Bagi yang ingin mengetahui perbedaan antara pemikiran salaf dan kholaf silahkan download di sini
Setelah Membaca Opini dari Berbagai Madzhab Pemikiran dalam Blog Ini Saya Harap wawasan anda bertambah jika memang otak anda tidak bisa tercuci
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Maret 2010
Senin, 15 Maret 2010
MENIMBANG PARADIGMA KONTEMPORER METODE PEMIKIRAN HUKUM ISLAM
Disamping sarat akan muatan sosiologis tak dapat dipungkiri bahwa fiqh (Hukum Islam) juga memiliki dimensi teologis dan inilah yang membedakan fiqh dengan hokum dalam terminologi ilmu hukum modern, akan tetapi penempatan cara pandang yang keliru terhadap dimensi teologis yang dikandungnya bisa mengakibatkan anggapan bahwa fiqh merupakan aturan yang sakral, bahkan dalam keadaan tertentu orang akan merasa takut untuk melakukan revaluasi terhadap aturan-aturan fiqh yang ada, karena secara psikologis sudah terbebani oleh nilai-nilai kesakralan tersebut, untuk itu perlu kajian yang mampu mengantarkan pada cara pandang yang benar mengenai aspek teologis dalam fiqih ini. Baca selengkapnya silahkan download di sini
Sabtu, 13 Maret 2010
Perkembangan Filsafat Hukum Islam
Istilah filsafat hukum Islam memang belum dikenal pada awal abad pertumbuhan hukum Islam, namun bukan berarti belum ada aktivitas filsafat pada masa itu. Kajian-kajian berikut akan membuktikan bahwa aktivitas filsafat hukum Islam telah ada sebelum istilah filsafat hukum Islam dikenal, sebagaimana aktivitas qiyas telah ada sebelum istilah qiyas populer sebagai salah satu metode ijtihad. Untuk baca selengkapnya silahkan download di sini
Paham Keagamaan Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam (da’wah ila al-Khair), menyuruh pada yang ma’ruf (al-amr bi al-ma’ruf), dan mencegah dari yang munkar (al-nahy ‘an al-munkar) {QS. Ali Imran/3: 104}, sehingga hidup manusia selamat, bahagia, dan sejahtera di dunia dan akhirat. Karena itu seluruh warga, pimpinan, hingga berbagai komponen yang terdapat dalam Muhammadiyah, termasuk amal usaha dan orang-orang yang berada di dalamnya, haruslah memahami Muhammadiyah serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.
Untuk Baca selengkapnya silahkan download di sini
Untuk Baca selengkapnya silahkan download di sini
Kamis, 11 Maret 2010
THE MIRACLE WORKER MOVIE Tinjauan Psikologis
The Miracle Worker Movie adalah sebuah film yang sarat dengan nilai-nilai psikologis. Film ini menceritakan kisah seorang anak yang buta-tuli-bisu yang sudah mengalami kelainan seperti itu sejak kecil yang bernama Helen Keller. Dia sangat dicintai oleh ibunya sehingga ibunya mencarikan untuknya seorang guru yang akan mendidik dan mengajarinya. Dan akhirnya orang tuanya itu menemukan seorang guru yang akan mengajari anaknya itu yaitu Ny. Sullivan.
Baca selengkapnya
Baca selengkapnya
Kamis, 18 Februari 2010
Pendidikan Islam Mengarah pada Program Kewirausahaan
Jakarta, BulZan
Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.
"Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan," kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).
Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarana.
"Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya, seperti dikutip Republika Online. (nu/zayn)
http://www.pstalmizan.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=7%3Akhabar&id=326%3Apendidikan-islam-mengarah-pada-program-kewirausahaan-&Itemid=14
- JAKARTA--Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Kepada Republika, Rabu (9/12), Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), Surya Dharma Ali, arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan. "Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan," kata Mohammad Ali.
Upaya mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan, menurut dia, diperlukan kualifikai madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan.
Menag sekarang, tutur Ali, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Ia menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya. "Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya.
Program yang telah dirancang Direktorat Pendidikan Islam, yakni kewirausahawan (entrepreneurship). Disebutkan, program ini akan membuat siswa memiliki kemampuan hidup (life skill) dalam bidang apa pun. Artinya, waktu libur dimanfaatkan untuk berkarya wira usaha.
Menurut Ali, hal ini akan diujicobakan pada madrasah di daerah yang ada industrinya, baik kecil maupun menengah. Siswa diajak magang di industri tersebut. Selain itu, siswa juga dimotivasi untuk bergerak di bidang agribisnis, peternakan, border, dan sebagainya.
Depag akan menyediakan sarana dan mendatangkan tenaga pelatih yang berpengalaman untuk mendampingi siswa dalam mewujudkan program kewirausahawan ini. "Sebagai contoh, ada pesantren di Pengalengan, Jawa Barat, yang telah berhasil di bidang agribisnis," jelasnya.
Untuk itu, ke depan lulusan madrasah telah memiliki life skill, maka dapat bersaing dan berdaya guna di masyarakat, tidak lagi menjadi penganggur pendidikan, yang harus melamar pekerjaan. "Artinya, jangan sampai lulusan madrasah atau pesantren menunggu kerja, apalagi menjadi pembantu rumah tangga di negara orang lain," tandasnya. mur/taq. http://www.cybermq.com/berita/detail/business/2413/pendidikan-islam-dan-kewirausahaan.htm
Pendidikan Islam Mengarah pada Program Kewirausahaan
• Wednesday, December 9, 2009, 15:21
• Pendidikan
• 12 views
• Add a comment
UmmatOnline.Net – Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.
“Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan,” kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).
Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya.
“Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja,” ujarnya (rep/nu)
- 2009, Pengangguran Indonesia Meningkat Pesat
Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Latif Adam, angka pengangguran di Indonesia diperkirakan akan naik sebesar 9 persen di tahun 2009 dari tahun lalu, sekitar 8.5 persen. Menurutnya, kenaikan junlah pengangguran ini lebih disebabkan menurunnya penyerapan tenaga kerja dalam bidang industri, yang mencapai 36.6 persen pada kuartal kedua di tahun 2008 ini.
Banyak bidang yang mengalami penurunan, termasuk bidang ekonomi yang emnunjukkan semakin melemahnya performa sector tradable (pertanian dan industri). Selain itu, penurunan kemajuan pertanian dan peternakan yang turun masing-masing 5 persen dan 3 persen, juga sector pertambangan dan industri pengolahan.Menurut Latif, masih terdapat juga 12 persen hingga 14 persen angka kemiskinan yang menanti di tahun 2009, sementara penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran sepertinya hampir tidak ada.
Latif menambahkan mengenai masalah pengangguran ini diharpakan menjadi perhatian semua pihak, karena pertumbuhan non-tradable yang maju pesat, sementara sector tradable semakin melemah. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak industri yang berkompeten untuk mendorong terbukanya kesempatan kerja dalam bidang industri. Hal ini sekligus, dipercaya Latif, dapat mengurangi dominasi dari sector non-tradable yang telah menyerap sekitar 70% tenaga kerja produktif.
Menurut data statistic periode Februari 2007 hingga Februari 2008, sector non-tradable yang dominan dalam penyerapan tenaga kerja baru adalah bidang perdagangan dan kemasyarakatan, yang masing-masing meraup sekitar 1,25 juta orang dan 1,82 juta orang, sehingga totalnya mencapai lebih dari 3 juta orang. Sedangkan jumlah tenaga kerja baru yang diserap dalam sector tradable hanya sebesar 430 ribu orang. Latif menilai dari hasil di atas, bahwa telah terjadi proses informalisasi atau dominasi dari sector non-tradable dalam perekonomian Indonesia, dan inilah tanda bahwa perekonomian Indonesia mungkin perlu adanya perbaikan. http://forum.cekinfo.com/showthread.php?t=1440
Gangguan terhadap stabilitas kondisi makro dan perlambatan laju ekonomi nasional akan memicu lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan.
Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran dan kemiskinan pada 2009 akan mencapai 9,5% dan 16,3%. Ekonom Indef M Ikhsan Modjo menuturkan, angka tersebut jauh di atas target pemerintah,yaitu tingkat pengangguran dan kemiskinan masingmasing 7–8% dan 12,5%.
Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran dan kemiskinan masing-masing 5,1% dan 8,2%. ”Lonjakan angka kemiskinan dan pengangguran bermula dari hantaman krisis global terhadap kegiatan ekonomi domestik,” ujar Modjo dalam paparan bertajuk ”Krisis Finansial, Kontestasi Politik, dan Prospek Ekonomi 2009”di Jakarta kemarin.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, per Februari 2008 tingkat pengangguran terbuka mencapai 8,46%,atau 9,43 juta orang. Angka itu turun 1,29% (1,12 juta orang ) dibanding Februari 2007, 9,75% (10,55 juta orang). Ikhsan Modjo menjelaskan,jumlah pengangguran berpotensi meningkat lantaran krisis saat ini berbeda dengan tahun 1997-1998.
Sekarang ini krisis menghantam tidak hanya sektor padat modal, melainkan juga padat karya. Indikasinya, krisis tidak hanya memukul sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradable) seperti perbankan dan keuangan. Tetapi juga memukul sektor tradable seperti manufaktur, maupun tekstil dan produk tekstil (TPT).
Dampak krisis terutama dirasakan oleh sektor tradable yang berorientasi ekspor. Kondisi ini semakin parah lantaran fleksibilitas pasar tenaga kerja dalam mengatasi gangguan juga semakin diragukan. Akibatnya, banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor, tidak memperpanjang kontrak pekerja.
”Selain pengurangan jumlah pekerja,juga akan terjadi penyempitan penyediaan lapangan kerja baru pada sektor-sektor formal,”paparnya. Lonjakan jumlah pengangguran akan mendorong pembengkakan angka kemiskinan nasional. Ikhsan memprediksi angka kemiskinan tahun depan melebar paling tidak 0,6% dari jumlah masyarakat miskin saat ini.
Berbagai langkah antisipatif pemerintah, seperti tecermin pada tiga kluster yang mencakup jaminan perlindungan sosial,pemberdayaan masyarakat, dan kredit usaha rakyat, sulit menahan dampak pelemahan ekonomi. Karena itu, diperlukan satu kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh dan bisa dilakukan dalam jangka panjang.
Di tempat terpisah, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah tengah mempersiapkan dua mekanisme untuk mengatasi lonjakan pengangguran dan kemiskinan pada tahun depan. Pertama, mengalokasikan dana stimulus pada proyekproyek infrastruktur.
Mekanisme ini diharapkan bisa meminimalkan jumlah pengangguran. “Ini untuk mencegah terjadinya angka pengangguran lebih besar,” ujarnya. Kedua, pelebaran skema dan fungsi jaring pengaman sosial. Mekanisme ini lebih ditujukan untuk menekan terjadinya pembengkakan jumlah masyarakat miskin. Pemerintah kemungkinan akan melebarkan fungsi dana bantuan langsung tunai (BLT).
“Sebetulnya untuk memperkuat daya beli dan mengurangi kemiskinan itu yang lebih tepat BLT. Tapi kondisi politik tidak memungkinkan,” paparnya. Bantuan kemungkinan tidak akan dilakukan melalui pemberian dana tunai langsung, melainkan berupa bahan-bahan makanan pokok. Kebijakan semacam ini juga dilakukan negaranegara lain.
Dorong Belanja
Kalangan dunia usaha mendesak pemerintah lebih ekspansif dalam mendorong belanja. Hal itu diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,demi mencegah lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan. “Pemerintah harus terus ekspansif dengan mendorong perbankan berani memberikan kredit kepada masyarakat yang daya belinya semakin rendah,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa.
Erwin mengatakan, kebijakanpemerintahmenurunkan harga premium pada awal Desember mendatang tidak akan terlalu menolong daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah mesti mempercepat realisasi belanja, terutama infrastruktur. ”Kebijakan ini akan lebih berdampak pada upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan,”katanya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chris Kanter berpandangan, pemerintah bisa menjaga momentum pertumbuhan dengan meningkatkan belanja dan menjamin penyerapan maksimal sejak awal 2009. Prioritas utama yakni dengan mempercepat penyelesaian infrastruktur.
”Ini akan menghasilkan efek berganda yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat,”ujarnya. Di bagian lain, Dosen Fakultas Ekonomi UI Ninasapti Triaswati mengatakan,upaya mempercepat belanja dengan menggelontorkan dana Rp120 triliun dalam jangka waktu sebulan bisa mendorong perekonomian.
Kendati begitu, pemerintah mesti mewaspadai potensi inefisiensi dan penggelembungan anggaran. “Itu memang bagus apabila pemerintah mengeluarkan inisiatif untuk memperbesar penyaluran anggaran. Namun, bukan berarti tanpa risiko,”katanya.
Anggota Komisi XI DPR Rama Pratama mengatakan, injeksi likuiditas sebesar Rp120 triliun dalam perekonomian itu tidak akan cukup untuk menjadi stimulus. Terlebih langkah itu tanpa perencanaan khusus. “Sekadar dana tidak dapat menyelesaikan masalah, karena yang penting adalah apakah dana tersebut mampu menjadi stimulus yang efektif bagi perekonomian,” katanya. (zaenal muttaqin/ muhammad ma’ruf)
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/190672/38/
-
Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.
"Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan," kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).
Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarana.
"Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya, seperti dikutip Republika Online. (nu/zayn)
http://www.pstalmizan.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=7%3Akhabar&id=326%3Apendidikan-islam-mengarah-pada-program-kewirausahaan-&Itemid=14
- JAKARTA--Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Kepada Republika, Rabu (9/12), Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), Surya Dharma Ali, arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan. "Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan," kata Mohammad Ali.
Upaya mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan, menurut dia, diperlukan kualifikai madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan.
Menag sekarang, tutur Ali, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Ia menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya. "Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya.
Program yang telah dirancang Direktorat Pendidikan Islam, yakni kewirausahawan (entrepreneurship). Disebutkan, program ini akan membuat siswa memiliki kemampuan hidup (life skill) dalam bidang apa pun. Artinya, waktu libur dimanfaatkan untuk berkarya wira usaha.
Menurut Ali, hal ini akan diujicobakan pada madrasah di daerah yang ada industrinya, baik kecil maupun menengah. Siswa diajak magang di industri tersebut. Selain itu, siswa juga dimotivasi untuk bergerak di bidang agribisnis, peternakan, border, dan sebagainya.
Depag akan menyediakan sarana dan mendatangkan tenaga pelatih yang berpengalaman untuk mendampingi siswa dalam mewujudkan program kewirausahawan ini. "Sebagai contoh, ada pesantren di Pengalengan, Jawa Barat, yang telah berhasil di bidang agribisnis," jelasnya.
Untuk itu, ke depan lulusan madrasah telah memiliki life skill, maka dapat bersaing dan berdaya guna di masyarakat, tidak lagi menjadi penganggur pendidikan, yang harus melamar pekerjaan. "Artinya, jangan sampai lulusan madrasah atau pesantren menunggu kerja, apalagi menjadi pembantu rumah tangga di negara orang lain," tandasnya. mur/taq. http://www.cybermq.com/berita/detail/business/2413/pendidikan-islam-dan-kewirausahaan.htm
Pendidikan Islam Mengarah pada Program Kewirausahaan
• Wednesday, December 9, 2009, 15:21
• Pendidikan
• 12 views
• Add a comment
UmmatOnline.Net – Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.
“Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan,” kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).
Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya.
“Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja,” ujarnya (rep/nu)
- 2009, Pengangguran Indonesia Meningkat Pesat
Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Latif Adam, angka pengangguran di Indonesia diperkirakan akan naik sebesar 9 persen di tahun 2009 dari tahun lalu, sekitar 8.5 persen. Menurutnya, kenaikan junlah pengangguran ini lebih disebabkan menurunnya penyerapan tenaga kerja dalam bidang industri, yang mencapai 36.6 persen pada kuartal kedua di tahun 2008 ini.
Banyak bidang yang mengalami penurunan, termasuk bidang ekonomi yang emnunjukkan semakin melemahnya performa sector tradable (pertanian dan industri). Selain itu, penurunan kemajuan pertanian dan peternakan yang turun masing-masing 5 persen dan 3 persen, juga sector pertambangan dan industri pengolahan.Menurut Latif, masih terdapat juga 12 persen hingga 14 persen angka kemiskinan yang menanti di tahun 2009, sementara penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran sepertinya hampir tidak ada.
Latif menambahkan mengenai masalah pengangguran ini diharpakan menjadi perhatian semua pihak, karena pertumbuhan non-tradable yang maju pesat, sementara sector tradable semakin melemah. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak industri yang berkompeten untuk mendorong terbukanya kesempatan kerja dalam bidang industri. Hal ini sekligus, dipercaya Latif, dapat mengurangi dominasi dari sector non-tradable yang telah menyerap sekitar 70% tenaga kerja produktif.
Menurut data statistic periode Februari 2007 hingga Februari 2008, sector non-tradable yang dominan dalam penyerapan tenaga kerja baru adalah bidang perdagangan dan kemasyarakatan, yang masing-masing meraup sekitar 1,25 juta orang dan 1,82 juta orang, sehingga totalnya mencapai lebih dari 3 juta orang. Sedangkan jumlah tenaga kerja baru yang diserap dalam sector tradable hanya sebesar 430 ribu orang. Latif menilai dari hasil di atas, bahwa telah terjadi proses informalisasi atau dominasi dari sector non-tradable dalam perekonomian Indonesia, dan inilah tanda bahwa perekonomian Indonesia mungkin perlu adanya perbaikan. http://forum.cekinfo.com/showthread.php?t=1440
Gangguan terhadap stabilitas kondisi makro dan perlambatan laju ekonomi nasional akan memicu lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan.
Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran dan kemiskinan pada 2009 akan mencapai 9,5% dan 16,3%. Ekonom Indef M Ikhsan Modjo menuturkan, angka tersebut jauh di atas target pemerintah,yaitu tingkat pengangguran dan kemiskinan masingmasing 7–8% dan 12,5%.
Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran dan kemiskinan masing-masing 5,1% dan 8,2%. ”Lonjakan angka kemiskinan dan pengangguran bermula dari hantaman krisis global terhadap kegiatan ekonomi domestik,” ujar Modjo dalam paparan bertajuk ”Krisis Finansial, Kontestasi Politik, dan Prospek Ekonomi 2009”di Jakarta kemarin.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, per Februari 2008 tingkat pengangguran terbuka mencapai 8,46%,atau 9,43 juta orang. Angka itu turun 1,29% (1,12 juta orang ) dibanding Februari 2007, 9,75% (10,55 juta orang). Ikhsan Modjo menjelaskan,jumlah pengangguran berpotensi meningkat lantaran krisis saat ini berbeda dengan tahun 1997-1998.
Sekarang ini krisis menghantam tidak hanya sektor padat modal, melainkan juga padat karya. Indikasinya, krisis tidak hanya memukul sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradable) seperti perbankan dan keuangan. Tetapi juga memukul sektor tradable seperti manufaktur, maupun tekstil dan produk tekstil (TPT).
Dampak krisis terutama dirasakan oleh sektor tradable yang berorientasi ekspor. Kondisi ini semakin parah lantaran fleksibilitas pasar tenaga kerja dalam mengatasi gangguan juga semakin diragukan. Akibatnya, banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor, tidak memperpanjang kontrak pekerja.
”Selain pengurangan jumlah pekerja,juga akan terjadi penyempitan penyediaan lapangan kerja baru pada sektor-sektor formal,”paparnya. Lonjakan jumlah pengangguran akan mendorong pembengkakan angka kemiskinan nasional. Ikhsan memprediksi angka kemiskinan tahun depan melebar paling tidak 0,6% dari jumlah masyarakat miskin saat ini.
Berbagai langkah antisipatif pemerintah, seperti tecermin pada tiga kluster yang mencakup jaminan perlindungan sosial,pemberdayaan masyarakat, dan kredit usaha rakyat, sulit menahan dampak pelemahan ekonomi. Karena itu, diperlukan satu kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh dan bisa dilakukan dalam jangka panjang.
Di tempat terpisah, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah tengah mempersiapkan dua mekanisme untuk mengatasi lonjakan pengangguran dan kemiskinan pada tahun depan. Pertama, mengalokasikan dana stimulus pada proyekproyek infrastruktur.
Mekanisme ini diharapkan bisa meminimalkan jumlah pengangguran. “Ini untuk mencegah terjadinya angka pengangguran lebih besar,” ujarnya. Kedua, pelebaran skema dan fungsi jaring pengaman sosial. Mekanisme ini lebih ditujukan untuk menekan terjadinya pembengkakan jumlah masyarakat miskin. Pemerintah kemungkinan akan melebarkan fungsi dana bantuan langsung tunai (BLT).
“Sebetulnya untuk memperkuat daya beli dan mengurangi kemiskinan itu yang lebih tepat BLT. Tapi kondisi politik tidak memungkinkan,” paparnya. Bantuan kemungkinan tidak akan dilakukan melalui pemberian dana tunai langsung, melainkan berupa bahan-bahan makanan pokok. Kebijakan semacam ini juga dilakukan negaranegara lain.
Dorong Belanja
Kalangan dunia usaha mendesak pemerintah lebih ekspansif dalam mendorong belanja. Hal itu diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,demi mencegah lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan. “Pemerintah harus terus ekspansif dengan mendorong perbankan berani memberikan kredit kepada masyarakat yang daya belinya semakin rendah,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa.
Erwin mengatakan, kebijakanpemerintahmenurunkan harga premium pada awal Desember mendatang tidak akan terlalu menolong daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah mesti mempercepat realisasi belanja, terutama infrastruktur. ”Kebijakan ini akan lebih berdampak pada upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan,”katanya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chris Kanter berpandangan, pemerintah bisa menjaga momentum pertumbuhan dengan meningkatkan belanja dan menjamin penyerapan maksimal sejak awal 2009. Prioritas utama yakni dengan mempercepat penyelesaian infrastruktur.
”Ini akan menghasilkan efek berganda yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat,”ujarnya. Di bagian lain, Dosen Fakultas Ekonomi UI Ninasapti Triaswati mengatakan,upaya mempercepat belanja dengan menggelontorkan dana Rp120 triliun dalam jangka waktu sebulan bisa mendorong perekonomian.
Kendati begitu, pemerintah mesti mewaspadai potensi inefisiensi dan penggelembungan anggaran. “Itu memang bagus apabila pemerintah mengeluarkan inisiatif untuk memperbesar penyaluran anggaran. Namun, bukan berarti tanpa risiko,”katanya.
Anggota Komisi XI DPR Rama Pratama mengatakan, injeksi likuiditas sebesar Rp120 triliun dalam perekonomian itu tidak akan cukup untuk menjadi stimulus. Terlebih langkah itu tanpa perencanaan khusus. “Sekadar dana tidak dapat menyelesaikan masalah, karena yang penting adalah apakah dana tersebut mampu menjadi stimulus yang efektif bagi perekonomian,” katanya. (zaenal muttaqin/ muhammad ma’ruf)
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/190672/38/
-
Sabtu, 06 Februari 2010
Hakekat pengetahuan edisi revisi
MAKALAH
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080 062
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin : G 000 0
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa Islam lewat Al-Quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk Tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. (Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 114) Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan, dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran Islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, Kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang. (Ibid. Hal. 120)
A. HAKEKAT PENGETAHUAN
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.(Ibid. Hal.144)
Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu (al-Quran dan Al-Hadits) yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. (Ziaudian Sardar, Dimensi Ilmiah al-‘ilm”, dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 25) Dua komponen ini menunjukkan, bahwa al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat dibanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justeru berasal langsung dari yang Maha Berilmu, Tuhan. Yang secara ideologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya. (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105)
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya setiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal. (Ibid. Hal. 121)
B. KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag….. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tidak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istimewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun. Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
C. HAKEKAT ILMU PENGETAHUAN (http://omarkasule.tripod.com. )
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqiin, tadzkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, syakk, dhann, dan ghalabat al-dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqiin, ‘ayn al yaqiin, dan haqq al yaqiin. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, dan taqwa. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata (hujjiyat al burhan). Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan qalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relative (nisbiyat al haqiqat). Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
D. SUMBER ILMU (Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag. )
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tanda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat al-kawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bahwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang.
E. SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta para sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham). (Ibid. Hal 158)
KESIMPULAN
Dalam Islam umatnya diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan sehingga dengan ilmu itu membuat manusia lebih bisa untuk mengenal Allah. Dengan ilmu itu pula manusia akan lebih bisa meraih kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti. Hal ini berbeda dengan orang-orang Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan untuk meraih kebahagiaan di dunia saja. Dalam Islam ilmu pengetahuan itu tidak terbebas dari nilai-nilai, ini juga yang membedakan antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai alias tidak terikat oleh nilai apapun. Dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan manusia di beri oleh Allah akal. Inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan, antara manusia dengan malaikat dan antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Akan tetapi dalam Islam akal itu tidak bisa berjalan sendiri, karena akal manusia itu walau bagaimanapun hebatnya tentu memiliki kelemahan juga. Oleh karena itu akal manusia harus tunduk dibawah koridor sumber ilmu yang mutlak yaitu Allah yang tercantum dalam wahyu baik yang terdapat dalam al-Quran maupun dalam al-Hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Mohd Nor Wan Daud, Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk.. Bandung: Mizan
Sardar, Ziaudian. Dimensi Ilmiah Al-‘Ilm”, 2000. dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Qomar,. Mujamil, Prof. Dr.,M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga
Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag.
http://omarkasule.tripod.com.
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080 062
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin : G 000 0
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa Islam lewat Al-Quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk Tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. (Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 114) Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan, dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran Islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, Kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang. (Ibid. Hal. 120)
A. HAKEKAT PENGETAHUAN
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.(Ibid. Hal.144)
Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu (al-Quran dan Al-Hadits) yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. (Ziaudian Sardar, Dimensi Ilmiah al-‘ilm”, dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 25) Dua komponen ini menunjukkan, bahwa al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat dibanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justeru berasal langsung dari yang Maha Berilmu, Tuhan. Yang secara ideologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya. (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105)
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya setiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal. (Ibid. Hal. 121)
B. KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag….. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tidak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istimewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun. Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
C. HAKEKAT ILMU PENGETAHUAN (http://omarkasule.tripod.com. )
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqiin, tadzkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, syakk, dhann, dan ghalabat al-dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqiin, ‘ayn al yaqiin, dan haqq al yaqiin. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, dan taqwa. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata (hujjiyat al burhan). Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan qalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relative (nisbiyat al haqiqat). Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
D. SUMBER ILMU (Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag. )
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tanda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat al-kawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bahwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang.
E. SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta para sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham). (Ibid. Hal 158)
KESIMPULAN
Dalam Islam umatnya diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan sehingga dengan ilmu itu membuat manusia lebih bisa untuk mengenal Allah. Dengan ilmu itu pula manusia akan lebih bisa meraih kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti. Hal ini berbeda dengan orang-orang Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan untuk meraih kebahagiaan di dunia saja. Dalam Islam ilmu pengetahuan itu tidak terbebas dari nilai-nilai, ini juga yang membedakan antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai alias tidak terikat oleh nilai apapun. Dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan manusia di beri oleh Allah akal. Inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan, antara manusia dengan malaikat dan antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Akan tetapi dalam Islam akal itu tidak bisa berjalan sendiri, karena akal manusia itu walau bagaimanapun hebatnya tentu memiliki kelemahan juga. Oleh karena itu akal manusia harus tunduk dibawah koridor sumber ilmu yang mutlak yaitu Allah yang tercantum dalam wahyu baik yang terdapat dalam al-Quran maupun dalam al-Hadits.
DAFTAR PUSTAKA
Mohd Nor Wan Daud, Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk.. Bandung: Mizan
Sardar, Ziaudian. Dimensi Ilmiah Al-‘Ilm”, 2000. dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Qomar,. Mujamil, Prof. Dr.,M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga
Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag.
http://omarkasule.tripod.com.
Hakekat Pengetahuan umum
Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wayhu (al-Quran dan Al-Hadits) yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sesitematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.(Ziaudian Sardar, Dimensi Ilmiah al-‘ilm”, dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 25) Dua komponen ini menunjukkan, bahwa al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat disbanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justeru berasak kangsung dari yang Maha Berilmu, Tuhan. Yang secara ideologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya. (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105)
KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tedak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istemewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu dating memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penakaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
Hakikat Ilmu Pengetahuan (EPISTEMOLOGI ISLAM DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PADA UNIVERSITAS ISLAM: Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum.Dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan hari Jum’at, tanggal 30 Januari 2009, di Kampus Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palembang oleh Professor Dr. Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard, DrPH(Harvard) Professor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang).)
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan ghalabat al dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen, dan haqq al yaqeen. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat al haqiqat. Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tedak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istemewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu dating memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penakaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun.
Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.
Hakikat Ilmu Pengetahuan (EPISTEMOLOGI ISLAM DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN PADA UNIVERSITAS ISLAM: Epistemologi Islam dan Proyek Reformasi Kurikulum.Dipresentasikan pada seminar yang diselenggarakan hari Jum’at, tanggal 30 Januari 2009, di Kampus Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palembang oleh Professor Dr. Omar Hasan Kasule Sr. MB ChB (MUK), (MPH) Harvard, DrPH(Harvard) Professor Epidemiologi dan Kedokteran Islam Universitas Brunei Darussalam dan Profesor Tamu Epidemiologi Universitas Malaya. EM omarkasule@yahoo.com WEB: http://omarkasule.tripod.com. (Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Ummi Ashim Azzahra dan Anisa Eka Trihastuti, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang).)
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqeen, tadhkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, shakk, dhann, dan ghalabat al dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqeen, ‘ayn al yaqeen, dan haqq al yaqeen. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, and taqwah. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata, hujjiyat al burhan. Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan kalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relatif, nisbiyat al haqiqat. Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.
Tujuan Pendidikan
TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islam yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat berpengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya.
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menciptakan para “mujtahid” baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu.
FORMULASI TUJUAN PNDIDIKAN ISLAM
Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari idealitas penyusunnya, baik institusional maupun individual. Oleh karena itu, nilai-nilai apakah yang dicita-citakan oleh penyusun dari tujuan itu akan mewarnai corak kepribadian manusia hasil proses kependidikan.
Dari berbagai Negara atau lembaga, kita dapat memperoleh tujuan yang berbeda-beda substansi nilainya. Sebagai contoh dapat kita ketengahkan sebagai berikut :
Indonesia sebagai Negara yang berfalsafah Pancasila menetapkan tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yamg dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dalam rumusan tersebut nampak jelas bahwa nilai-nilai yang hendak dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik adalah nilai-nilai kultural bangsa Indonesia yang bercorak sosiolistis-religious, yaitu semangat kegotong-royongan yang dijiwai oleh nilai keagamaan. Dalam hal ini tidak mengkhususkan nilai agama tertentu. Sedangkan faktor-faktor kognitif, efektif dan psikomotorik yang dilandasi dengan moralitas yang tinggi menjadi potensi fundamental bagi perkembangannya dalam hidup bernegara dan berbangsa yang bertanggung jawab.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islam yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Dan sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat berpengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memberikan kelenturan (fleksibilitas) perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya.
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami. Juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam beriman, bertaqwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman. Dengan kata lain, pendidikan Islam harus mampu menciptakan para “mujtahid” baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu.
FORMULASI TUJUAN PNDIDIKAN ISLAM
Rumusan tujuan pendidikan merupakan pencerminan dari idealitas penyusunnya, baik institusional maupun individual. Oleh karena itu, nilai-nilai apakah yang dicita-citakan oleh penyusun dari tujuan itu akan mewarnai corak kepribadian manusia hasil proses kependidikan.
Dari berbagai Negara atau lembaga, kita dapat memperoleh tujuan yang berbeda-beda substansi nilainya. Sebagai contoh dapat kita ketengahkan sebagai berikut :
Indonesia sebagai Negara yang berfalsafah Pancasila menetapkan tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yamg dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Dalam rumusan tersebut nampak jelas bahwa nilai-nilai yang hendak dikembang-tumbuhkan dalam pribadi anak didik adalah nilai-nilai kultural bangsa Indonesia yang bercorak sosiolistis-religious, yaitu semangat kegotong-royongan yang dijiwai oleh nilai keagamaan. Dalam hal ini tidak mengkhususkan nilai agama tertentu. Sedangkan faktor-faktor kognitif, efektif dan psikomotorik yang dilandasi dengan moralitas yang tinggi menjadi potensi fundamental bagi perkembangannya dalam hidup bernegara dan berbangsa yang bertanggung jawab.
Hakekat Pengetahuan
MAKALAH
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Disusun Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin :
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa islam lewat Al-quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan,dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya seiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal.
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.
SUMBER ILMU
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: Instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tnda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat alkawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bhwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang. Kemudian, secara teknis nilai-nilai itu dapat di uraikan dalam lima nilai utama, yaitu:
Pertama, nilai rahmah (kerahmatan), yakni ilmu itu hendaknya ditujukan kepada kepentingan dan kemashlahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. (Qs Al-Anbiya: 107).
Kedua, nilai amanah, yaitu ilmu itu adalah amanat Allah bagi manusia, karena pemilik hakiki khazanah ilmu adalah Allah. Untuk itu penerapan dan pengembangannya harus dilakukan dengan niat, cara dan tujuan sebagaiman yang dikehendaki oleh Allah. (QS Al-Ahzab: 72).
Ketiga, nilai dakwah, yakni penerapan dan pengembangan ilmu merupakan wujud dialog dakwah dalam menyampaikan kebenaran. (QS Fushilat: 33)
Keempat, nilai tabsyir, yakni penerapan dan pengembangan ilmu harus memberikan harapan baik bagi umay manusia tentang masa depan merekatermasuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangannya. (QS Al-Baqaah: 119).
Kelima, nilai ibadah, bagi manusia, penerapan dan pengembangan ilmu merupakan ibadah dan harus ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Adz-Dzariyat: 56, dan Ali ‘Imran 190-191).
SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta paa sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham).
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag
Disusun Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin :
FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009
PENDAHULUAN
Ada dua semangat kembar yang dibawa islam lewat Al-quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan,dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang.
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya seiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal.
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.
SUMBER ILMU
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: Instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tnda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat alkawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
•
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bhwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang. Kemudian, secara teknis nilai-nilai itu dapat di uraikan dalam lima nilai utama, yaitu:
Pertama, nilai rahmah (kerahmatan), yakni ilmu itu hendaknya ditujukan kepada kepentingan dan kemashlahatan seluruh umat manusia dan alam semesta. (Qs Al-Anbiya: 107).
Kedua, nilai amanah, yaitu ilmu itu adalah amanat Allah bagi manusia, karena pemilik hakiki khazanah ilmu adalah Allah. Untuk itu penerapan dan pengembangannya harus dilakukan dengan niat, cara dan tujuan sebagaiman yang dikehendaki oleh Allah. (QS Al-Ahzab: 72).
Ketiga, nilai dakwah, yakni penerapan dan pengembangan ilmu merupakan wujud dialog dakwah dalam menyampaikan kebenaran. (QS Fushilat: 33)
Keempat, nilai tabsyir, yakni penerapan dan pengembangan ilmu harus memberikan harapan baik bagi umay manusia tentang masa depan merekatermasuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangannya. (QS Al-Baqaah: 119).
Kelima, nilai ibadah, bagi manusia, penerapan dan pengembangan ilmu merupakan ibadah dan harus ditujukan untuk pengabdian kepada Allah. (QS Adz-Dzariyat: 56, dan Ali ‘Imran 190-191).
SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta paa sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham).
Langganan:
Postingan (Atom)