Jumat, 19 Februari 2010

Kompas.com

Menanamkan Kembali Paham Agama Dalam Muhammadiyah Senin, 18 Desember 06 - by : pdmbontang

oleh: Dr.H. Haedar Nashir

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam (da’wah ila al-Khair), menyuruh pada yang ma’ruf (al-amr bi al-ma’ruf), dan mencegah dari yang munkar (al-nahy ‘an al-munkar) {QS. Ali Imran/3: 104}, sehingga hidup manusia selamat, bahagia, dan sejahtera di dunia dan akhirat. Karena itu seluruh warga, pimpinan, hingga berbagai komponen yang terdapat dalam Muhammadiyah, termasuk amal usaha dan orang-orang yang berada di dalamnya, haruslah memahami Muhammadiyah serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata.

Dalam memahami hakikat Muhammadiyah, karena Persyarikatan ini merupakan gerakan Islam sebagaimana disebutkan di atas, maka merupakan kewajiban bagi seluruh warga dan pimpinan serta segenap pengelola dan pelaksana di lingkungan struktur Persyarikatan termasuk di amal usahanya, untuk memahami Islam sebagaimana paham agama dalam Muhammadiyah. Tuntutan seperti ini bukan bermazhab dan taklid, tetapi sebagai bentuk ‘ittiba sekaligus keniscayaan menyetujui asas dan tujuan Muhammadiyah, sebagaimana lazimnya siapapun yang berada dalam rumah Muhammadiyah. Dan dalam beragama sebagaimana paham Muhammadiyah, haruslah benar dan lurus, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Al-Rum: 30)”.

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut:

1. Agama, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. ialah apa yang diturunkan Allah dalam Al-Quran dan yang disebut dalam Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang al-Din).
2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad S.A.W., sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan ukhrawi (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah/MKCHM butir ke-2).
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan (a) Al-Quran: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W.; (b) Sunnah Rasul: penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al-Quran yang diberikan oleh Nabi Muhammad S.A.W.; dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam (MKCH butir ke-3).
4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: (a) ‘Aqidah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam; (b) Akhlaq; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia; (c) ‘Ibadah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ‘ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah S.A.W. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia; (d) Mu’amalah dunyawiyat; Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalah dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ‘ibadah kepada Allah S.W.T. (MKCH, butir ke-4).
5. Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata karena Allah, agama semua Nabi, agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah dan agama yang sempurna. Dengan beragama Islam maka setiap muslim memiliki dasar/landasan hidup tauhid kepada Allah, fungsi/peran dalam kehidupan berupa ibadah, menjalankan kekhalifahan, dan bertujuan untuk meraih ridha serta karunia Allah SWT. Islam yang mulia dan utama itu akan menjadi kenyataan dalam kehidupan di dunia apabila benar-benar diimani, dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh seluruh pemeluknya (orang Islam, umat Islam) secara total atau kaffah dan penuh ketundukan atau penyerahan diri. Dengan pengamalan Islam yang sepenuh hati dan sungguh-sungguh itu, maka terbentuk manusia muslimin yang memiliki sifat-sifat utama: kepribadian muslim, kepribadian mukmin, kepribadian muhsin dalam arti berakhlak mulia, dan kepribadian muttaqin (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah/PHIWM, bab Pandangan Islam Tentang Kehidupan).
6. Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tak bersangkutan dengan ‘ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dalam Al-Quran dan Sunnah shahihah, maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istimbath dari nash yang ada melalui persamaan ‘illat, sebagaimana telah dilakukan oleh ‘ulama salaf dan Khalaf (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang Qiyas). Prinsip-prinsip pemahaman agama dalam Muhammadiyah tersistematisasi dalam Manhaj Tarjih, bukan pemahaman orang-perorang. Sedangkan pengembangan tajdid diperlukan untuk kemajuan hidup dalam satu kesatuan antara tarjih dan pemikiran Islam atau antara pemurnian dan dinamisasi sebagaimana prinsip pemahaman Islam dalam Muhammadiyah.
7. Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung dua pengertian, yakni pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi) (Keputusan Munas Tarjih di Malang). Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, bersumber pada Al-Quran dan Sunnah (AD Muhammadiyah, 2005). Salah satu dari enam prioritas program Muhammadiyah periode 2005-2010 ialah pengembangan tajdid di bidang tarjih dan pemikiran Islam secara intensif dengan menguatkan kembali rumusan-rumusan teologis seperti tauhid sosial, serta gagasan operasional seperti dakwah jamaah, dengan tetap memperhatikan prinsip dasar organisasi dan nilai Islam yang hidup dan menggerakkan (Keputusan Muktamar ke-45 di Malang tahun 2005).

Mengingat kecenderungan atau gejala melemahnya dan dangkalnya pemahaman mengenai Islam dalam Muhammadiyah, pada saat yang terdapat fenomena orang Muhammadiyah mengembangkan paham sendiri-sendiri atau malah mengikuti paham lain, maka diperlukan ikhtiar sistematis untuk menanamkan atau memantapkan kembali paham Agama (Islam) dalam Muhammadiyah. Di antara langkah-langkah untuk menanamkan (memantapkan) kembali paham Islam dalam Muhammadiyah ialah sebagai berikut:

1. Majelis Tarjih memproduksi/menghasilkan berbagai pedoman/tuntunan tentang ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan baik yang menyangkut aqidah, ibadah, akhlak, maupun mu’amalat duniawiyah secara lengkap, mudah dipahami, dan bervariasi untuk dijadikan pedoman dan dimasyarakatkan/dipublikasikan sesuai dengan keputusan-keputusan Muktamar/Munas Tarjih. Ini diperlukan agar pedoman/tuntunan yang dikembangkan bukan karya pribadi-pribadi di lingkungan Muhammadiyah, kendati merujuk pada Hasil Keputusan Tarjih. Karya pribadi dapat dijadikan bahan pelengkap atau bacaan untuk memperkaya, sedangkan rujukan utama tetaplah hasil Tarjih Muhammadiyah. Hasil Tarjih bahkan dapat diberi cover khusus untuk kalangan umum, sehingga paham Islam yang dikembangkan Muhammadiyah juga menyebar di lingkungan umat Islam/masyarakat luas.
2. Pimpinan Persyarikatan diikuti oleh Organisasi Otonom, amal usaha, dan berbagai institusi dalam Muhammadiyah di berbagai tingkatan dari Pusat hingga Ranting menggiatkan kembali Kajian Intensif Islam dalam Muhammadiyah, serta menyelenggarakan Pengajian Pimpinan dan Pengajian Anggota, yang di dalamnya dipaketkan materi khusus secara mendalam dan leluasa tentang Paham Agama (Islam) dalam Muhammadiyah. Khusus di lingkungan amal usaha Muhammadiyah (sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lain-lain) pengajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus menjadi kegiatan penting dan pokok, selain lainnya, sehingga seluruh karyawan, dosen/guru/dokter, pimpinan, pengelola, dan segenap personil amal usaha Muhammadiyah benar-benar memahami dan dapat mengamalkan Islam serta misi Muhammadiyah secara tepat, benar, mendalam, dan lengkap. Kegiatan seperti ini jangan dianggap sebagai membebani, tetapi justeru dipandang penting sebagai landasan yang kokoh bagaimana beragama sesuai paham Muhammadiyah. Di sini Majelis Tarjih dan Majelis Pendidikan Kader dapat berkiprah sebagai penyelenggara.
3. Menggiatkan pengajian-pengajian umum yang membahas tentang Islam multiaspek dalam Muhammadiyah baik secara rutin maupun dengan memanfaatkn momentum-momentum tertentu. Kegiatan ini diselenggarakan dalam berbagai model kegiatan yang spesifik, termauk di masjid-masjid/mushala-mushala dan berbagai lingkungan/media lainnya. Majelis Tabligh dapat menjalankan fungsi ini berdasarkan tuntutnan-tuntunan yang dibuat Majelis Tarjih.
4. Menyebarluaskan paham agama (Islam) dalam Muhammadiyah ke berbagai lingkungan serta media publik, termasuk melalui website, internet, dakwah seluler, dan sebagainya sehingga paham Islam yang dikembangkan Muhammadiyah dapat dibaca, dipahami, dan diamalkan oleh umat Islam dan masyarakat luas.
5. Menghidupkan kembali kultum/pengajian singkat di berbagai kegiatan, yang antara lain menjelaskan tentang berbagai aspek ajaran Islam yang dipahami dan dipraktikan Muhammadiyah, sehingga bukan sekadar membahas masalah-masalah organisasi belaka, kendati tetap penting.

Hal yang penting yang perlu menjadi pemahaman bersama bahwa paham Islam dalam Muhammadiyah bersifat komprehensif dan luas, sehingga tidak sempit dan parsial. Agama dalam pandangan atau paham Muhammadiyah tidaklah sepotong-sepotong, serpihan-serpihan, dan hanya hukum/fikih belaka. Paham agama yang ditamankan bukan ajaran yang terbatas, tetapi luas dan mulsiaspek. Karena Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, maka paham tentang Islam merupakan kewajiban atau keniscayaan yang fundamental, yang initinya pada memperdalam sekaligus memperluas paham Islam bagi seluruh warga Muhammadiyah, kemudian menyebarkan/mensosialisasikan dan mengamalkan dalam kehidupan umat serta masyarakat sehingga Islam yang didakwahkan Muhammadiyah membawa/menjadi rahmatan lil-‘alamin.

Kamis, 18 Februari 2010

Pendidikan Islam Mengarah pada Program Kewirausahaan

Jakarta, BulZan
Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.

"Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan," kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).

Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.

Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarana.

"Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya, seperti dikutip Republika Online. (nu/zayn)
http://www.pstalmizan.org/index.php?option=com_content&view=article&catid=7%3Akhabar&id=326%3Apendidikan-islam-mengarah-pada-program-kewirausahaan-&Itemid=14

- JAKARTA--Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Kepada Republika, Rabu (9/12), Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), Surya Dharma Ali, arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan. "Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan," kata Mohammad Ali.
Upaya mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan, menurut dia, diperlukan kualifikai madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan.
Menag sekarang, tutur Ali, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Ia menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya. "Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja," ujarnya.
Program yang telah dirancang Direktorat Pendidikan Islam, yakni kewirausahawan (entrepreneurship). Disebutkan, program ini akan membuat siswa memiliki kemampuan hidup (life skill) dalam bidang apa pun. Artinya, waktu libur dimanfaatkan untuk berkarya wira usaha.
Menurut Ali, hal ini akan diujicobakan pada madrasah di daerah yang ada industrinya, baik kecil maupun menengah. Siswa diajak magang di industri tersebut. Selain itu, siswa juga dimotivasi untuk bergerak di bidang agribisnis, peternakan, border, dan sebagainya.
Depag akan menyediakan sarana dan mendatangkan tenaga pelatih yang berpengalaman untuk mendampingi siswa dalam mewujudkan program kewirausahawan ini. "Sebagai contoh, ada pesantren di Pengalengan, Jawa Barat, yang telah berhasil di bidang agribisnis," jelasnya.
Untuk itu, ke depan lulusan madrasah telah memiliki life skill, maka dapat bersaing dan berdaya guna di masyarakat, tidak lagi menjadi penganggur pendidikan, yang harus melamar pekerjaan. "Artinya, jangan sampai lulusan madrasah atau pesantren menunggu kerja, apalagi menjadi pembantu rumah tangga di negara orang lain," tandasnya. mur/taq. http://www.cybermq.com/berita/detail/business/2413/pendidikan-islam-dan-kewirausahaan.htm
Pendidikan Islam Mengarah pada Program Kewirausahaan
• Wednesday, December 9, 2009, 15:21
• Pendidikan
• 12 views
• Add a comment
UmmatOnline.Net – Program percepatan pendidikan agama dan keagamaan yang sedang dijalankan Departemen Agama (Depag) saat ini, mengarah pada program kemandirian atau kewirausahaan. Lulusan madrasah, diharapkan mampu menolong dirinya sendiri apalagi membantu membuka lapangan kerja baru di masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis), Mohammad Ali, mengatakan dalam program 100 hari Menteri Agama (Menag), arah pendidikan agama dan keagamaan mengacu program kewirausahaan.
“Kita harus mempercepat kualitas pendidikan agama dan keagamaan. Caranya melalui peningkatan kualifikasi madrasah dengan merancang program peningkatan mutu pendidikan mulai dari tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah, hingga lima tahun ke depan,” kata Mohammad Ali di Jakarta, Rabu (9/12).
Lebih lanjut, Muhammad Ali menuturkan, Menag sekarang, akan memanfaatkan pengalamannya sebagai menteri Koperasi dan UKM pada kabinet sebelumnya, untuk diterapkan dalam pengelolaan pendidikan Islam. Diharapkan, bekal pengalaman menteri dapat mensinergikan dengan pendidikan Islam di sejumlah madrasah.
Muhammad Ali menyebutkan ada empat sasaran yang menjadi perhatian Depag dalam mewujudkan percepatan pendidikan Islam mengarah kemandirian. Yakni, madrasah, tenaga pengajar, siswa, dan sarana/prasarananya.
“Intinya, bagaimana lulusan madarasah termasuk juga pesantren tidak jadi penganggur pendidikan atau menunggu kerja,” ujarnya (rep/nu)
- 2009, Pengangguran Indonesia Meningkat Pesat


Menurut peneliti dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Latif Adam, angka pengangguran di Indonesia diperkirakan akan naik sebesar 9 persen di tahun 2009 dari tahun lalu, sekitar 8.5 persen. Menurutnya, kenaikan junlah pengangguran ini lebih disebabkan menurunnya penyerapan tenaga kerja dalam bidang industri, yang mencapai 36.6 persen pada kuartal kedua di tahun 2008 ini.

Banyak bidang yang mengalami penurunan, termasuk bidang ekonomi yang emnunjukkan semakin melemahnya performa sector tradable (pertanian dan industri). Selain itu, penurunan kemajuan pertanian dan peternakan yang turun masing-masing 5 persen dan 3 persen, juga sector pertambangan dan industri pengolahan.Menurut Latif, masih terdapat juga 12 persen hingga 14 persen angka kemiskinan yang menanti di tahun 2009, sementara penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran sepertinya hampir tidak ada.

Latif menambahkan mengenai masalah pengangguran ini diharpakan menjadi perhatian semua pihak, karena pertumbuhan non-tradable yang maju pesat, sementara sector tradable semakin melemah. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan pihak-pihak industri yang berkompeten untuk mendorong terbukanya kesempatan kerja dalam bidang industri. Hal ini sekligus, dipercaya Latif, dapat mengurangi dominasi dari sector non-tradable yang telah menyerap sekitar 70% tenaga kerja produktif.

Menurut data statistic periode Februari 2007 hingga Februari 2008, sector non-tradable yang dominan dalam penyerapan tenaga kerja baru adalah bidang perdagangan dan kemasyarakatan, yang masing-masing meraup sekitar 1,25 juta orang dan 1,82 juta orang, sehingga totalnya mencapai lebih dari 3 juta orang. Sedangkan jumlah tenaga kerja baru yang diserap dalam sector tradable hanya sebesar 430 ribu orang. Latif menilai dari hasil di atas, bahwa telah terjadi proses informalisasi atau dominasi dari sector non-tradable dalam perekonomian Indonesia, dan inilah tanda bahwa perekonomian Indonesia mungkin perlu adanya perbaikan. http://forum.cekinfo.com/showthread.php?t=1440
Gangguan terhadap stabilitas kondisi makro dan perlambatan laju ekonomi nasional akan memicu lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan.
Berdasar proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran dan kemiskinan pada 2009 akan mencapai 9,5% dan 16,3%. Ekonom Indef M Ikhsan Modjo menuturkan, angka tersebut jauh di atas target pemerintah,yaitu tingkat pengangguran dan kemiskinan masingmasing 7–8% dan 12,5%.

Proyeksi itu juga jauh di atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004–2009 dengan target angka pengangguran dan kemiskinan masing-masing 5,1% dan 8,2%. ”Lonjakan angka kemiskinan dan pengangguran bermula dari hantaman krisis global terhadap kegiatan ekonomi domestik,” ujar Modjo dalam paparan bertajuk ”Krisis Finansial, Kontestasi Politik, dan Prospek Ekonomi 2009”di Jakarta kemarin.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, per Februari 2008 tingkat pengangguran terbuka mencapai 8,46%,atau 9,43 juta orang. Angka itu turun 1,29% (1,12 juta orang ) dibanding Februari 2007, 9,75% (10,55 juta orang). Ikhsan Modjo menjelaskan,jumlah pengangguran berpotensi meningkat lantaran krisis saat ini berbeda dengan tahun 1997-1998.
Sekarang ini krisis menghantam tidak hanya sektor padat modal, melainkan juga padat karya. Indikasinya, krisis tidak hanya memukul sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradable) seperti perbankan dan keuangan. Tetapi juga memukul sektor tradable seperti manufaktur, maupun tekstil dan produk tekstil (TPT).
Dampak krisis terutama dirasakan oleh sektor tradable yang berorientasi ekspor. Kondisi ini semakin parah lantaran fleksibilitas pasar tenaga kerja dalam mengatasi gangguan juga semakin diragukan. Akibatnya, banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor, tidak memperpanjang kontrak pekerja.
”Selain pengurangan jumlah pekerja,juga akan terjadi penyempitan penyediaan lapangan kerja baru pada sektor-sektor formal,”paparnya. Lonjakan jumlah pengangguran akan mendorong pembengkakan angka kemiskinan nasional. Ikhsan memprediksi angka kemiskinan tahun depan melebar paling tidak 0,6% dari jumlah masyarakat miskin saat ini.
Berbagai langkah antisipatif pemerintah, seperti tecermin pada tiga kluster yang mencakup jaminan perlindungan sosial,pemberdayaan masyarakat, dan kredit usaha rakyat, sulit menahan dampak pelemahan ekonomi. Karena itu, diperlukan satu kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh dan bisa dilakukan dalam jangka panjang.
Di tempat terpisah, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, pemerintah tengah mempersiapkan dua mekanisme untuk mengatasi lonjakan pengangguran dan kemiskinan pada tahun depan. Pertama, mengalokasikan dana stimulus pada proyekproyek infrastruktur.
Mekanisme ini diharapkan bisa meminimalkan jumlah pengangguran. “Ini untuk mencegah terjadinya angka pengangguran lebih besar,” ujarnya. Kedua, pelebaran skema dan fungsi jaring pengaman sosial. Mekanisme ini lebih ditujukan untuk menekan terjadinya pembengkakan jumlah masyarakat miskin. Pemerintah kemungkinan akan melebarkan fungsi dana bantuan langsung tunai (BLT).
“Sebetulnya untuk memperkuat daya beli dan mengurangi kemiskinan itu yang lebih tepat BLT. Tapi kondisi politik tidak memungkinkan,” paparnya. Bantuan kemungkinan tidak akan dilakukan melalui pemberian dana tunai langsung, melainkan berupa bahan-bahan makanan pokok. Kebijakan semacam ini juga dilakukan negaranegara lain.
Dorong Belanja
Kalangan dunia usaha mendesak pemerintah lebih ekspansif dalam mendorong belanja. Hal itu diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,demi mencegah lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan. “Pemerintah harus terus ekspansif dengan mendorong perbankan berani memberikan kredit kepada masyarakat yang daya belinya semakin rendah,” kata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa.
Erwin mengatakan, kebijakanpemerintahmenurunkan harga premium pada awal Desember mendatang tidak akan terlalu menolong daya beli masyarakat. Karena itu, pemerintah mesti mempercepat realisasi belanja, terutama infrastruktur. ”Kebijakan ini akan lebih berdampak pada upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan,”katanya.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chris Kanter berpandangan, pemerintah bisa menjaga momentum pertumbuhan dengan meningkatkan belanja dan menjamin penyerapan maksimal sejak awal 2009. Prioritas utama yakni dengan mempercepat penyelesaian infrastruktur.
”Ini akan menghasilkan efek berganda yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat,”ujarnya. Di bagian lain, Dosen Fakultas Ekonomi UI Ninasapti Triaswati mengatakan,upaya mempercepat belanja dengan menggelontorkan dana Rp120 triliun dalam jangka waktu sebulan bisa mendorong perekonomian.
Kendati begitu, pemerintah mesti mewaspadai potensi inefisiensi dan penggelembungan anggaran. “Itu memang bagus apabila pemerintah mengeluarkan inisiatif untuk memperbesar penyaluran anggaran. Namun, bukan berarti tanpa risiko,”katanya.
Anggota Komisi XI DPR Rama Pratama mengatakan, injeksi likuiditas sebesar Rp120 triliun dalam perekonomian itu tidak akan cukup untuk menjadi stimulus. Terlebih langkah itu tanpa perencanaan khusus. “Sekadar dana tidak dapat menyelesaikan masalah, karena yang penting adalah apakah dana tersebut mampu menjadi stimulus yang efektif bagi perekonomian,” katanya. (zaenal muttaqin/ muhammad ma’ruf)
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/190672/38/
-

Undangan Silaturrahmi

PIMPINAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

No : 03/ A9/ IX/ 2010 Sukoharjo, 21 Februari 2010
Lamp : -
Hal : Undangan


Kepada : Immawan ………………………
Di
Tempat

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam sumber segala ilmu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, rasul yang membawa risalah penyempurna.

Diharapkan kehadiran IMMawan sekalian pada :
Hari/ Tanggal : Senin, 22 Februari 2010
Tempat : Ruang Sidang
Acara : Silaturrahmi
Waktu : Pkl 18.00 WIB

Perhatian dan partisipasi IMMawan semua merupakan kunci sukses acara ini.
Billahi fisabilil haq Fastabiqul khairat
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Ketum IMM Kompon HNS-UMS




IMMawan Edi Rukman Sekum IMM Kompon HNS-UMS




IMMawan Yahya







PIMPINAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
KOMISARIAT PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

No : 03/ A9/ IX/ 2010 Sukoharjo, 21 Februari 2010
Lamp : -
Hal : Undangan

Kepada : Immawan ………………………
Di
Tempat

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam sumber segala ilmu. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, rasul yang membawa risalah penyempurna.

Diharapkan kehadiran IMMawan sekalian pada :
Hari/ Tanggal : Senin, 22 Februari 2010
Tempat : Ruang Sidang
Acara : Silaturrahmi
Waktu : Pkl 18.00 WIB

Perhatian dan partisipasi IMMawan semua merupakan kunci sukses acara ini.
Billahi fisabilil haq Fastabiqul khairat
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Ketum IMM Kompon HNS-UMS




IMMawan Edi Rukman
Sekum IMM Kompon HNS-UMS




IMMawan Yahya

Permohonan Inventaris IMM

PIMPINAN KOMISARIAT
IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH(IMM) KOMISARIAT PONDOK HAJJAH NURIYAH SHABRAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Sekretariat: Kompleks Asrama Putra Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS

Nomor : 02/C-6/XI/2010 Surakarta, 3 Rabiul Awal 1431 H
Lamp : - 17 Februari 2010 M
Hal : Permohonan Pengadaan Inventaris

Kepada : Yth. Kabag Mawa UMS
Di Tempat
Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji Alloh robb yang tiada sekutu bagiNya. Dialah yang telah memberikan taufik dan hidayah kepada hambaNya yang beriman. Sholawat dan salam tercurah pada nabi Muhammad SAW, keluarga dan para pengikutnya.
Dalam rangka untuk meningkatkan kinerja pimpinan IMM Komisariat Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS maka diperlukan fasilitas yang memadai guna mendukung tujuan di atas. Oleh karena itu kami memohon untuk diadakan peremajaan fasilitas terlampir.
Demikian surat permohonan ini kami buat berikut lampiran dan data terakhir kondisi fisik fasilitas-fasilitas yang dimaksud. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih


Billahi Fii Sabillilhaq Fastabiqul Khairat.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Ketua Umum


IMMawan Edi Rukman
Sekretaris Umum


IMMawan Yahya

Mengetahui,
Direktur Pondok Hajjah Nuriyah Shabran


Drs. Imron Rosyadi, M.Ag.




Lampiran 1
PERMOHONAN BARANG INVENTARIS
No Nama Item Spesifikasi Satuan Harga
1 Printer Canon PIXMA iP1980 1 unit Rp 615.000
2 Bola Lampu Philips 24 watt 5 buah @ Rp 35.000
Jumlah Rp 790.000



Lampiran 2
KONDISI BARANG INVENTARIS
No Nama Item Jumlah Kondisi
1 Mesin Cetak (Printer) 0 -
2 Bola Lampu 0 -

Sabtu, 06 Februari 2010

DVD laskar pelangi

DVD laskar pelangi

Hakekat pengetahuan edisi revisi

MAKALAH
HAKEKAT PENGETAHUAN
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. MA Fattah Santoso M.Ag













Oleh:
Muhammad Hailan : G 000 080 062
Muchlis : G 000 080 067
Prabowo Hari Muttaqin : G 000 0


FAKULTAS AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
2009

PENDAHULUAN

Ada dua semangat kembar yang dibawa Islam lewat Al-Quran surat Al-Alaq: 1-5, sebagai wahyu yang pertama turun kepada Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, yaitu semangat tauhid dan semangat keilmuan. Semangat tauhid ditunjukkan oleh penampakkan asma Allah yang harus menjadi titik tolak semua perbuatan manusia serta ditunjukkan oleh penyadaran bahwa manusia adalah makhluk Tuhan- yang diciptakan dari al-‘alaq. Sementara itu, semangat keilmuan ditampakkan pada penyadaran etis bahwa Allah, selain sebagai pencipta, juga Maha Pemurah dan Pengasih yang memberikan ilmu lewat goresan al-qalam (hamparan alam semesta) dan lewat firman (wahyu).
Bagi Al-Attas, Ilmu dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang sangat prinsipil. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pencapaian tujuan-tujuan sosial-ekonomi, tetapi secara khusus juga berperan dalam mencapai tujuan-tujuan spiritual manusia. Hal ini tidak berarti bahwa aspek-aspek sosial-ekonomi dan politik tidak penting, tetapi kedudukannya lebih rendah dan lebih difungsikan sebagai pendukung aspek-aspek spiritual. Konsekuensinya, kita perlu mendefinisikan ilmu dalam kaitannya dengan realitas spiritual manusia. (Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk. 2003. Bandung: Mizan. Hal. 114) Penekanan yang diberikan Al-Attas terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dalam usaha memenuhi kebutuhan spiritual dan meraih kebahagiaan, dan bukan sekedar sebagai komoditi sosial-ekonomi, diilhami secara langsung oleh ajaran Islam dan tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Dia menjelaskan bahwa kebahagiaan menurut Islam bukanlah sekedar konsep, tujuan sementara, Kesenangan fisik yang temporer ataupun dalam keadaan mental dan pikiran. Lebih dari itu kebahagiaan menurut Islam adalah kualitas spiritual yang permanen, yang secara sadar bisa dialami dalam kehidupan sekarang dan akan datang. (Ibid. Hal. 120)



A. HAKEKAT PENGETAHUAN
Secara linguistik, perkataan ‘ilm berasal dari kata ‘ain-lam-mim yang diambil dari perkataan ‘alaamah¸yaitu “tanda, petunjuk, atau indikasi yang dengannya sesuatu atau seseorang dikenal; kognisi atau label; ciri-ciri; indikasi; tanda-tanda”.(Ibid. Hal.144)
Istilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu (al-Quran dan Al-Hadits) yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid; semuanya menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas –bagian yang sangat bermanfaat untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. (Ziaudian Sardar, Dimensi Ilmiah al-‘ilm”, dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal. 25) Dua komponen ini menunjukkan, bahwa al-‘ilm memiliki akar sandaran yang lebih kuat dibanding sains dalam versi Barat. Akar sandaran al-‘ilm justeru berasal langsung dari yang Maha Berilmu, Tuhan. Yang secara ideologis diyakini sebagai Sang Penguasa segala-galanya. (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 105)
Adanya kemungkinan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan diwajibkannya setiap individu Muslim untuk mencari ilmu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Meskipun berbeda dari keutamaan amal, ilmu pengetahuan itu sendiri adalah dasar bagi semua keutamaan amal. (Ibid. Hal. 121)
B. KARAKTERISIK PENGETAHUAN DALAM ISLAM (Prof. Dr. Mujamil Qomar M.Ag….. Hal. 124-163)
1. Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dalam keimanan seseorang itu tersimpan kekuatan-kekuatan spiritual yang luar biasa besarnya. Seseorang bisa memiliki kesadaran yang tinggi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, bahkan penuh resiko, karena dorongan imannya. Keimanan ini tidak bisa dinilai dan diukur besar kecilnya, dan ia merupakan milik seseorang yang paling istimewa, sehingga diatas segala yang dimiliki manusia.
2. Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Hubungan antara wahyu dan akal tidak dapat dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh kerena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun melalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha bekerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu datang memberikan bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
3. Interpendensi Akal dan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya dibangun atas kerja sama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatsan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapi, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu. Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi, dan begitu pula sebaliknya intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan bantuan dari pihak lainnya untuk menyempurnakan pengetahuan yang dicapai masing-masing.
4. Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allah- dan ini adalah salah satu perbedaan yang mendasar antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat- maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Artinya, ilmu tersebut mengemban nilai-nilai ketuhanan, sebagai nilai yang memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi semua makhluk. Sebaliknya, ilmu tersebut tidak boleh menyimpang dari ajaran-ajaran Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagiaan hakiki.
5. Terikat Nilai
Ciri ini sangat membedakan dengan sains Barat, karena semangat tradisi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu syarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oleh fakta apapun. Dalam pandangan Islam ilmu harus didasarkan nilai dan harus memiliki fungsi dan tujuan. Dengan kata lain, pengetahuan bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi menyajikan jalan keselamatan, dam agaknya tidak seluruh pengetahuan melayani tujuan ini.
Dalam seminar di Stockholm pada tahun 1981 tentang “Pengetahuan dan Nilai”, diidentifikasi 10 konsep yang menggeneralisasikan nilai-nilai dasar kultur Islam: tauhid, khilafah, ibadah, ‘ilm, halal dan haram, ‘adl, zhulm, istishlah dan dhiya’.

C. HAKEKAT ILMU PENGETAHUAN (http://omarkasule.tripod.com. )
Istilah Al Qur’an untuk ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm, ma’arifat, hikmat, basiirat, ra’ay, dhann, yaqiin, tadzkirat, shu’ur, lubb, naba’, burhan, dirayat, haqq, dan tasawwur. Istilah untuk kekurangan ilmu pengetahuan adalah: jahl, raib, syakk, dhann, dan ghalabat al-dhann. Tingkatan ilmu pengetahuan adalah: ‘ilm al yaqiin, ‘ayn al yaqiin, dan haqq al yaqiin. Pengetahuan dihubungkan dengan iman, ‘aql, qalb, dan taqwa. Al Qur’an menegaskan dasar pengetahuan yang nyata (hujjiyat al burhan). Tempat ilmu pengetahuan adalah akal dan qalbu. Pengetahuan Allah adalah tidak terbatas, sedangkan pengetahuan manusia sangat terbatas. Setiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Pengetahuan adalah milik umum yang tidak bisa disembunyikan atau dimonopoli. Manusia, malaikat, jin dan makhluk hidup lainnya mempunyai jumlah pengetahuan yang bervariasi. Pengetahuan bisa menjadi abadi, contohnya ilmu yang diwahyukan. Jenis-jenis lain pengetahuan bersifat relative (nisbiyat al haqiqat). Hakikat yang mungkin dari ilmu pengetahuan muncul dari keterbatasan pengamatan manusia dan interpretasi dari fenomena fisik.

D. SUMBER ILMU (Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag. )
Allah sebagai pemilik khazanah pengetahuan dan ilmu dalam menganugerahkan kepada manusia, sebagai makhluk yang diamati, sebagai khalifah fi al-ardh melalui sarana dan sumber yang telah ditetapkannya. Manusia dituntut dan diberi kemampuan untuk memburu rahasia khazanah ilmu lewat sarana dan sumber tersebut.
Sarana yang diberikan Allah kepada manusia adalah: instink, indera, dan akal. Adapun sumber ilmu pengetahuan yang disediakan oleh Allah bagi manusia berupa tanda-tanda atau fenomena-fenomena atau yang dalam al-quran disebut dengan ayat. Apabila diklasifikasi ayat, fenomena atau tanda itu ada dua macam: (1) al-ayat al-qawliyyah, berupa wahyu Allah yang tersirat dalam Al-quran dan Sunnah: QS Ali ‘Imran : 164
                         
“Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Dan (2) al-ayat al-kawniyyah, berupa hamparan alam semesta dan diri manusia itu sendiri. QS Fushilat: 53
       •             
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”.
Kedua fenomena tersebut telah Allah berikan sejak penciptaan nabi Adam As.
Adapun cara memperoleh ilmu itu sendiri, Al-quran menyebutkan ada tiga macam. (1) melalui pengamatan, dan tingkat kebenarannya pada tingkat ‘ain al-yaqin (QS At-Takatsur: 7). (2) melalui nalar, dan tingkat kebenarannya pada taraf ‘ilm al-yaqin (QS At-Takatsur: 5). (3) melalui pengalaman batin (iman) dan tingkat kebenarannya pada tingkat haqq al-yaqin (QS Al-Haaqqah: 51). Cara pertama tergantung pada pengalaman aktual (observasi dan eksperimen), cara yang kedua bergantung pada kebenaran-kebenaran asumsi, adapun cara yang ketiga bersifat transendental, yang dalam literatur klasik disebut wijdan yang sangat bergantung kepada bimbingan Ilahiyah, dalam bentuk instink, intuisi, inspirasi dan wahyu., sehingga kebenarannya bersifat mutlak, dan karena itu ia berada pada taraf yang tertinggi haqq al-yaqin.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam aksiologi ilmu dalam Islam adalah nilai-nilai Ilahiyah, yang bersumber dari fenomena qawliyyah. Disinilah posisi sentral wahyu (ayat qawliyyah) dalam konsep ilmu dalam Islam. Bahwa disamping ia sebagai satu dari sumber pengetahuan juga sekaligus merupakan sumber landasan nilai etik bagi penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kalau dikaji secara mendalam ayat-ayat qawliyyah baik yang tersurat dalam al-Quran maupun as-Sunnah, nilai utama bagi penerapan dan pengembangan ilmu dalam Islam adalah tauhid. Bahkan penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus berlandaskan tauhid dan memperkokoh aqidah tauhid seseorang.

E. SALURAN-SALURAN PENGETAHUAN
Dengan mengikuti dan menggabungkan posisi para filosof dan para teolog Muslim serta para sufi, seperti Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Nasafi, al-Taftazani, dan Al-Raniri, Al-Attas membuktikan bahwasanya ilmu pengetahuan datang dengan berbagai saluran, yaitu melalui: (a) panca indera (al-hawass al-khamsah) terdiri dari sentuhan, penciuman, rasa, penglihatan dan pendengaran. (b) akal sehat (al-‘aql al-salim), (c) berita yang benar (al-khabar al-shadiq) yang berdimensi (1) otoritas mutlak, yakni otoritas Tuhan (Al-Quran) dan otoriras kenabian (As-Sunnah) dan (2) otoritas relatif seperti ijma’ para ulama, dan riwayat orang-orang yang amanat secara umum (at-tawatur), dan (d) intuisi (ilham). (Ibid. Hal 158)

KESIMPULAN

Dalam Islam umatnya diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan sehingga dengan ilmu itu membuat manusia lebih bisa untuk mengenal Allah. Dengan ilmu itu pula manusia akan lebih bisa meraih kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti. Hal ini berbeda dengan orang-orang Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan untuk meraih kebahagiaan di dunia saja. Dalam Islam ilmu pengetahuan itu tidak terbebas dari nilai-nilai, ini juga yang membedakan antara ilmu dalam Islam dengan sains Barat yang memandang bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai alias tidak terikat oleh nilai apapun. Dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan manusia di beri oleh Allah akal. Inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan, antara manusia dengan malaikat dan antara manusia dengan makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Akan tetapi dalam Islam akal itu tidak bisa berjalan sendiri, karena akal manusia itu walau bagaimanapun hebatnya tentu memiliki kelemahan juga. Oleh karena itu akal manusia harus tunduk dibawah koridor sumber ilmu yang mutlak yaitu Allah yang tercantum dalam wahyu baik yang terdapat dalam al-Quran maupun dalam al-Hadits.









DAFTAR PUSTAKA

Mohd Nor Wan Daud, Wan. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Terj. Hamid Fahmy dkk.. Bandung: Mizan
Sardar, Ziaudian. Dimensi Ilmiah Al-‘Ilm”, 2000. dalam Ziauddin Sardar (ed.) Merombak Pola Pikir Ilmuan Muslim. Terj. Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudyartanto.. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Qomar,. Mujamil, Prof. Dr.,M.Ag. 2007. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Ktirik. Jakarta: Penerbit Erlangga
Bahan Ajar Mata Kuliah Filsafat Ilmu di Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran. Oleh Dr. Syamsul Hidayat M.Ag.
http://omarkasule.tripod.com.