki kandungan yang sama. Di samping itu, akal perolehan juga tidak membutuhkan raga bagi kehidupannya dan tidak membutuhkan kekuatan fisik badani untuk aktifitas berpikirnya.
(Source: Sekilas sejarah pemikiran filosof di atas dinukil dari buku Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, diterbitkan oleh LKiS, dikarang oleh Zainul Hamdi -warga Averroes)
Written by ave · Filed Under Pemikiran
Tagged: Abu Nashr, ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi, Muhammad ibn Muhammad
This entry was posted on August 1, 2008 at 10:26 am and is filed under tokoh dunia. Tagged: al farabi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
17 Responses to “Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.”
1.
khumaira said
September 21, 2008 at 7:42 am
wow!!!funtastik!aq rz trnag z…,aq kagum bgt ma yg namanya bapak al-farabi coz…apa z…
Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi atau yang biasa dikenal dengan al-Farabi lahir di Wasij, sebuah dusun kecil di kota Farab, Propinsi Transoxiana, Turkestan, sekitar tahun 890. Dia berasal dari keluarga bangsawan-militer Turki.Al-Farabi melewatkan masa remajanya di Farab. Di kota yang mayoritas mengikuti mazhab Syafi’iyah inilah al-Farabi menerima pendidikan dasarnya. Dia digambarkan “sejak dini memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari.” Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.Setelah menyelesaikan studi dasarnya,
al-Farabi pindah ke Bukhara untuk menempuh studi lanjut fiqh dan ilmu-ilmu lanjut lainnya. Pada saat itu, Bukhara merupakan ibu kota dan pusat intelektual serta religius dinasti Samaniyah yang menganggap dirinya sebagai bangsa Persia. Pada saat al-Farabi di Bukhara, Dinasti Samaniyah di bawah pemerintahan Nashr ibn Ahmad (874-892). Munculnya Dinasti ini menandai munculnya budaya Persia dalam Islam. Pada masa inilah al-Farabi mulai berkenalan dengan bahasa dan budaya serta filsafat Persia. Juga di Bukhara inilah al-Farabi pertama kali belajar tentang musik. Kepakaran al-Farabi di bidang musik dibuktikan dengan karyanya yang berjudul Kitab al-Musiqa al-Kabir atas permintaan Abu Ja’far Muhammad ibn al-Qasim, Wazir Khalifah al-Radhi tahun 936.Sebelum dia tenggelam dalam karir filsafatnya, terlebih dahulu dia menjadi seorang qadhi. Setelah melepaskan jabatan qadhinya, al-Farabi kemudian berangkat ke Merv untuk mendalami logika Aristotelian dan filsafat. Guru utama al-Farabi adalah Yuhanna ibn Hailan. Di bawah bimbingannya, al-Farabi membaca teks-teks dasar logika Aristotelian, termasuk Analitica Posteriora yang belum pernah dipelajari seorang Muslim pun sebelumnya di bawah bimbingan guru khusus. Dari fakta ini diyakini bahwa al-Farabi telah menguasai bahasa Siria dan Yunani ketika belajar kitab-kitab Aristoteles tersebut karena kitab tersebut baru diterjemah ke dalam bahasa Arab pada tahun-tahun setelah al-Farabi mempelajarinya dalam bahsa aslinya.
Setelah dari Merv, bersama gurunya ia berangkat ke Bagdad sekitar tahun 900. Pada masa kekhalifahan al-Muqtadir (908-932), bersama gurunya ia berangkat ke Konstantinopel untuk lebih memperdalam filsafat. Tapi, sebelumnya ia sempat singgah beberapa waktu lamanya di Harran. Pada rentang tahun 910-920 ia kembali ke Bagdad dan di sana ia menemui Matta ibn Yunus, seorang filosof Nestorian, telah memiki reputasi yang tinggi dalam bidang filsafat dan mampu menarik minat banyak orang dalam kuliah-kuliah umumnya tentang logika Aristotelian. Segera ia bergabung menjadi murid Matta. Akan tetapi, kecemerlangan al-Farabi dengan singkat mampu mengatasi reputasi gurunya dalam bidang logika.
Pada akhir tahun 942, ia pindah ke Damaskus karena situasi politik Bagdad yang memburuk. Dia sempat tinggal di sana selama dua tahun dimana waktunya siang hari digunakan untuk bekerja sebagai penjaga kebun dan malam hari dihabiskan untuk membaca dan menulis karya-karya filsafat. Dengan alasan yang sama, ia pindah ke Mesir untuk pada akhirnya kembali lagi ke Damaskus pada tahun 949. Selama masa tinggal di Damaskus yang kedua ini al-Farabi mendapat perlindungan dari putra mahkota penguasa baru Siria, Saif al-Daulah (w. 967). Dalam perjumpaan pertamanya, Saif al-Daulah sangat terkesan dengan al-Farabi karena kemampuannya dalam bidang filsafat, bakat musiknya serta penguasaannya atas berbagai bahasa. Kehidupan sufi asketik yang dijalaninya membuatnya ia tetap berkehidupan sederhana dengan pikiran dan waktu yang tetap tercurah untuk karir filsafatnya. Akhirnya, pada bulan Desember 950, ia meninggal dunia di tempat ini (Damaskus) pada usia delapan puluh tahun.
Manusia menurut Farabi memiliki potensi untuk menerima bentuk-bentuk pengetahuan yang terpahami (ma’qulat) atau universal-universal. Potensi ini akan menjadi aktual jika ia disinari oleh Intelek Aktif. Pencerahan oleh Intelek Aktif memungkinkan transformasi serempak intelek potensial dan obyek potensial ke dalam aktualitasnya. Al-Farabi menganalogkan hubungan antara akal potensial dengan Akal Aktif seperti mata dengan matahari. Mata hanyalah kemampuan potensial untuk melihat selama dalam kegelapan, tapi dia menjadi aktual ketika menerima sinar matahari. Bukan hanya obyek-obyek indrawi saja yang bisa dilihat, tapi juga cahaya dan matahari yang menjadi sumber cahaya itu sendiri.
Di samping itu, intelek manusia sendiri memiliki apa yang disebut dengan pengetahuan primer. Pengetahuan primer ada dengan sendirinya dalam intelek manusia dan kebenarannya tidak lagi membutuhkan penalaran sebelumnya. Pengetahuan ini misalnya bahwa tiga adalah angka ganjil atau bahwa keseluruhan lebih besar dari bagiannya.
Intelek potensial yang sudah disinari akan berubah menjadi bentuk yang sama dengan pengetahuan primer yang diterimanya sebagai bentuk tersebut. Untuk menggambarkan proses ini, al-Farabi menganalogkan dengan sepotong benda yang masuk ke dalam lilin cair, benda terseut tidak hanya tercetak pada lilin, tapi ia juga merubah lilin cair tersebut menjadi sebuah citra utuh benda itu sendiri sehingga ia menjadi satu. Atau, bisa juga dianalogkan dengan sepotong kain yang masuk ke dalam zat pewarna. Perolehan aktualitas oleh akal potensial menjadi sempurna jika proses ini tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan primer, tapi juga dengan pengetahuan yang diupayakannya. Pada tahap ini, intelek aktual merefleksikan dirinya sendiri. Kandungan intelek aktual adalah pengetahuan murni. Intelek aktual dapat mengetahui dirinya sendiri karena ia merupakan intelek sekaligus pengetahuan itu sendiri. Ketika intelek aktual sudah sampai pada tahap ini, ia menjadi apa yang disebut al-Farabi dengan intelek perolehan atau al-aql al-mustafad atau acquired intelect.
Dengan demikian, intelek perolehan merujuk pada intelek aktual ketika mencapai tahap mampu memposisikan diri sebagai pengetahuan (self-intelligible) dan bisa melakukan proses pemahaman tanpa bantuan kekuatan lain (self-inttellective). Intelek perolehan adalah bentuk intelek manusia paling tinggi. Intelek perolehan adalah yang paling mirip dengan dengan Intelek Aktif karena keduanya memiliki kandungan yang sama. Di samping itu, akal perolehan juga tidak membutuhkan raga bagi kehidupannya dan tidak membutuhkan kekuatan fisik badani untuk aktifitas berpikirnya.
(Source: Sekilas sejarah pemikiran filosof di atas dinukil dari buku Tujuh Filsuf Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Modern, diterbitkan oleh LKiS, dikarang oleh Zainul Hamdi -warga Averroes)
Written by ave · Filed Under Pemikiran
Tagged: Abu Nashr, ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi, Muhammad ibn Muhammad
This entry was posted on August 1, 2008 at 10:26 am and is filed under tokoh dunia. Tagged: al farabi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
17 Responses to “Mengenal Al-Farabi: Filosofis Muslim.”
1.
khumaira said
September 21, 2008 at 7:42 am
wow!!!funtastik!aq rz trnag z…,aq kagum bgt ma yg namanya bapak al-farabi coz…apa z…
Langganan:
Postingan (Atom)